Honey Deuce: Koktail Ikonik AS Terbuka yang Bertahan 20 Tahun dan Menggoda Pasar Asia
Baca dalam 60 detik
- Minuman khas AS Terbuka, Honey Deuce, mencatat penjualan hingga 800 ribu gelas per tahun, membuktikan kekuatan merek di balik ajang olahraga.
- Gelas koleksi edisi tahunan menjadi magnet utama, mendorong perburuan suvenir dan fenomena jual-beli daring yang terus menggeliat.
- Keberhasilan ini memicu ekspansi ke turnamen lain seperti Australia Terbuka, membuka peluang bagi pasar Asia termasuk Indonesia.

NEW YORK โ Sejak pertama kali disajikan pada 2007, Honey Deuce telah menjelma menjadi ikon yang tak terpisahkan dari gelaran AS Terbuka. Koktail berbalut vodka Grey Goose ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan simbol status bagi ribuan penonton yang memadati Flushing Meadows setiap tahun. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-20, minuman ini berhasil mencatat penjualan hingga 800 ribu gelas, sebuah lonjakan dramatis dari 25 ribu gelas pada tahun perdananya.
Fenomena ini tidak lepas dari perpaduan strategi pemasaran yang jitu dan kekuatan media sosial. Jika Wimbledon memiliki Pimm's Cup dan Kentucky Derby mengandalkan mint julep, AS Terbuka menemukan identitasnya melalui Honey Deuce. Keunikan gelas plastik koleksinya yang dicetak dengan nama-nama juara masa lalu setiap tahun menjadi daya tarik tersendiri. Gelas-gelas ini kerap menjadi buruan kolektor, bahkan sering ludes terjual sebelum turnamen usai dan diperdagangkan dengan harga tinggi di platform daring seperti eBay.
Danny Zausner, Chief Operating Officer USTA National Tennis Center, mengungkapkan bahwa inspirasi minuman ini datang dari pengalamannya menyaksikan para penonton Kentucky Derby yang antusias mengoleksi gelas mint julep. โSaat itu belum ada media sosial yang masif, tapi bagi mereka, memiliki gelas itu berarti Anda benar-benar hadir di Derby,โ kenangnya. Dari situlah lahir ide untuk menciptakan minuman khas yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga meninggalkan kenangan berwujud.
Resep Honey Deuce sendiri terbilang sederhana: campuran vodka, limun, dan minuman keras raspberry, dengan hiasan tiga bola melon yang dirancang menyerupai bola tenis oleh restorator Nick Mautone. Di balik kesederhanaannya, terdapat operasi logistik yang rumit. Tim khusus bertugas menyendok 2,5 hingga 3 juta bola melon setiap tahunnya untuk memastikan pasokan cukup. Sementara itu, mitra katering Levy menyiapkan campuran minuman dalam skala besar, menggunakan kemasan serupa tong bir untuk menjaga konsistensi rasa.
Keberhasilan Honey Deuce tidak hanya berhenti di New York. Grey Goose, produsen vodka asal Prancis, mencoba mengulang sukses serupa dengan meluncurkan Grey Goose Lemon Ace di Australia Terbuka 2025. Dalam tahun pertamanya, minuman tersebut berhasil menjual lebih dari 100 ribu unit, menandakan bahwa formula ini dapat direplikasi di ajang olahraga lain. Zausner sendiri mengaku tidak pernah membayangkan lonjakan sebesar itu. โSaya akan berbohong jika mengatakan saya punya visi bahwa 25 ribu akan menjadi 800 ribu,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menghadirkan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah produk dapat menjadi bagian dari pengalaman olahraga global. Meski pasar minuman beralkohol di Indonesia memiliki regulasi ketat, tren ini menunjukkan bahwa nilai sebuah suvenir dan pengalaman dapat menjadi pendorong utama loyalitas penggemar. Ajang seperti Indonesia Terbuka atau turnamen olahraga lainnya dapat mengadopsi pendekatan serupa, tentu dengan penyesuaian terhadap norma lokal.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Honey Deuce akan tetap populer, melainkan bagaimana inovasi serupa dapat terus memikat generasi baru penonton. Dengan semakin masifnya penggunaan media sosial dan kreator konten, potensi pertumbuhan masih terbuka lebar. Apakah akan muncul minuman ikonik lain yang mampu menyaingi popularitasnya? Atau justru Honey Deuce akan semakin mengukuhkan diri sebagai legenda yang tak tergantikan?



