Cathay Pacific dan Google Perluas Uji Coba AI untuk Kurangi Jejak Iklim Kontrail Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Maskapai Hong Kong dan raksasa teknologi itu memperluas proyek percontohan yang memanfaatkan model prediktif untuk memandu pilot menghindari pembentukan kontrail.
- Uji coba tahap awal pada lebih dari 80 penerbangan menunjukkan penurunan dampak pemanasan kontrail hingga 40 persen.
- Ekspansi ini menjadikan Cathay sebagai mitra komersial pertama Google di Asia-Pasifik dan menguji teknologi tersebut pada rute ultra-jarak jauh.

Hong Kong, 7 September โ Cathay Pacific dan Google mengumumkan perluasan uji coba teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menekan dampak pemanasan global dari kontrail pesawat. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya industri penerbangan memangkas emisi, seiring tekanan terhadap sektor ini untuk berbenah semakin nyata.
Proyek yang dimulai pada akhir 2025 ini memanfaatkan perangkat peramalan AI besutan Google untuk memetakan wilayah yang berpotensi memunculkan kontrail, lalu membantu pilot mengubah ketinggian terbang secara taktis. Kontrailโgaris tipis putih yang tertinggal di belakang pesawatโterbentuk saat pesawat melintasi udara lembap dan dingin di ketinggian tertentu. Meski tampak sepele, jejak awan buatan ini justru berkontribusi signifikan terhadap pemanasan atmosfer.
Hasil awal dari pengujian pada lebih dari 80 penerbangan Cathay menunjukkan penurunan dampak pemanasan kontrail hingga sekitar 40 persen. Angka ini menjadi modal bagi fase kedua yang akan menjangkau jaringan rute Cathay di Asia dan lintas Pasifik. Maskapai ini juga menjadi yang pertama di dunia menguji penghindaran kontrail pada penerbangan ultra-jarak jauh, sekaligus mitra komersial pertama Google di kawasan Asia-Pasifik untuk teknologi serupa.
Menurut keterangan bersama kedua perusahaan, kontrail yang bertahan lama dapat menyumbang sekitar sepertiga dari total dampak iklim industri penerbangan. Angka itu jauh lebih besar dari sekadar emisi karbon dioksida yang selama ini menjadi sorotan utama. Karena itu, upaya menekan pembentukan kontrail dinilai sebagai salah satu celah efisiensi yang paling cepat memberikan hasil.
Michael Yue, Managing Director Google Hong Kong, menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan meneliti bagaimana AI prediktif dapat diintegrasikan dalam operasi penerbangan nyata untuk mengatasi dampak iklim dari kontrail, tanpa harus menunggu generasi pesawat atau bahan bakar baru. Sementara itu, Lawrence Fong, Direktur Digital dan IT Cathay, menyatakan bahwa industri penerbangan membutuhkan solusi konkret untuk perubahan iklim, dan AI dinilai mampu mempercepat laju kemajuan tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara dengan lalu lintas penerbangan domestik yang padat dan posisi strategis di jalur penerbangan internasional, adopsi teknologi serupa oleh maskapai nasional bisa menjadi langkah progresif. Namun, biaya implementasi dan kebutuhan data cuaca presisi menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan. Regulator seperti Kementerian Perhubungan dan maskapai pelat merah perlu mencermati hasil uji coba ini sebagai bahan kajian kebijakan.
Ke depan, keberhasilan fase kedua akan menentukan apakah teknologi ini layak diadopsi secara luas oleh industri. Pertanyaan yang menggantung: mampukah maskapai lain, termasuk di Asia Tenggara, mengikuti jejak Cathay tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar? Jawabannya mungkin akan menentukan arah baru dekarbonisasi penerbangan di kawasan ini.



