Dari Kuis TV hingga Liga Champions: Kisah Pelatih Sabah yang Menggetarkan Old Trafford
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Lituania, Valdas Dambrauskas, membawa Sabah FC menembus fase grup Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
- Perjalanan kariernya dimulai dari kemenangan di kuis televisi yang membiayai kepindahannya ke Inggris, lalu merangkak naik dari pekerjaan serabutan hingga lisensi kepelatihan UEFA.
- Kini, Sabah akan menghadapi raksasa Eropa seperti Manchester United, Barcelona, dan Dortmund, menguji ambisi klub kecil dari Azerbaijan di panggung terbesar.

Pada Kamis malam nanti, Valdas Dambrauskas akan melangkah keluar dari lorong pemain menuju lapangan Old Trafford, bukan sebagai penonton atau pengantar anak-anak, melainkan sebagai manajer Sabah FC di ajang Liga Champions. Dua dekade setelah memulai karier kepelatihannya di Manchester United Soccer Schools, pria 49 tahun asal Lituania ini akhirnya kembali ke tempat yang sama—kali ini dengan status yang jauh berbeda. "Ini di luar imajinasi saya," ujarnya kepada BBC Sport. "Saya sudah sering ke Old Trafford bersama anak-anak, dan sekarang saya datang sebagai pelatih."
Namun, perjalanan Dambrauskas tidak sesederhana itu. Sebelum gemerlap Liga Champions, ia harus menempuh jalan berliku yang dimulai dari sebuah kuis televisi populer di Lituania, "Who Wants to Be a Millionaire?" pada 2002. Kemenangannya saat itu—4.000 litas atau sekitar Rp14 juta—mungkin terdengar kecil, tetapi nilainya setara enam bulan gaji rata-rata warga Lituania kala itu. Uang tersebut ia gunakan untuk terbang ke London, membuka pintu menuju dunia kepelatihan yang selama ini ia impikan sejak usia 12 tahun, ketika ia sadar bahwa kariernya sebagai pemain tidak akan berjalan mulus.
Kepindahannya ke Inggris pada Agustus 2002 bukanlah keputusan mudah. Dengan visa pelajar dan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, Dambrauskas harus menjalani delapan tahun penuh perjuangan. Ia bekerja serabutan—mulai dari tukang kebun, pengantar koran, hingga mengilap lantai pub—sambil membesarkan dua anak. Di sela-sela kesibukan itu, ia tekun mengikuti berbagai kursus kepelatihan, termasuk di London Metropolitan University dan menjadi sukarelawan di proyek olahraga untuk anak-anak kurang mampu di Finsbury Park. Kerja kerasnya membuahkan hasil: ia menjadi orang Lituania pertama yang meraih lisensi kepelatihan UEFA melalui Asosiasi Sepak Bola London, dan pada 2004, Manchester United Soccer Schools memberinya kesempatan pertama di klub profesional.
Karier Dambrauskas kemudian melesat. Setelah menimba ilmu di Fulham dan Brentford, ia kembali ke Lituania dan menukangi Zalgiris Vilnius, klub terbesar di negara itu. Dalam tiga musim, ia mempersembahkan dua gelar liga, tiga piala domestik, dan dua piala super—termasuk treble pada 2016. Selanjutnya, ia menjelajah Eropa: menangani delapan klub dalam sembilan tahun di tujuh negara, dari Latvia, Kroasia, Bulgaria, hingga Yunani dan Siprus. Total 13 trofi telah ia kumpulkan dari lima negara berbeda, sebelum akhirnya tiba di Sabah pada musim panas 2025.
Di Sabah, Dambrauskas langsung menorehkan sejarah. Klub yang baru berdiri pada 2017 dan berbasis di Masazir, kota kecil berpenduduk 19.000 jiwa di utara Baku, berhasil meraih gelar ganda di musim pertamanya. Namun, pencapaian terbesar datang ketika Sabah lolos ke Liga Champions—sebuah mimpi yang nyaris mustahil bagi klub sekelas mereka. Dalam perjalanan dramatis melewati empat babak kualifikasi, Sabah menyingkirkan TNS, KuPS, Aarhus, dan Hapoel Beer-Sheva. Gol Tellur Mutallimov pada menit ke-90+4 di leg kedua play-off membawa laga ke perpanjangan waktu, dan Sabah menang 5-2 pada malam itu, agregat 6-4. "Kami tidak pernah lolos ke Liga Conference atau Liga Europa, bahkan tidak pernah melewati dua babak dalam satu kompetisi. Sekarang, tiba-tiba kami di sini," kata Dambrauskas, masih tak percaya.
Kisah Dambrauskas bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang tekad dan kerja keras yang melampaui batas. Ia mengaku bahwa kata "Inggris" baginya identik dengan "peluang". "Inggris memberi saya segalanya, dan saya akan selamanya berterima kasih," ujarnya. Pengalaman itu pula yang membentuk filosofinya sebagai pelatih. Presiden Sabah, Magsud Adigozalov, memuji pengaruh Dambrauskas yang melampaui taktik. "Ia menanamkan pola pikir dan mentalitas pemenang dalam tim. Bahkan di saat-saat tersulit, tim tidak pernah meninggalkan permainan atau semangat juangnya," kata Adigozalov kepada media lokal.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Dambrauskas menawarkan pelajaran berharga. Klub-klub Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sering kali kesulitan bersaing di level tertinggi Asia karena keterbatasan infrastruktur dan finansial. Namun, perjalanan Sabah membuktikan bahwa dengan manajemen yang tepat, perencanaan jangka panjang, dan pelatih yang visioner, klub kecil pun bisa menembus panggung elite Eropa. Ini menjadi cermin bagi klub-klub Indonesia yang berlaga di AFC Champions League atau AFC Cup: bahwa mimpi besar tidak mustahil, asalkan ada keberanian untuk mengambil risiko dan kerja keras tanpa henti.
Kini, Sabah menghadapi ujian terbesar: mereka akan menjamu Borussia Dortmund, Barcelona, dan Napoli di kandang, serta bertandang ke Villarreal dan dua raksasa Inggris—Manchester United dan Arsenal. Dambrauskas menyambut tantangan ini dengan antusiasme khasnya. "Anda bermimpi untuk bermain di kompetisi ini, melawan tim-tim seperti itu. Sekarang saatnya menunjukkan bahwa kami bisa bersaing," katanya. Dua puluh tahun lalu, ia berdiri di luar Old Trafford saat wawancara kerja, bermimpi suatu hari bisa duduk di bangku cadangan. Kini, mimpi itu menjadi nyata. Pertanyaannya, akankah kisah dongeng Sabah berlanjut? Ataukah ini hanya babak pertama dari sebuah perjalanan yang lebih panjang?



