Gary Webster Akui Karakter di Film Horor 'Harbinger' Terinspirasi Gaya Presenter TV Inggris
Baca dalam 60 detik
- Aktor Gary Webster mengaku karakter Mike Craggs dalam film horor 'Harbinger' terinspirasi dari gaya presentasi Richard Madeley dan Ed Balls di acara Good Morning Britain.
- Film ini mengisahkan pembawa acara TV yang karirnya meredup, memanfaatkan kisah nyata seorang penyintas pembunuhan berantai demi merebut kembali popularitas, dengan konsekuensi mengerikan.
- Webster, yang biasanya memerankan penjahat atau polisi, menikmati tantangan memerankan karakter yang lebih kompleks dan tidak simpatik, dan film ini kini tersedia di platform streaming.

Gary Webster, aktor yang dikenal lewat serial 'Minder' dan 'EastEnders', mengaku karakter yang ia perankan dalam film horor terbaru 'Harbinger' merupakan perpaduan dari gaya dua presenter acara pagi ITV, Richard Madeley dan Ed Balls. Pengakuan ini muncul dalam wawancara eksklusif, mengungkapkan bahwa ia sengaja meniru sikap "self-serving" kedua pembawa acara tersebut untuk menghidupkan tokoh Mike Craggs.
Dalam film yang disutradarai oleh Andy Edwards ini, Webster berperan sebagai Mike Craggs, seorang bintang TV yang karirnya tengah meredup. Craggs meyakinkan Julia, seorang penyintas percobaan pembunuhan oleh pasangannya yang pemuja setan, untuk kembali ke rumah tempat kejadian mengerikan itu lima tahun silam. Niatnya sederhana: membuat acara TV yang bisa mengangkat kembali namanya. Namun, rencana tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka menemukan mesin peramal nasib bergaya karnaval yang ternyata menjadi tempat bersemayamnya roh si pembunuh.
Webster menjelaskan bahwa ia melihat karakter Craggs sebagai representasi dari "presenter tua yang mencoba memanfaatkan topik paling tren—dalam hal ini perburuan hantu—untuk mengembalikan karirnya." Ia menambahkan, "Ada kebutuhan putus asa untuk terlihat trendi dan mempromosikan diri, sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan canggung, yang pada dasarnya hanya untuk kepentingan karir mereka sendiri." Meski demikian, ia menegaskan bahwa Madeley dan Balls tidak seburuk Craggs, tetapi pola pikirnya serupa: mengutamakan ambisi pribadi di atas segalanya.
Menariknya, Webster mengaku bahwa karakter Craggs adalah sebuah tantangan baru. Selama ini ia lebih sering memerankan tokoh antagonis atau polisi. "Biasanya saya main penjahat atau polisi. Jadi, memerankan karakter yang tidak terlalu menyenangkan seperti Mike Craggs adalah kesenangan tersendiri," ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa keputusannya untuk bergabung dalam proyek ini hampir instan setelah merasakan atmosfer positif di lokasi syuting, terutama karena ia telah bekerja sama dengan rumah produksi Shogun dalam film sebelumnya, 'Doctor Plague'. "Di zaman sekarang, bisa merasa percaya dengan orang-orang yang kita ajak kerja itu penting," tambahnya.
Bagi penonton Indonesia, kisah ini mungkin terasa dekat dengan fenomena media lokal, di mana sejumlah pembawa acara atau kreator konten kerap memanfaatkan isu-isu sensasional—termasuk hal-hal berbau mistis—untuk mengejar rating dan popularitas. 'Harbinger' bisa menjadi cermin satire yang tajam tentang bagaimana industri hiburan kerap mengorbankan etika demi mengejar keuntungan, sebuah kritik yang relevan di tengah maraknya konten-konten 'ghost hunting' yang juga populer di berbagai platform digital Tanah Air.
Di sela kesibukannya, Webster juga tengah menggarap proyek ambisius berjudul 'All Hail Harry Lauder'. Film yang ia tulis dan produksi ini mengangkat kisah malam pembukaan paling gagal dalam sejarah teater, yaitu ketika Peter O'Toole membintangi 'Macbeth' di Old Vic pada 1980. Webster enggan membeberkan detail lebih lanjut, tetapi memastikan proyek tersebut berjalan lancar dan akan segera mengumumkan para pemainnya. "Saya tidak akan bermain di film itu. Saya menulis dan ikut memproduksinya," ungkapnya.
Dengan perilisan 'Harbinger' yang kini menjangkau penonton lebih luas, pertanyaan besarnya adalah: akankah kritik terselubung terhadap budaya televisi yang terkandung dalam film ini memantik diskusi di industri hiburan tanah air? Atau justru akan ditelan oleh selera pasar yang haus sensasi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, Webster telah memberikan satu lagi contoh bagaimana horor bisa menjadi medium refleksi sosial yang tajam.



