Sabalenka Taklukkan Townsend, Selangkah Lagi Samai Rekor Williams di US Open
Baca dalam 60 detik
- Unggulan teratas asal Belarus itu mencatat kemenangan ke-18 beruntun di Flushing Meadows setelah menundukkan Taylor Townsend 6-4, 6-3.
- Konsistensi Sabalenka di turnamen Grand Slam Amerika ini mengantarnya ke perempat final keenam beruntun, menyamai catatan Serena Williams.
- Dengan tiga kemenangan tersisa, petenis 28 tahun itu berpeluang menjadi yang pertama sejak Williams meraih tiga gelar beruntun di New York.

Aryna Sabalenka kembali membuktikan dominasinya di lapangan keras Flushing Meadows. Unggulan teratas asal Belarus itu melaju ke perempat final US Open untuk keenam kalinya secara beruntun setelah menaklukkan petenis tuan rumah Taylor Townsend dengan skor 6-4, 6-3, Rabu (3/9) waktu setempat. Kemenangan ini sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkannya di turnamen tersebut menjadi 18 pertandingan sejak 2023.
Pertandingan yang berlangsung sengit itu diwarnai sepuluh kali break serve. Sabalenka sempat tertinggal 3-1 di set kedua sebelum akhirnya bangkit dan merebut lima game beruntun untuk menuntaskan perlawanan Townsend dalam 75 menit. Kemenangan ini makin spesial karena ia tampil di hadapan publik yang mayoritas mendukung lawannya, situasi yang kerap menjadi ujian mental tersendiri.
Dengan hasil ini, Sabalenka menjadi petenis putri pertama yang mencapai enam perempat final beruntun di US Open sejak Serena Williams melakukannya pada 2016. Lebih dari itu, ia kini hanya berjarak tiga kemenangan untuk menyamai rekor Williams sebagai petenis terakhir yang meraih tiga gelar beruntun di turnamen ini. Prestasi tersebut terakhir kali dicapai legenda Amerika itu pada 2012-2014.
Perjalanan Sabalenka di US Open musim ini terbilang impresif mengingat ia sempat tersingkir lebih awal di Wimbledon. Kegagalan di All England Club itu membuatnya bertekad menghindari musim tanpa gelar Grand Slam untuk pertama kalinya sejak 2022. Tekanan untuk mempertahankan peringkat satu dunia juga menambah bobot setiap pertandingan yang dijalaninya di New York.
"Saya hanya mencoba tetap fokus pada diri sendiri, bukan hanya poin demi poin, tetapi bola demi bola," ujar Sabalenka usai pertandingan. "Saya senang bisa membalikkan keadaan di set kedua, saya pikir itu momen kuncinya." Ia juga melontarkan pujian untuk Townsend yang tampil berani dengan sering mendekati net dan mengembalikan bola dengan baik.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa konsisten Sabalenka menjadi tontonan menarik, terlebih dengan jam tayang yang bersahabat di pagi hari. Namun, di balik itu, ada pelajaran tentang pentingnya ketahanan mental dalam olahraga profesional—sesuatu yang juga relevan bagi perkembangan petenis muda Tanah Air yang mulai merambah turnamen internasional.
Di sisi lain, kekalahan Townsend menambah daftar panjang kegagalan petenis Amerika di nomor tunggal putri. Meski demikian, penampilan impresifnya melawan unggulan teratas menunjukkan bahwa regenerasi tenis Amerika mulai menunjukkan tanda-tanda positif—sebuah catatan yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan tenis di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Langkah Sabalenka selanjutnya adalah menunggu lawan di perempat final. Jika mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Townsend, bukan tidak mungkin ia akan mengukir sejarah baru di akhir pekan nanti. Pertanyaannya, akankah ia mampu melewati tekanan dan menuntaskan misi tiga gelar beruntun yang terakhir kali diraih Serena Williams?



