Tifo Ratko Mladic di Derby Belgrade: Ketegangan Sepak Bola dan Luka Sejarah yang Belum Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Derby Serbia diwarnai aksi kontroversial suporter Red Star yang menampilkan sosok terpidana genosida, memicu kecaman internasional.
- Klub telah berulang kali terkena sanksi UEFA, namun aksi serupa terus terulang, menunjukkan tantangan dalam menegakkan nilai-nilai olahraga.
- Insiden ini menjadi pengingat bahwa sepak bola sering menjadi panggung politik dan sejarah, dengan dampak yang melampaui lapangan hijau.

Dalam laga derbi melawan Partizan, suporter Red Star Belgrade kembali menggelar aksi kontroversial dengan menampilkan tifo bergambar Ratko Mladic, sosok yang telah divonis bersalah atas genosida dan kejahatan perang. Aksi ini tidak hanya mencoreng wajah sepak bola Serbia, tetapi juga membuka kembali luka lama konflik Balkan yang masih terasa hingga kini.
Mladic, yang dijuluki 'Tukang Jagal Bosnia', meninggal pada Agustus lalu di penjara PBB. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2017 atas perannya dalam pembantaian sistematis terhadap penduduk non-Serbia di Bosnia-Herzegovina selama perang 1992-1995. Di bawah komandonya, lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki tewas di Srebrenica, sementara pengepungan Sarajevo merenggut nyawa lebih dari 10.000 orang.
Red Star Belgrade sebenarnya sudah berulang kali terkena sanksi UEFA. Musim ini saja, klub telah didenda 90.000 euro (sekitar Rp1,5 miliar) setelah para penggemar menampilkan spanduk bertuliskan nama Mladic saat laga play-off Liga Europa melawan Viktoria Plzen. Namun, hukuman tersebut tampaknya tidak membuat jera. Akun media sosial Red Star bahkan mengunggah video tifo dan momen hening untuk Mladic dengan emoji hormat, sebuah tindakan yang langsung menuai kecaman, termasuk dari akun resmi tim nasional Bosnia-Herzegovina yang membalas dengan kata-kata kasar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di Serbia, sebagian masyarakat masih menganggap Mladic sebagai pahlawan, bukan penjahat perang. Ribuan orang menghadiri pemakaman dan memorial publiknya di Belgrade, sebuah fakta yang menegaskan betapa dalamnya perpecahan dan trauma yang ditinggalkan oleh perang Yugoslavia. Bagi banyak orang Bosnia, kehadiran tifo semacam itu adalah penghinaan terhadap para korban dan keluarga mereka yang masih berjuang mencari keadilan.
Insiden ini juga menyoroti dilema yang dihadapi UEFA dan badan sepak bola dunia. Sanksi finansial dan larangan stadion tampaknya tidak cukup untuk menghentikan aksi-aksi bernuansa politik dan kebencian. Pertanyaannya, apakah perlu hukuman yang lebih berat, seperti pengurangan poin atau larangan bermain di kompetisi Eropa? Beberapa analis menilai bahwa UEFA harus lebih tegas, karena sepak bola seharusnya menjadi alat pemersatu, bukan pemicu perpecahan.
Bagi Indonesia, konteks ini relevan mengingat sejarah kelam kita sendiri, seperti tragedi 1965 dan konflik di Papua, yang masih menyisakan luka dan sering kali muncul dalam simbol-simbol publik. Sepak bola di Indonesia juga tidak jarang menjadi ajang politik identitas, seperti terlihat dalam rivalitas antarsuporter yang kadang berujung pada kekerasan. Pelajaran dari Belgrade adalah bahwa tanpa rekonsiliasi yang tulus, masa lalu akan terus menghantui, dan olahragaโyang seharusnya menjadi ruang netralโjustru bisa menjadi panggung untuk mempertegas permusuhan.
Ke depan, akankah UEFA meningkatkan sanksi atau justru membiarkan aksi semacam ini terus terjadi? Sementara itu, bagi para korban dan keluarga mereka, setiap tifo yang muncul adalah pengingat bahwa keadilan dan pengakuan atas penderitaan mereka masih jauh dari selesai. Sepak bola Serbia, dan sepak bola dunia, harus bertanya pada diri sendiri: di mana garis antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap kemanusiaan?



