Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan 209 Penerbangan, Penumpang Mengeluh Minim Informasi
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa penutupan sementara sejumlah bandara di Indonesia, memengaruhi 209 penerbangan dan membuat ratusan penumpang terlantar.
- AirNav memperpanjang penutupan Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 13.30 WIB, sementara bandara lain seperti Halim Perdanakusuma dan Radin Inten II juga terkena dampak.
- Penumpang mengkritik kurangnya informasi awal dari maskapai, sementara otoritas penerbangan menegaskan keselamatan sebagai prioritas utama dalam situasi darurat ini.

Gelombang abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) membuat operasional penerbangan di sejumlah bandara Indonesia lumpuh total, menelantarkan ratusan penumpang yang memadati terminal bandara utama. Lebih dari 200 jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan, memicu kemacetan panjang dan kekesalan calon penumpang yang merasa tidak mendapat informasi memadai.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang menjadi titik terparah, dengan penutupan operasional yang diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB melalui NOTAM A3346/26. Sementara itu, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, dan Bandara Budiarto RTO juga menghentikan aktivitas sementara, masing-masing dengan estimasi pembukaan yang berbeda. AirNav Indonesia, pengelola navigasi penerbangan, menyatakan pemantauan ruang udara dilakukan 24 jam melalui Indonesia Network Management Center (INMC) untuk merespons pergerakan abu yang dinamis.
Dampak langsung terlihat di area check-in Soekarno-Hatta, di mana sejumlah penumpang tampak tertidur karena kelelahan menunggu kepastian jadwal. Keluhan utama yang muncul adalah minimnya informasi awal dari maskapai. Ersy Laksita Rini, seorang penumpang berusia 55 tahun, mengungkapkan kekesalannya karena baru mengetahui penerbangannya dibatalkan setelah tiba di bandara. Ia menilai maskapai seharusnya proaktif menginformasikan pembatalan sejak dini agar penumpang tidak perlu bersusah payah datang ke bandara.
Kementerian Perhubungan mencatat total 209 penerbangan terdampak, termasuk sejumlah rute internasional. Penutupan ini merupakan langkah standar operasional untuk memastikan keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan mengganggu visibilitas. Meski demikian, koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan penumpang menjadi sorotan utama dalam situasi darurat seperti ini.
Bagi calon penumpang di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya memantau informasi resmi dari maskapai dan otoritas bandara sebelum berangkat. Maskapai diimbau untuk meningkatkan komunikasi dengan penumpang, terutama ketika terjadi perubahan jadwal mendadak. Sementara itu, AirNav menegaskan bahwa keselamatan penerbangan tidak dapat dikompromikan, dan setiap perubahan kondisi akan diinformasikan secara real-time.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah protokol komunikasi darurat antar maskapai dan penumpang perlu diperkuat, mengingat frekuensi erupsi gunung berapi di Indonesia yang cukup tinggi. Pengalaman ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi regulator dan industri penerbangan untuk menyusun standar penanganan yang lebih responsif, sehingga dampak terhadap penumpang dapat diminimalkan pada kejadian serupa di masa mendatang.



