Hilton Yakin India Akan Geser China sebagai Kekuatan Baru Pariwisata Global
Baca dalam 60 detik
- Hilton menilai India akan menjadi pasar pariwisata terbesar dunia dalam dekade mendatang, didorong pertumbuhan kelas menengah dan wisata religi.
- Kinerja Hilton di Asia Pasifik masih tertekan oleh lemahnya pasar China, sementara India dan Asia Utara mencatat pertumbuhan RevPAR dua digit.
- Ekspansi Hilton di India mengandalkan model asset-light, dengan 60 hotel dalam pipeline dan komitmen 400 hotel baru bersama mitra lokal.

Raksasa perhotelan global Hilton meyakini India akan segera mengambil alih posisi China sebagai mesin pertumbuhan pariwisata Asia. Keyakinan itu bukan tanpa dasar: di tengah lesunya pasar China yang masih membebani kinerja kuartalan, pasar India justru menunjukkan momentum pertumbuhan pendapatan per kamar yang mencapai dua digit. Bagi pelaku industri pariwisata Indonesia, pergeseran ini bukan sekadar kabar dari jauh, melainkan sinyal perubahan peta persaingan kawasan yang patut dicermati.
Presiden Hilton untuk Asia Pasifik, Alan Watts, dalam wawancara dengan CNBC.com, Minggu (6/9/2026), menyebut India sebagai pasar perjalanan dan pariwisata paling menarik secara global saat ini. "India adalah pasar paling menarik untuk perjalanan dan pariwisata secara global, dan akan tetap demikian selama dekade berikutnya," ujarnya. Pernyataan itu muncul di tengah laporan keuangan yang menunjukkan pertumbuhan RevPAR Hilton di Asia Pasifik hanya sekitar satu persen pada kuartal keduaโangka yang jauh di bawah ekspektasi akibat lemahnya kepercayaan konsumen China di luar periode liburan.
Namun, jika dicermati lebih jauh, pelemahan China justru menjadi katalis bagi Hilton untuk mempercepat diversifikasi pasar. Empat pasar Asia lainnya, termasuk Asia Utara dan India, mencatat pertumbuhan RevPAR dua digit. Watts menggarisbawahi bahwa momentum kuat juga terlihat di Asia Tenggara dan Jepang. Tren ini diperkuat oleh fakta bahwa sekitar delapan dari sepuluh malam kamar hotel di kawasan Asia kini diisi oleh wisatawan antarnegara Asia sendiri, menandakan semakin menguatnya pariwisata intra-regional.
Bagi Indonesia, kabar ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, menguatnya pasar India dan Asia Tenggara berarti meningkatnya potensi wisatawan mancanegara ke Tanah Air, terutama dari segmen kelas menengah India yang sedang berkembang pesat. Namun di sisi lain, Indonesia juga harus bersaing dengan India yang kini gencar membangun infrastruktur hotel di kota-kota tier dua dan tiga. Jika Indonesia tidak berbenah, bukan tidak mungkin arus wisatawan yang seharusnya masuk ke Bali, Lombok, atau Danau Toba akan lebih memilih destinasi serupa di India yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Strategi Hilton di India patut menjadi pelajaran. Perusahaan tidak lagi berkutat di kota-kota besar seperti Mumbai atau Delhi, melainkan merambah ke kota tier dua dan tiga dengan merek kelas menengah seperti Hampton dan Spark by Hilton. Targetnya jelas: menangkap pertumbuhan wisatawan domestik India yang kian besar. Hilton juga mulai melirik destinasi wisata religi seperti Ayodhya dan Tirupati, yang selama ini minim hotel bermerek meski mampu menarik jutaan pengunjung setiap tahun. "India adalah pasar yang sangat menarik," kata Watts, menegaskan komitmennya.
Yang lebih menarik, ekspansi ini tidak membutuhkan investasi modal besar dari Hilton. Watts mengungkapkan bahwa pemilik properti di India yang membiayai pembangunan hotel, kemudian menggandeng Hilton untuk mengelola. "Mereka tentu datang kepada kami untuk mengelola properti mereka, tetapi kami belum diminta memberikan komitmen dari neraca kami," jelasnya. Model asset-light ini memungkinkan Hilton memperluas jaringan tanpa menguras kas perusahaan, sebuah strategi yang mungkin bisa diadopsi oleh grup perhotelan Indonesia yang ingin berekspansi cepat.
Watts juga menyoroti faktor-faktor struktural yang akan mendorong pariwisata Asia, termasuk pertumbuhan kelas menengah, peningkatan konektivitas, dan pembangunan infrastruktur. "Kami melihat peluang di semua tingkatan harga dan terus mendapatkan manfaat dari investasi infrastruktur yang cepat," katanya. Ini sejalan dengan proyeksi bahwa India akan menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam industri pariwisata global dalam dekade mendatang, didukung oleh ekonomi yang tumbuh, kelas menengah yang meluas, dan tren wisata religi yang kuat.
Lantas, apa artinya bagi Indonesia? Pertama, Indonesia perlu memperkuat daya saing destinasi wisata untuk menarik wisatawan India yang jumlahnya akan terus meningkat. Kedua, model pengembangan hotel yang melibatkan pemilik modal lokal bisa menjadi alternatif percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata di daerah. Ketiga, Indonesia harus waspada terhadap pergeseran fokus investor global dari China ke Indiaโsebuah peluang sekaligus tantangan untuk menarik investasi di sektor perhotelan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini sebelum India benar-benar menjadi raja pariwisata dunia?



