Fiorentina Pecat Grosso Usai Tiga Kekalahan Beruntun, Paratici Ikut Disorot
Baca dalam 60 detik
- La Viola menelan tiga kekalahan beruntun di awal Serie A, memaksa manajemen mengambil keputusan radikal.
- Ketegangan antara pelatih dan direktur olahraga disebut menjadi pemicu di balik pemecatan dini tersebut.
- Kini Fiorentina harus segera mencari pengganti jelang laga tandang ke markas Venezia, Jumat pekan depan.

Fiorentina resmi memutus kontrak pelatih Fabio Grosso pada Minggu, menyusul rentetan tiga kekalahan beruntun di tiga pekan perdana Serie A. Keputusan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah tim kembali menelan pil pahit di hadapan pendukung sendiri, kala ditundukkan Torino dengan skor 1-2 di Stadio Artemio Franchi.
Kegagalan demi kegagalan memang sudah terlihat sejak awal musim. Pasukan ungu dibantai AS Roma 0-4 di pekan pembuka, lalu dipermalukan tim promosi Frosinone 0-3 di kandang, dan akhirnya takluk dari Torino. Satu-satunya secercah harapan hanyalah kemenangan 4-1 atas Benevento di ajang Coppa Italia, yang ternyata tak cukup untuk menyelamatkan kursi Grosso.
Yang menarik, kabar di ruang ganti menyebutkan adanya ketegangan yang kian memanas antara Grosso dan direktur olahraga Fabio Paratici. Meski manajemen belum memberikan pernyataan resmi, sejumlah media Italia meyakini konflik internal itulah yang mempercepat eksekusi. Paratici, yang baru bergabung pada musim panas, dikabarkan kerap berbeda pandangan dengan pelatih soal strategi rekrutan dan taktik permainan.
Grosso sejatinya baru ditunjuk pada bursa transfer musim panas lalu, setelah dua musim impresif menukangi Sassuolo. Ia bahkan mendapat dukungan penuh lewat belanja pemain yang cukup deras. Namun hasil di lapangan tak sejalan dengan ekspektasi manajemen yang mengincar tiket kompetisi Eropa musim depan.
Pemecatan ini sekaligus mengulang pola buruk yang sama seperti musim lalu. Kala itu, Stefano Pioli juga diangkat pada awal musim namun dipecat pada November 2025 setelah hanya bertahan 14 pertandingan kompetitif. Artinya, dalam dua musim beruntun, Fiorentina gagal membangun stabilitas di kursi pelatihโsebuah sinyal bahwa manajemen klub terlalu cepat kehilangan kesabaran.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan ini terbilang berisiko. Pasalnya, bursa transfer sudah ditutup dan mengganti pelatih di tengah musim kerap membutuhkan waktu adaptasi. Apalagi, calon pengganti yang beredar belum ada nama yang benar-benar meyakinkan. Beberapa media menyebut nama-nama seperti Vincenzo Italiano atau bahkan pelatih bebas transfer, namun belum ada konfirmasi resmi.
Di sisi lain, keputusan ini juga menjadi ujian besar bagi Paratici. Sebagai arsitek di balik layar, ia kini harus segera menemukan sosok yang mampu membangkitkan performa tim. Jika gagal, bukan tidak mungkin kritik akan ikut mengarah padanya, mengingat ia yang disebut-sebut menjadi dalang di balik pemecatan Grosso.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, kisah ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun tim. Klub-klub Eropa kerap kali mengambil keputusan instan, padahal hasil buruk di awal musim belum tentu mencerminkan kualitas pelatih secara keseluruhan. Di kompetisi domestik kita, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana pelatih dipecat hanya karena beberapa hasil minor.
Langkah berikutnya Fiorentina adalah mempersiapkan diri menghadapi Venezia pada Jumat pekan depan. Pertandingan itu akan menjadi ajang pembuktian bagi siapa pun yang nantinya ditunjuk sebagai pengganti. Pertanyaannya, mampukah manajemen Fiorentina keluar dari lingkaran setan ini, atau justru akan terjerembab lebih dalam ke papan bawah klasemen?



