Terungkap: Bek Muda Pisa Rosen Bozhinov Pingsan di Lapangan karena Dehidrasi, Laga Serie B Sempat Dihentikan
Baca dalam 60 detik
- Pemain berusia 21 tahun itu tumbang pada menit ke-40 dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Kejadian ini memaksa wasit menghentikan pertandingan sementara, sebelum akhirnya dilanjutkan setelah kondisi pemain dipastikan stabil.
- Gelombang panas ekstrem di Italia menjadi sorotan utama, memicu diskusi tentang perlunya protokol kesehatan yang lebih ketat dalam sepak bola.

Pertandingan Serie B antara Juve Stabia dan Pisa di Stadio Romeo Menti pada pekan ketiga diwarnai insiden mencekam. Bek muda Pisa, Rosen Bozhinov, tiba-tiba ambruk di lapangan pada menit ke-40, memaksa laga dihentikan sementara. Kejadian ini sontak membuat para pemain, ofisial, dan penonton terkejut, mengingat pemain berusia 21 tahun itu tidak menunjukkan gejala cedera serius sebelumnya.
Tim medis yang berlari ke tengah lapangan langsung memberikan pertolongan pertama. Bozhinov dilaporkan tetap sadar saat dievakuasi dengan tandu, namun sebagai langkah antisipasi, ia dibawa ke rumah sakit setempat untuk menjalani serangkaian tes. Pihak klub kemudian mengonfirmasi bahwa penyebab kolapsnya adalah dehidrasi akut, dan kondisi pemain asal Bulgaria itu kini dinyatakan baik.
Wasit yang memimpin pertandingan, Calzara, mengambil keputusan untuk menghentikan laga sementara. Ia memanggil kedua kapten tim dan mengarahkan seluruh pemain untuk kembali ke ruang ganti sambil menunggu informasi lebih lanjut mengenai kondisi Bozhinov. Setelah mendapat kepastian dari tim medis bahwa tidak ada masalah serius, pertandingan akhirnya dilanjutkan kembali.
Insiden ini terjadi di tengah gelombang panas yang melanda Italia. Suhu udara yang sangat tinggi membuat jeda minum (cooling break) yang disediakan wasit terasa tidak cukup untuk melindungi para pemain dari kondisi ekstrem. Bozhinov, yang bertahan di lini belakang dan aktif bergerak, menjadi korban dari cuaca yang tidak bersahabat. Kejadian ini memicu kembali diskusi tentang perlunya penyesuaian jadwal pertandingan atau penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat, terutama di musim panas.
Bagi pengamat sepak bola, kasus ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama. Federasi sepak bola Italia (FIGC) dan penyelenggara liga mungkin perlu mengevaluasi kembali kebijakan terkait suhu ekstrem, termasuk kemungkinan menambah durasi cooling break atau bahkan menunda pertandingan jika kondisi dianggap membahayakan. Hal ini sejalan dengan langkah yang telah diambil oleh beberapa liga lain di Eropa yang mulai menerapkan aturan serupa.
Di Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat kompetisi sepak bola nasional kerap digelar di tengah cuaca panas dan lembap. Para pemain Liga 1 dan Liga 2 sering menghadapi kondisi serupa, terutama saat pertandingan siang hari. PSSI dan operator liga diharapkan dapat mengambil pelajaran dari insiden ini untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan pemain, seperti menyediakan cooling break yang memadai dan melakukan penyesuaian jadwal jika diperlukan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah otoritas sepak bola akan mengambil langkah konkret untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Akankah aturan tentang jeda minum diperketat, atau justru ada kebijakan baru yang mewajibkan pemeriksaan kondisi fisik pemain sebelum pertandingan? Yang jelas, kesehatan pemain tidak boleh dikorbankan demi kelancaran kompetisi.



