Amorim Akui Milan Tak Layak Menang: Juventus Lebih Berhak Raih Tiga Poin
Baca dalam 60 detik
- Hasil imbang 1-1 di Turin membuat AC Milan dan Juventus kehilangan rekor sempurna mereka di Serie A.
- Pelatih anyar Milan, Ruben Amorim, mengkritik penyelesaian akhir timnya dan mengakui Juventus lebih dominan.
- Gol penyeimbang Federico Gatti di masa injury time menjadi tamparan telak bagi ambisi Milan meraih kemenangan.

Ruben Amorim, pelatih AC Milan, dengan jujur mengakui bahwa timnya tidak layak membawa pulang kemenangan dari Allianz Stadium. Menurutnya, hasil imbang 1-1 yang diraih Rossoneri melawan Juventus, Minggu (23/11/2025) dini hari WIB, lebih merupakan berkah daripada prestasi. Ia bahkan menilai Bianconeri lebih pantas memenangkan laga tersebut.
Pernyataan Amorim muncul setelah pertandingan yang berlangsung sengit. Milan kesulitan menciptakan peluang emas sepanjang laga. Kiper Mike Maignan dan tiang gawang menjadi penyelamat utama mereka saat Francisco Conceicao beberapa kali mengancam. Namun, gol Alphadjo Cisse pada menit ke-71 sempat membawa Milan unggul, sebelum Federico Gatti menyamakan kedudukan di masa injury time memanfaatkan umpan silang Teun Koopmeiners.
Hasil ini menghentikan laju sempurna kedua tim di awal musim. Milan dan Juventus sama-sama kehilangan poin perdana mereka di Serie A musim ini. Bagi Amorim, ini adalah pelajaran berharga yang menunjukkan bahwa timnya masih jauh dari kata matang, terutama dalam penguasaan bola dan pengambilan keputusan.
โKami tidak pantas menang, jika boleh jujur, atau lebih tepatnya Juventus tidak pantas kalah,โ ujar Amorim kepada DAZN Italia. Ia juga menyoroti buruknya kualitas umpan dan pergerakan anak asuhnya. โKami mencoba bermain sesuai gaya kami, tetapi tidak bagus dalam penguasaan bola. Ada momen di babak pertama kami mengontrol permainan, tapi kemudian kami sering kehilangan bola. Kami sudah bekerja sama selama dua bulan, kami perlu lebih baik, tapi butuh waktu.โ
Kekhawatiran Amorim bukannya tanpa alasan. Sejak gol Olivier Giroud pada Mei 2023, Milan tidak pernah mencetak gol ke gawang Juventus di Serie A. Enam pertemuan beruntun berakhir tanpa gol bagi Milan, hingga akhirnya Cisse, pemain berusia 19 tahun, memecah kebuntuan tersebut. Namun, gol itu tidak cukup untuk mengamankan tiga poin.
โKami punya kualitas individu, tapi hal-hal sederhana seperti menerima dan mengoper bola adalah yang terpenting. Hari ini kami tidak melakukannya dengan baik,โ keluh Amorim. Ia juga menyoroti kelemahan timnya saat kehilangan bola, yang membuat mereka rentan terhadap serangan balik cepat Juventus. โSaat Juventus menempatkan banyak striker di depan, kami bertahan dengan baik. Tapi kami lebih menderita saat kehilangan bola dan mereka melakukan transisi.โ
Meski kecewa, Amorim menegaskan tidak akan mengubah filosofi permainannya. โKami tidak akan mengubah cara bermain, karena kami tahu di beberapa pertandingan akan berjalan baik, di lain tidak. Yang penting adalah kami berjuang untuk menang. Hari ini kami bisa menang, tapi sekali lagi, Juventus juga tidak pantas kalah.โ
Amorim juga menyoroti penampilan beberapa pemain kunci. Debut Diego Moreira dinilai masih terlalu pendiam, sementara Adrien Rabiot belum menunjukkan efektivitas seperti saat menjadi pemain pengganti di dua laga sebelumnya. Ia menekankan pentingnya keberanian dan pergerakan tanpa bola untuk meningkatkan kualitas permainan timnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini memberikan gambaran menarik tentang adaptasi pelatih asing di klub besar Eropa. Amorim, yang baru dua bulan menangani Milan, masih mencari formula terbaik. Tekanan untuk meraih hasil instan seringkali menjadi bumerang bagi pelatih anyar, seperti yang terjadi pada beberapa pelatih di Liga 1 Indonesia. Namun, kesabaran manajemen dan dukungan suporter menjadi kunci keberhasilan sebuah proyek jangka panjang.
Amorim sendiri tetap optimistis. Ia percaya diri dengan potensi Cisse, pemain muda yang ia akui sangat disayanginya. โSaya sangat senang dengan semua pemain, dan saya ingin berhati-hati dengan pemain muda, karena sekarang semua orang membuat mereka besar terlalu cepat. Dia masih muda, baru memulai karier, dan perlu berlatih dengan baik. Semua orang senang melihat anak muda bermain bagus. Saya melihat Cisse dan berpikir dia bisa jauh lebih baik,โ tuturnya.
Pertandingan ini menjadi pelajaran berharga bagi Milan. Mereka nyaris menang, tetapi pada akhirnya harus puas dengan satu poin. Pertanyaan besarnya, apakah Amorim mampu memperbaiki kelemahan timnya sebelum menghadapi lawan-lawan yang lebih tangguh? Atau akankah hasil ini menjadi awal dari rentetan hasil buruk yang mengancam posisinya? Hanya waktu yang bisa menjawab.



