Susan Sarandon Buka Suara: Proyek Film Masih Dicabut Akibat Sikap Politiknya
Baca dalam 60 detik
- Aktris peraih Oscar, Susan Sarandon, mengaku masih kehilangan tawaran film dari studio besar karena sikap politiknya yang pro-Palestina.
- Pernyataan kontroversialnya pada 2023 tentang warga Yahudi Amerika memicu pemutusan kontrak dengan agensi dan boikot industri.
- Sarandon kini lebih banyak berkarya di produksi independen dan internasional, seperti film terbarunya The Echo Chamber, yang dinilai sebagai pelarian dari tekanan Hollywood.

Susan Sarandon, aktris legendaris berusia 79 tahun, mengungkapkan bahwa kariernya di Hollywood masih terhambat hingga kini akibat pernyataan politiknya yang kontroversial. Dalam wawancara di Festival Film Venesia, ia menegaskan bahwa sejumlah proyek film telah "dicabut" darinya karena sejumlah agensi masih melarang kliennya untuk bekerja sama dengannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Sarandon saat mempromosikan film terbarunya, The Echo Chamber, produksi Italia yang disutradarai Andrea Pallaoro. Ia mengaku bersyukur karena sutradara tersebut berani melawan arus dan tetap memilihnya sebagai pemeran utama, meski ada peringatan dari industri. "Saya masih kehilangan tawaran film, karena ada agensi yang menyuruh orang untuk tidak mempekerjakan saya. Itulah struktur kekuasaan," ujarnya, seperti dikutip dari wawancara di ajang tersebut.
Konflik ini berakar dari pernyataan Sarandon pada November 2023, saat ia menghadiri aksi pro-Palestina di New York. Kala itu, ia mengatakan bahwa warga Yahudi Amerika "sedang merasakan bagaimana rasanya menjadi Muslim di negeri ini"—sebuah komentar yang langsung memicu kecaman luas, terutama setelah serangan Hamas ke Israel. Dampaknya, agensi yang menaunginya memutuskan kontrak, dan sejumlah proyek film yang tengah berjalan pun dibatalkan.
Sarandon sendiri telah menyampaikan permintaan maaf pada Desember 2023 melalui unggahan Instagram. Ia menyebut pilihan katanya sebagai "kesalahan besar" karena secara tidak langsung mengabaikan sejarah panjang persekusi terhadap kaum Yahudi. Namun, permintaan maaf itu tampaknya tidak cukup untuk memulihkan reputasinya di mata sebagian kalangan industri. Dalam wawancara terbaru, ia mengakui bahwa masih ada pihak-pihak dengan posisi kuat—yang ia sebut sebagai "Zionis"—yang belum melunakkan sikap terhadap dirinya.
Meski demikian, Sarandon menilai bahwa narasi publik telah berubah secara signifikan dalam tiga tahun terakhir. "Masyarakat umum kini lebih memahami situasi ini," katanya. Namun, perubahan tersebut belum diikuti oleh struktur kekuasaan di Hollywood, terutama di studio-studio besar. "Jika menyangkut studio besar, saya rasa ada larangan—bukan hanya untuk saya, tapi juga orang lain," tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, Sarandon justru merasa lebih diterima di kancah internasional. Ia menyebut bahwa dirinya "menemukan keluarga dan orang-orang yang tepat" di luar Hollywood. The Echo Chamber sendiri merupakan bukti bahwa ia masih bisa berkarya, meski harus bergantung pada produksi independen dan sineas Eropa yang lebih terbuka terhadap keberagaman pandangan.
Kisah Sarandon menjadi cermin bagaimana industri hiburan global masih bergulat dengan isu kebebasan berekspresi dan aktivisme politik. Di Indonesia, fenomena serupa mungkin tidak sefrontal Hollywood, tetapi tekanan terhadap figur publik yang bersuara vokal—baik di ranah politik, agama, maupun sosial—kerap kali berujung pada pembatasan karier. Kasus ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya ruang dialog yang sehat tanpa harus menghakimi perbedaan pandangan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Hollywood benar-benar berubah, atau justru semakin terkotak-kotak oleh polarisasi politik? Sarandon sendiri tampaknya telah mengambil jalan sendiri, dengan memilih karya-karya yang lebih independen dan bermakna. Namun, selama struktur kekuasaan masih dikuasai oleh kepentingan tertentu, sulit untuk berharap adanya perubahan signifikan dalam waktu dekat.



