Banjir Nepal Tewaskan 1.300 Orang: Hari Berkabung Nasional, Keluarga Korban Protes Lambatnya Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Nepal menggelar hari berkabung nasional setelah banjir dahsyat 26 Agustus menewaskan lebih dari 1.300 jiwa di Nepal dan Tibet, dengan sekitar 5.000 orang masih hilang.
- Protes keluarga korban di Kathmandu menyoroti lambatnya upaya pencarian di proyek pembangkit listrik tenaga air, di mana ratusan pekerja diduga terjebak atau tersapu arus.
- Tim penyelamat internasional dari India, China, Korea Selatan, dan AS dikerahkan, namun tantangan medan dan logistik masih menjadi kendala utama dalam operasi kemanusiaan.

Nepal memasuki hari berkabung nasional pada Senin (7/9) untuk mengenang lebih dari 1.300 korban tewas akibat banjir dahsyat yang melanda negara Himalaya itu pada 26 Agustus lalu. Bendera setengah tiang berkibar di kantor-kantor pemerintahan, sementara keluarga korban menggelar ritual akhir masa berkabung yang berlangsung 13 hari sesuai tradisi Hindu.
Bencana yang dipicu hujan ekstrem ini tidak hanya meluluhlantakkan Nepal, tetapi juga wilayah Tibet di China. Data dari badan penanggulangan bencana Nepal mencatat sekitar 5.000 orang masih hilang, termasuk warga asing. Di Kathmandu, sejumlah keluarga yang kehilangan sanak saudara melakukan upacara kremasi simbolisโsebuah ritual penting dalam agama Hinduโmeski jasad belum ditemukan, untuk melepas kepergian secara spiritual.
Di tengah duka, kemarahan mulai bermunculan. Sejumlah kerabat korban berkumpul di dekat kantor perdana menteri dan kementerian terkait, menuntut percepatan operasi pencarian dan penyelamatan. Mereka menyoroti lambatnya respons pemerintah terhadap ratusan pekerja yang tersapu banjir atau tertimbun longsor di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Bhotekhoshi yang deras.
Sumana Shrestha, salah satu pengunjuk rasa, memegang poster foto suaminya yang berusia 55 tahun dan bekerja sebagai geolog konsultan di proyek PLTA Trishuli. Sejak hari pertama banjir, suaminya tidak pernah kembali ke rumah. "Kami di sini karena kami belum mendengar adanya upaya penyelamatan di proyek ini, padahal sudah 13 hari berlalu," ujarnya. "Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan dan berharap ada keajaiban."
Mahesh Prasad Shrestha, peserta protes lain, membawa foto kakaknya, Niraj Shrestha, seorang insinyur berusia 52 tahun yang bekerja di lokasi yang sama. Ia mengkritik otoritas yang baru mengirim ekskavator kecil dengan helikopter pada hari keenam atau ketujuh pascabencana. "Mereka seharusnya memesan helikopter besar dari China atau India untuk menerbangkan peralatan," katanya dengan nada kecewa.
Otoritas Nepal memusatkan upaya pencarian di 12 proyek PLTA, di mana sekitar 900 pekerja dilaporkan hilang dan 500 lainnya diduga terjebak di berbagai terowongan. Tim penyelamat khusus dari India, China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat telah dikerahkan untuk menyisir puing-puing, bangunan rusak, dan terowongan proyek. Meski demikian, hingga akhir pekan lalu baru dua pekerja Nepal yang berhasil dievakuasi dari salah satu PLTA, dan seorang warga China ditemukan pada Sabtu.
Bencana ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur energi di kawasan pegunungan yang rawan bencana. Nepal, yang bergantung pada PLTA untuk kebutuhan domestik dan ekspor listrik ke India, kini menghadapi pertanyaan besar tentang standar keselamatan proyek-proyeknya. Sementara itu, bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen risiko bencana di sektor infrastruktur, terutama di daerah rawan longsor dan banjir bandang seperti di Sumatera dan Sulawesi.
Ke depan, pemerintah Nepal dituntut tidak hanya mempercepat evakuasi, tetapi juga mengevaluasi ulang tata kelola proyek PLTA di lembah-lembah sungai yang berisiko tinggi. Pertanyaan yang menggantung: akankah tragedi ini mendorong reformasi keselamatan yang nyata, atau justru tenggelam dalam birokrasi yang lamban?



