Erupsi Anak Krakatau: Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Hingga Malam, Ratusan Penerbangan Terancam
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 21.30 WIB akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau, memicu kekacauan jadwal penerbangan domestik.
- Otoritas Bandara Wilayah I mencatat tujuh bandara di Jawa-Bali-Sumatera terdampak, dengan dua di antaranya berstatus tutup hingga Senin pagi.
- Penumpang diimbau memantau kanal resmi maskapai karena potensi pembatalan dan penundaan masih berlanjut seiring aktivitas vulkanik yang fluktuatif.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang kembali memperpanjang penghentian operasionalnya hingga pukul 21.30 WIB, Minggu (6/9/2026), menyusul penyebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang mengganggu keselamatan penerbangan. Keputusan ini diambil otoritas bandara setelah sebelumnya sempat dibuka, namun kondisi udara di sekitar jalur penerbangan dinilai masih membahayakan.
Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama, dalam keterangan resmi yang dimutakhirkan pukul 17.00 WIB, menyebutkan total tujuh bandara yang berada di bawah pengawasannya mengalami penutupan sementara. Selain Soekarno-Hatta, bandara Radin Inten II di Lampung dan Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur juga ditutup hingga pukul 18.00 WIB. Sementara itu, Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan harus menunggu hingga Senin (7/9) pagi sebelum bisa beroperasi kembali.
Penutupan ini dipicu oleh erupsi Anak Krakatau yang terjadi sejak Sabtu (5/9) malam, dengan kolom abu mencapai ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas puncak. Angin yang bertiup ke arah barat laut membawa partikel abu ke wilayah udara Jakarta, Banten, dan Lampung, sehingga memaksa otoritas penerbangan untuk menutup ruang udara demi keselamatan. Data dari Kementerian Perhubungan menunjukkan setidaknya 60 penerbangan domestik dan internasional yang terdampak, dengan sebagian besar dialihkan ke bandara alternatif seperti Kertajati di Majalengka.
Bagi calon penumpang, situasi ini menjadi pengingat pentingnya fleksibilitas rencana perjalanan. Maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan AirAsia telah mengeluarkan pemberitahuan resmi mengenai pembatalan dan penundaan jadwal, serta menawarkan opsi reschedule tanpa biaya tambahan. Namun, antrean panjang di terminal dan kebingungan informasi masih terlihat di sejumlah bandara, terutama di Soekarno-Hatta yang menjadi hub utama penerbangan nasional.
Dampak ekonomi dari penutupan ini tidak bisa dianggap remeh. Sektor pariwisata dan logistik yang mengandalkan konektivitas udara dipastikan mengalami kerugian, terutama di kawasan Sumatera bagian selatan yang menjadi pintu masuk utama ke destinasi seperti Lampung dan Bengkulu. Para analis memperkirakan kerugian ekonomi langsung dari penutupan ini bisa mencapai puluhan miliar rupiah per hari, belum termasuk biaya operasional maskapai yang harus menanggung rerouting dan akomodasi penumpang.
Otoritas Bandara Wilayah I mengimbau seluruh pengguna jasa penerbangan untuk terus memantau informasi resmi dari maskapai masing-masing. "Kami menghimbau kepada seluruh pengguna jasa penerbangan untuk memeriksa status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melaksanakan perjalanan," ujar perwakilan otoritas dalam keterangan tertulis. Imbauan ini penting mengingat status Gunung Anak Krakatau yang masih berada di level II (Waspada), sehingga potensi erupsi susulan tetap ada.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah seberapa cepat normalisasi dapat terjadi. Pengalaman erupsi serupa pada 2018 lalu menunjukkan bahwa gangguan penerbangan bisa berlangsung hingga beberapa hari, tergantung arah angin dan intensitas erupsi. Jika aktivitas vulkanik terus meningkat, bukan tidak mungkin penutupan akan diperpanjang lagi, memicu efek domino pada jadwal mudik dan perjalanan bisnis di pekan ini. Akankah maskapai dan otoritas bandara mampu menjaga komunikasi yang transparan agar kekacauan tidak berlarut? Publik tentu berharap respons cepat dan koordinasi yang lebih baik di tengah ketidakpastian alam yang sulit diprediksi.



