Lift dan Eskalator 22 Halte Transjakarta Kembali Beroperasi Setelah Sempat Mati Akibat Abu Vulkanik
Baca dalam 60 detik
- Transjakarta mengaktifkan kembali seluruh lift dan eskalator di 22 halte pada Minggu malam setelah sempat dihentikan untuk mencegah kerusakan akibat abu vulkanik.
- Langkah ini memastikan aksesibilitas penumpang pulih total, sementara layanan bus tetap berjalan normal selama periode penutupan.
- Ke depan, Transjakarta diharapkan memperkuat protokol mitigasi bencana agar gangguan fasilitas serupa tidak berulang.

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memastikan lift dan eskalator di 22 halte kembali melayani penumpang mulai Minggu (6/9) malam, setelah sempat dihentikan sementara akibat hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, mengonfirmasi seluruh perangkat telah menyala kembali pada pukul 20.35 WIB.
Penghentian operasional fasilitas tersebut dilakukan sejak akhir pekan sebagai langkah antisipasi. Partikel abu vulkanik dinilai berisiko mengganggu sistem mekanikal dan modul sensor elektronik pada lift serta eskalator. Meski begitu, layanan bus Transjakarta tidak pernah berhenti beroperasi sepanjang periode penyesuaian tersebut.
Keputusan untuk menonaktifkan sementara fasilitas vertikal ini merupakan bagian dari protokol keselamatan yang lazim diterapkan operator transportasi saat terjadi bencana alam. Dalam kasus ini, abu vulkanik yang terbawa angin hingga ke Jakarta dapat menyebabkan korosi atau kerusakan pada komponen elektronik yang sensitif. Dengan demikian, langkah preventif tersebut dinilai lebih bijak dibandingkan risiko perbaikan yang lebih mahal di kemudian hari.
Daftar halte yang kembali mengoperasikan lift dan eskalator mencakup titik-titik strategis seperti Halte CSW, Cipulir, Stasiun Jatinegara, Matraman Baru, Cawang, Cikoko, dan Cawang Sentral. Selain itu, fasilitas di Halte Pancoran, Widyachandra, Velbak, Swadharma Paragoncorp, Semanggi, Dukuh Atas, Tosari, BHI Astra, Thamrin, Bendungan Hilir, Juanda, Jaga Jakarta, Kemayoran, Grogol, dan Grogol Reformasi juga telah aktif kembali.
Pemulihan fasilitas ini menjadi kabar baik bagi pengguna Transjakarta, terutama penyandang disabilitas, lansia, dan penumpang dengan barang bawaan berat. Keberadaan lift dan eskalator yang berfungsi optimal sangat krusial untuk menjamin aksesibilitas yang setara di ruang publik. Sebelumnya, penutupan sempat memicu keluhan dari sebagian penumpang yang kesulitan mengakses halte bertingkat.
Menanggapi hal tersebut, Ayu Wardhani menegaskan bahwa pengecekan menyeluruh telah dilakukan sebelum fasilitas dioperasikan kembali. "Semalam sudah selesai dilakukan pengecekan, dan sudah langsung dioperasikan lagi untuk kenyamanan pelanggan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (7/9). Pernyataan ini menunjukkan komitmen Transjakarta untuk memprioritaskan keselamatan tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan infrastruktur transportasi publik terhadap bencana alam. Jakarta, yang kerap terdampak polusi dan cuaca ekstrem, perlu memiliki sistem mitigasi yang lebih adaptif. Ke depan, Transjakarta dapat mempertimbangkan pemasangan pelindung khusus atau prosedur pembersihan yang lebih cepat untuk meminimalkan durasi penutupan fasilitas saat terjadi erupsi gunung berapi.
Dengan pulihnya seluruh fasilitas, Transjakarta diharapkan terus meningkatkan kualitas layanan dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. Pertanyaannya, apakah operator akan mengembangkan protokol yang lebih matang untuk menghadapi kejadian serupa di masa mendatang? Jawabannya akan menentukan sejauh mana kepercayaan publik terhadap ketahanan sistem transportasi ibu kota.



