Springboks Unggul 2-1 atas All Blacks, Pelatih Akui Kemenangan Tipis
Baca dalam 60 detik
- Afrika Selatan menang 29-24 atas Selandia Baru dan memimpin seri 2-1, dengan pertandingan penentu di Baltimore pekan depan.
- Pelatih Rassie Erasmus menilai kemenangan ini tidak lepas dari faktor keberuntungan, mengingat tipisnya selisih skor dan ketatnya pertarungan di semua lini.
- Cheslin Kolbe dipastikan absen di laga pamungkas karena patah rahang, menjadi ujian kedalaman skuad Springboks di Amerika Serikat.

Afrika Selatan kembali menaklukkan Selandia Baru pada akhir pekan ini, menang 29-24 di Soccer City, Johannesburg, dan memimpin 2-1 dalam seri empat pertandingan yang dijuluki "Rugby's Greatest Rivalry". Namun, pelatih Springboks, Rassie Erasmus, menegaskan bahwa jarak antara dua tim teratas dunia itu masih sangat tipis, dan kemenangan kali ini tidak lepas dari faktor keberuntungan.
Kemenangan kedua beruntun atas All Blacks ini menegaskan dominasi Afrika Selatan di kandang, tetapi Erasmus mengingatkan bahwa seri belum selesai. Laga pamungkas akan digelar di Baltimore, Amerika Serikat, akhir pekan depan, dan Selandia Baru berpeluang menyamakan kedudukan. "Pertandingan ini epik, intens, dan pertarungan sengit di semua lini. Papan skor menunjukkan betapa ketatnya laga ini," ujar Erasmus dalam konferensi pers usai laga.
Kekuatan lini depan Springboks kembali menjadi pembeda, sebagaimana terjadi pada tes kedua di Cape Town pekan lalu. Namun, juara dunia itu lagi-lagi harus bersusah payah menghadapi permainan cepat dan lincah All Blacks. "Cara mereka memperlakukan bola sungguh brilian, dan mereka bermain sesuai kekuatan. Gaya seperti itu sulit dipertahankan. Kami gugup, dan saya yakin mereka juga," tambah Erasmus.
Erasmus mengakui bahwa kemenangan ini tidak membuat timnya merasa superior. "Kami tidak duduk di sini merasa hebat. Ada banyak keberuntungan yang berpihak pada kami," katanya. Pernyataan ini mencerminkan kerendahan hati sekaligus kewaspadaan menjelang laga penentu di Baltimore.
Kabar buruk bagi Springboks adalah cedera yang dialami Cheslin Kolbe. Pemain sayap cepat yang juga menjadi penendang utama itu mengalami patah rahang pada babak pertama dan dipastikan tidak akan memperkuat tim dalam lawatan ke Amerika Serikat. Kehilangan Kolbe menjadi pukulan telak, mengingat perannya yang krusial dalam serangan dan tendangan penalti.
Seri ini kerap digambarkan sebagai duel antara kekuatan fisik ala Bok melawan kecepatan dan kehalusan Selandia Baru. Namun, Erasmus membantah bahwa skrum menjadi area dominasi Afrika Selatan. "Saya tidak merasa kami dominan dalam skrum hari ini. Itu cukup berimbang dan bisa saja berbalik melawan kami," ujarnya. "Kami memang menyukai set-piece dan maul, tapi bukan berarti kami terobsesi dengan skrum. Ada momen di mana kami tertekan dan lega ketika bola keluar."
Bagi penggemar rugby di Indonesia, rivalitas Afrika Selatan dan Selandia Baru selalu menyuguhkan tontonan berkualitas tinggi. Kedua tim adalah penguasa peringkat dunia, dan pertemuan mereka kerap menjadi barometer kekuatan rugby global. Meski Indonesia bukan negara dengan tradisi rugby kuat, animo penonton terhadap ajang ini cukup besar, terutama melalui siaran langsung dan platform digital.
Pertandingan di Baltimore nanti akan menjadi ujian mental bagi kedua tim. Afrika Selatan butuh konsistensi untuk mengunci gelar juara seri, sementara Selandia Baru berjuang menghindari kekalahan ketiga beruntun. Dengan absennya Kolbe, Erasmus harus meracik strategi alternatif. Pertanyaannya, mampukah Springboks mempertahankan superioritas tanpa pemain kuncinya, atau justru All Blacks bangkit dan memaksa seri berakhir imbang?



