Waspada Pembobolan Rekening: Bank Mandiri dan BNI Bagikan Jurus Jitu di Lampung Financial Festival 2026
Baca dalam 60 detik
- Bank Mandiri dan BNI menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan PIN dan OTP sebagai benteng utama keamanan rekening nasabah di tengah maraknya kejahatan siber.
- BNI mengingatkan nasabah untuk selalu waspada terhadap modus penipuan melalui akun dan situs palsu yang mengatasnamakan perbankan.
- Imbauan ini menggarisbawahi perlunya literasi keuangan digital yang masif bagi masyarakat Indonesia seiring meningkatnya transaksi online.

Lampung, LyndHub โ Maraknya kasus pembobolan rekening di Indonesia mendorong dua bank pelat merah, Bank Mandiri dan BNI, untuk angkat bicara. Dalam acara Lampung Financial Festival 2026 yang digelar pada 5-6 September, kedua raksasa perbankan ini membagikan kiat-kiat penting agar nasabah terhindar dari aksi kejahatan siber yang kian canggih.
Hari Mulyana, Vice President Bank Mandiri Region II, menegaskan bahwa era digital membawa kemudahan sekaligus risiko. Ia menyoroti praktik pencurian data yang kerap bermula dari kelengahan nasabah dalam menjaga informasi sensitif. "PIN dan OTP adalah kunci utama rekening Anda. Jangan pernah membagikannya kepada siapa pun, termasuk yang mengaku petugas bank," ujarnya di sela-sela acara.
Senada dengan itu, Bagus Ardani Sutoyo, Regional CEO BNI Regional Office 003, menyoroti pentingnya kewaspadaan nasabah terhadap modus penipuan yang menyamar sebagai layanan resmi perbankan. Ia mengingatkan bahwa bank tidak akan pernah meminta data pribadi atau kode verifikasi melalui tautan yang tidak jelas. "Nasabah harus kritis terhadap setiap permintaan data, terutama yang datang melalui pesan singkat atau situs tidak resmi," imbuhnya.
Acara yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga refleksi atas meningkatnya ancaman siber di sektor keuangan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ribuan laporan penipuan online setiap tahunnya, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Fenomena ini menempatkan literasi keuangan digital sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap.
Bagi masyarakat Indonesia, imbauan ini relevan dengan kebiasaan bertransaksi yang kian bergantung pada ponsel. Mulai dari mobile banking hingga e-wallet, setiap transaksi menyisakan jejak digital yang bisa dieksploitasi. Para ahli menilai bahwa kombinasi faktor kelalaian pengguna dan modus kejahatan yang terus berevolusi menjadi celah utama pembobolan. Karena itu, edukasi berkelanjutan dan penguatan sistem keamanan internal bank menjadi keniscayaan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah perbankan mampu melindungi nasabah, melainkan sejauh mana kesadaran individu mau berperan aktif. Apakah masyarakat Indonesia siap beradaptasi dengan disiplin keamanan digital yang ketat, atau justru menunggu insiden berikutnya untuk belajar?



