Nepal Berkabung Nasional: 1.399 Tewas, 5.500 Hilang Akibat Bencana Gletser, Pencarian Terus Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Nepal menetapkan hari berkabung nasional setelah runtuhnya gletser di perbatasan China-Nepal menewaskan sedikitnya 1.399 orang dan meninggalkan lebih dari 5.500 orang hilang.
- Tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga pekerja pembangkit listrik tenaga air dari dalam terowongan, memicu harapan bagi keluarga korban yang masih menunggu kabar.
- Bencana ini menyoroti kerentanan Nepal terhadap dampak perubahan iklim, dengan biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.

Kathmandu, 7 September 2026 — Nepal mengheningkan cipta dalam hari berkabung nasional pada Senin (7/9) sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi ribuan korban bencana gletser yang melanda kawasan perbatasan China-Nepal pada 26 Agustus lalu. Bendera setengah tiang berkibar di seluruh penjuru negeri, sementara ratusan warga menggelar doa bersama dengan lilin di ibu kota Kathmandu, menandai hari ke-13 pasca-bencana sesuai tradisi Hindu.
Bencana yang dipicu oleh runtuhnya gletser dan longsoran gunung tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.399 orang di Nepal, dengan lebih dari 5.500 orang masih dinyatakan hilang, termasuk sekitar 800 warga asing. Angka ini menjadikan peristiwa itu sebagai salah satu bencana alam terburuk dalam sejarah modern Nepal, menghancurkan seluruh komunitas, merobohkan rumah-rumah, dan memutus akses jalan di sejumlah distrik terdampak.
Di tengah duka yang mendalam, secercah harapan muncul ketika tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terjebak di dalam terowongan Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa. Dua warga Nepal ditemukan pada Jumat (4/9) dan seorang warga China pada Sabtu (5/9), memicu optimisme bahwa masih ada korban selamat yang menanti pertolongan di bawah reruntuhan.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, menegaskan bahwa operasi pencarian terus berjalan dengan intensitas yang sama untuk memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal. Namun, keluarga korban yang berkumpul di Kathmandu mendesak pemerintah untuk mempercepat upaya penyelamatan. “Kami memiliki banyak harapan,” ujar Reena Amatya Shrestha, yang kakaknya termasuk dalam daftar orang hilang. “Mereka bilang sedang melakukan penyelamatan. Kalau benar, mana hasilnya? Kami butuh hasil,” tambahnya dengan nada getir.
Operasi penyelamatan ini menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan bagi para ahli internasional. Arnold Dix, presiden International Tunnelling and Underground Space Association yang menjadi penasihat tim Nepal, menyebut situasi ini sebagai “sesuatu yang belum pernah saya hadapi sebelumnya.” Dalam unggahan di media sosial, ia menggambarkan kompleksitas misi yang melibatkan “bukan satu penyelamatan, tetapi banyak potensi penyelamatan yang terjadi bersamaan di berbagai lokasi, masing-masing dengan bahaya dan ketidakpastiannya sendiri.” Tim ahli dari China, India, dan Korea Selatan dikerahkan untuk memperkuat upaya pencarian.
Kondisi lapangan yang ekstrem menjadi ujian berat bagi para petugas. Adarsha Raj Bhusal, pilot drone berusia 24 tahun yang ikut serta dalam misi pencarian, menceritakan pengalamannya mendarat di area terdampak. “Begitu saya mendarat, saya langsung terperosok ke dalam lumpur hingga pinggang,” katanya kepada AFP di Distrik Nuwakot. “Tentara lain berusaha membantu, tetapi mereka juga kesulitan seperti saya. Kondisinya sangat buruk,” kenangnya, menggambarkan betapa sulitnya akses ke lokasi bencana.
Presiden Nepal Ram Chandra Paudel mengunjungi kamp-kamp pengungsian di Nuwakot dan menyampaikan belasungkawa kepada para korban yang kehilangan tempat tinggal. “Hari ini seluruh bangsa berduka atas bencana mengerikan ini,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Kepada semua yang menunggu kabar keluarga dan teman, saya ingin meyakinkan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan akan terus berlanjut.”
Dengan kamar mayat yang kewalahan, pihak berwenang terpaksa melakukan pemakaman massal setelah mengambil sampel DNA untuk identifikasi di kemudian hari. Meski suasana duka menyelimuti, kisah-kisah keajaiban tetap muncul. Chandika Shrestha, seorang perempuan berusia 64 tahun, ditemukan hidup di bawah tumpukan lumpur di rumahnya di Bidur pada Sabtu (5/9), padahal keluarganya telah menggelar upacara pemakaman simbolis karena mengira ia telah tiada. “Chandika mendapat kehidupan baru,” kata tetangganya, Buddhi Lal Dongol. “Alangkah baiknya jika orang-orang yang hilang juga bisa kembali.”
Para ahli memperkirakan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama yang mempercepat pencairan gletser di kawasan Himalaya, meningkatkan risiko bencana serupa di masa depan. Nepal, negara berpenduduk 30 juta jiwa yang kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca sangat kecil, kini harus menanggung beban rekonstruksi yang diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Ekonomi negara yang sudah tertekan akan semakin teruji, sementara momentum politik juga tengah memanas menjelang peringatan protes anti-korupsi tahun lalu yang menggulingkan pemerintahan.
Di tengah keterbatasan, solidaritas masyarakat Nepal patut diacungi jempol. Relawan di Kathmandu mengemas peralatan dapur, selimut, dan pakaian untuk didistribusikan kepada para penyintas. “Sebagai orang Nepal, kami selalu diajarkan untuk menjaga sesama,” ujar Ashim GC, seorang relawan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: akankah upaya penyelamatan yang ada mampu menjangkau ribuan korban yang belum ditemukan, dan bagaimana Nepal akan pulih dari bencana yang menuntut biaya dan sumber daya yang sangat besar?



