Cemburu Buta Berujung Maut: Pelaku Pembunuh Mozza Axillia Sempat Survei Lokasi Buang Jasad
Baca dalam 60 detik
- Polisi mengungkap bahwa pelaku MDVA (22) membunuh Mozza Axillia (17) karena cemburu setelah membaca chat korban dengan pria lain di ponselnya.
- Sebelum membuang jasad korban ke jurang tol Jangli, Semarang, pelaku sempat keluar dua kali untuk membeli tali rafia dan mencari lokasi pembuangan yang sepi.
- Kasus ini menyoroti meningkatnya kekerasan dalam pacaran di kalangan remaja Indonesia, mendorong seruan untuk penguatan literasi digital dan pendampingan psikologis.

Polisi mengungkap fakta baru yang lebih mengerikan di balik tewasnya Mozza Axillia Gunarsa (17), remaja asal Bergas yang jasadnya ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di jurang jalan tol Jangli, Semarang. Pelaku, MDVA (22), ternyata tidak hanya merencanakan pembunuhan, tetapi juga sempat melakukan 'survei' lokasi untuk membuang korban layaknya membuang barang tak berguna.
Kasat Reserse PPA-PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti, mengungkapkan bahwa pemicu pembunuhan adalah kecemburuan. Pelaku mengaku emosi setelah membaca percakapan di ponsel korban dengan laki-laki lain. 'Cemburu waktu bareng, dia sempat buka handphone korban dan ada chat dari laki-laki lain,' ujar Sriniti, Senin (7/9/2026). Peristiwa ini terjadi di kamar kos pelaku pada 25 Juni 2025, sekitar pukul 14.00 WIB.
Hubungan keduanya sendiri baru berjalan singkat, bermula dari perkenalan di media sosial pada Mei 2025. Dalam pengakuannya, pelaku menyebut korban yang lebih dulu memukul saat cekcok, sehingga ia kehilangan kendali dan membekap korban hingga lemas. Namun, terlepas dari siapa yang memulai, tindakan MDVA yang berujung pada kematian menunjukkan kegagalan pengelolaan emosi yang fatal.
Yang lebih mencekam adalah kronologi setelah korban tak berdaya. Alih-alih menolong atau menyerahkan diri, pelaku justru keluar masuk kos sebanyak dua kali. Pertama, untuk membeli makanan dan tali rafia. Kedua, untuk 'survei' mencari tempat pembuangan yang sepi. 'Keluarnya beli makan sama tali rafia. Habis itu masuk lagi, makan. Habis itu keluar lagi survei tempat,' tutur Sriniti menirukan pengakuan pelaku.
Setelah 'survei', pelaku memasukkan tubuh korban yang sudah lemas ke dalam kardus, mengikatnya, lalu membungkusnya dengan karung. Dengan tenang, ia membopong 'paket' tersebut ke motornya dan membawanya ke lokasi yang sudah ditentukan. 'Dibawa sendiri, dibopong, ditaruh di motor, seolah-olah kayak paket. Dibawa ke tempat yang sudah dia survei. Malam itu habis Magrib dia buangnya,' kata Sriniti.
Kasus ini menjadi pengingat kelam akan bahaya kekerasan dalam pacaran (KDP) yang kerap tidak terlihat. Psikolog forensik menilai bahwa tindakan pelaku yang melakukan survei lokasi menunjukkan adanya perencanaan dan naluri untuk menghilangkan jejak, bukan sekadar pembunuhan karena spontanitas. 'Ini mengindikasikan bahwa pelaku dalam kondisi psikologis yang sangat terganggu, di mana rasa cemburu telah mematikan empati,' ujar seorang kriminolog Universitas Indonesia yang enggan disebut namanya.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya orang tua dan pendidik, kasus ini adalah alarm. Interaksi remaja di media sosial yang semakin intensif tanpa pendampingan emosional dapat memicu ledakan agresi. Penting untuk tidak hanya mengajarkan literasi digital, tetapi juga kecakapan mengelola konflik dan emosi. Pertanyaannya, akankah kasus Mozza menjadi titik balik bagi penguatan pendidikan karakter dan layanan konseling di sekolah-sekolah? Atau justru akan menjadi catatan kelam lain yang terlupakan begitu saja?



