Kontroversi VAR Belum Usai: Rekaman Baru Buktikan Handball Williams, tapi Perdebatan Aturan Terus Bergulir
Baca dalam 60 detik
- Rekaman kamera tambahan menunjukkan bola mengenai lengan Neco Williams sebelum golnya dianulir, memperkuat keputusan VAR.
- Meski bukti baru memvalidasi wasit, perdebatan soal standar 'clear and obvious' dan subjektivitas VAR tetap memanas.
- Kepala wasit Howard Webb berencana melobi perubahan aturan handball ofensif, yang bisa mengubah cara gol dianulir di masa depan.

Rekaman video baru yang dirilis menunjukkan bola mengenai lengan bek Nottingham Forest, Neco Williams, sebelum golnya dianulir dalam laga imbang 0-0 melawan Tottenham Hotspur. Insiden di menit ke-67 ini memicu perdebatan sengit tentang penggunaan VAR, meski bukti terbaru justru memperkuat keputusan wasit video.
Williams, yang sempat membantah keras telah menyentuh bola dengan tangan, kini terbukti salah. Dalam tayangan ulang dari sudut kamera yang sebelumnya tidak tersedia, terlihat bola mengenai lengan kiri lalu lengan kanan Williams sebelum masuk ke gawang. Namun, kamera tersebut bukan bagian dari siaran resmi pertandingan, sehingga tidak dapat diakses oleh Peter Bankes, wasit VAR yang mengambil keputusan krusial itu.
Keputusan Bankes untuk menganulir gol sempat menuai kritik tajam dari Williams dan manajer Forest, Oliver Glasner, yang mengaku tidak melihat bukti pelanggaran. Namun, rekaman baru ini menjadi pembenaran bagi Bankes yang selama dua hari terakhir menjadi sorotan media. Meski demikian, argumen tentang validitas intervensi VAR kemungkinan belum akan mereda, terutama di kalangan pendukung Forest yang merasa dirugikan.
Menariknya, kasus ini menyoroti kelemahan mendasar dalam sistem VAR yang mungkin tidak akan pernah terselesaikan: bahkan keputusan yang bersifat faktual, seperti handball sebelum gol, pada akhirnya tetap subjektif. Danny Murphy, mantan gelandang yang kini menjadi pengamat, menilai bahwa meskipun ada indikasi sentuhan, tingkat kejelasannya tidak cukup untuk menganulir gol. "Mungkin ada sedikit sentuhan di lengan atau lengan bawah. Tapi apakah itu jelas dan nyata? Tidak. Itulah jawabannya," ujarnya di Match of the Day.
Pro Ref, badan yang menaungi wasit profesional Inggris, dilaporkan merasa kesal dengan perkembangan cerita ini. Mereka menilai pernyataan Williams yang terlalu yakin tanpa bukti justru memperkeruh suasana. Williams sendiri, dalam wawancara dengan Sky Sports, bersikukuh bahwa ia tidak merasakan bola menyentuh lengannya. Namun, rekaman baru menunjukkan bahwa bola tidak mengenai kepalanya, seperti yang ia duga sebelumnya.
Perdebatan ini juga membuka kembali pertanyaan tentang interpretasi aturan 'clear and obvious error'. Banyak pihak, termasuk Glasner dan Williams, berpendapat bahwa VAR seharusnya tidak ikut campur jika tidak ada bukti yang jelas. Namun, perlu dipahami bahwa standar tersebut hanya berlaku untuk insiden subjektif yang membutuhkan tinjauan di monitor pinggir lapangan. Untuk pelanggaran faktual seperti handball sebelum gol, VAR memiliki kewenangan untuk menganulir berdasarkan bukti yang mereka miliki.
Kasus ini mengingatkan pada gol Benjamin Sesko untuk Manchester United melawan Liverpool musim lalu, di mana bola diduga menyentuh ujung jari pemain Slovenia tersebut. Saat itu, VAR Stuart Attwell memilih untuk mengesahkan gol karena tidak yakin dengan bukti yang ada. Howard Webb kemudian mengakui bahwa bola "mungkin mengenai tangan", tetapi VAR membutuhkan kepastian yang lebih kuat. Perbedaan keputusan antara Attwell dan Bankes menunjukkan bahwa penilaian subjektif tetap menjadi titik lemah dalam teknologi ini.
Webb, dalam briefing pramusim, telah menyatakan keinginannya untuk mengubah aturan handball ofensif. Menurutnya, aturan saat ini memaksa VAR untuk melakukan pemeriksaan forensik terhadap setiap gol, yang memperlambat permainan. "Masalahnya, aturan memaksa VAR untuk melihat bagian tubuh mana yang disentuh bola," kata Webb. "Jika kita hanya menghukum pemain yang sengaja menyentuh bola atau membuat tubuhnya tidak wajar, kita bisa mempercepat pemeriksaan." Pro Ref dan Premier League berencana untuk melobi perubahan ini.
Di Indonesia, perdebatan serupa tentang VAR juga relevan, terutama setelah teknologi ini mulai digunakan di Liga 1. Meskipun tujuannya untuk mengurangi kesalahan wasit, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa VAR tidak sepenuhnya menghilangkan subjektivitas. Justru, hal ini menegaskan pentingnya pelatihan wasit dan kejelasan aturan agar keputusan dapat diterima semua pihak. Jika perubahan aturan yang diusulkan Webb berhasil, bukan tidak mungkin liga-liga lain, termasuk Indonesia, akan mengadopsi standar serupa untuk mengurangi kontroversi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah perubahan aturan akan benar-benar mengakhiri perdebatan, atau justru memunculkan interpretasi baru yang sama kontroversialnya. Yang jelas, insiden Williams ini menjadi pengingat bahwa teknologi, sehebat apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan penilaian manusia yang terkadang berbeda pendapat. Mampukah para pemangku kepentingan sepak bola menemukan titik temu yang adil bagi semua?



