Krisis Kebakaran Lahan Gambut di Kalimantan: Bom Karbon yang Mengancam Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran gambut di Kalimantan telah menghanguskan 200.000 hektare lahan dan memicu kabut asap lintas batas yang mencapai Singapura hingga Filipina.
- Lahan gambut sedalam 20 meter menyimpan karbon purba yang setara emisi ribuan kendaraan, dan kebakaran tahun ini berpotensi melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar.
- Para relawan Dayak dan Banjar berjuang memadamkan api di tengah keterbatasan air dan asap beracun, sementara akar masalahnya adalah drainase lahan untuk perkebunan sejak era Orde Baru.

Kalimantan kembali dilanda bencana kabut asap yang menerjang hingga ke negara tetangga, mempertegas kerentanan Indonesia terhadap krisis iklim yang dipicu oleh kebakaran lahan gambut. Ribuan titik api yang dipicu oleh fenomena El Nino yang kuat telah mengubah kawasan ini menjadi medan pertempuran bagi para relawan yang berusaha menjinakkan api bawah tanah yang sulit dipadamkan.
Sejak awal Juli, sekitar 200.000 hektare hutan dan lahan pertanian di Kalimantan Indonesia telah hangus. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa kebakaran ini melahap salah satu ekosistem gambut tropis terbesar di dunia, yang membentang seluas 4,5 juta hektare. Lahan gambut yang dalam kondisi normal menjadi penyimpan karbon purba yang efektif, kini berubah menjadi "bom karbon" yang siap meledak melepaskan jutaan ton gas rumah kaca ke atmosfer.
Dwi Sujatmoko, seorang relawan pemadam kebakaran berusia 35 tahun, telah menghabiskan lebih dari sebulan berjuang melawan kobaran api yang tak kunjung padam. "Asapnya seperti gas air mata, langsung menusuk hidung dan membuat mata perih," ujarnya. Bersama ribuan relawan lainnya, sebagian besar dari komunitas Dayak dan Banjar, mereka berupaya memadamkan api yang merambat di bawah permukaan tanah, sebuah fenomena yang membuat upaya pemadaman menjadi semakin rumit.
Para ahli memperingatkan bahwa kebakaran gambut tahun ini merupakan yang terburuk dalam lebih dari satu dekade. Kabut asap yang dihasilkan telah menyebar ke Singapura, Malaysia, Brunei, dan Filipina, menyebabkan indeks polusi udara melonjak hingga 75 kali lipat dari batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dampak kesehatan pun dirasakan luas; Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan akibat kabut asap antara Juli dan Agustus, dengan lebih dari 12.000 di antaranya adalah anak-anak di bawah lima tahun.
Di garis depan bencana, para relawan mempertaruhkan nyawa dan kesehatan paru-paru mereka. Dua relawan di Kalimantan Tengah dilaporkan meninggal dunia dalam beberapa hari terakhir akibat memburuknya kondisi kesehatan mereka setelah bertugas memadamkan api. Mereka bekerja tanpa lelah, menggali kolam, kanal, dan sumur bor di tengah gambut yang kering kerontang, berusaha membasahi tanah hingga jenuh seperti bubur untuk memadamkan api yang bersarang di kedalaman. Namun, upaya ini seringkali sia-sia karena api dapat muncul kembali, dipicu oleh bahan bakar tersembunyi di kedalaman gambut.
Fahrin Ramadhianto, relawan lain di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menggambarkan bau asap yang khas seperti kayu lapuk yang terbakar. "Gambut mengandung material organik yang terdekomposisi dari berbagai sumber," jelasnya. Kondisi ini diperparah oleh kelelahan fisik dan mental yang dialami para relawan, yang harus berjauhan dari keluarga demi menjalankan tugas kemanusiaan.
Di balik bencana ini, para peneliti menyoroti akar masalah yang lebih dalam: drainase lahan gambut untuk perkebunan skala besar. Sejak era Suharto, hutan dan lahan gambut di Kalimantan telah dibuka untuk logging, perkebunan, dan proyek pembangunan. Profesor Susan Page dari University of Leicester, yang telah meneliti gambut Asia selama tiga dekade, menegaskan bahwa drainase lahan gambut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga menyebabkan emisi karbon dioksida yang terus-menerus, bahkan saat tidak terjadi kebakaran. "Kebakaran hanyalah ekspresi terburuk dari apa yang sebenarnya terjadi sepanjang waktu di lahan gambut yang dikeringkan," katanya.
Komunitas adat Dayak, yang kini menjadi garda terdepan dalam pemadaman kebakaran, seringkali menjadi kambing hitam atas praktik pertanian tradisional mereka yang menggunakan api untuk membuka lahan. Tono, perwakilan masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa praktik uma bukit atau pertanian bukit dilakukan dengan perencanaan matang dan menghormati keseimbangan alam. Namun, deforestasi yang masif di Kalimantanโmencapai hampir 160.000 hektare pada 2025โsebagian besar untuk perkebunan monokultur, justru menjadi pemicu utama kekeringan dan kebakaran.
Bencana ini menjadi pengingat pahit bagi Indonesia bahwa pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kegagalan dalam merestorasi ekosistem gambut dan menghentikan deforestasi akan terus memicu siklus kebakaran yang merugikan kesehatan masyarakat, ekonomi, dan iklim global. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan para pemangku kepentingan akan mengambil tindakan nyata sebelum bom karbon berikutnya meledak?



