Literasi Keuangan RI Tertinggal 24 Poin dari Inklusi, LPS: Edukasi Gen Z Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- LPS mencatat kesenjangan literasi-inklusi keuangan nasional masih 24 poin, mendorong edukasi massal seperti Lampung Financial Festival 2026.
- Pejabat Kemenkeu dan perbankan menyarankan SBN, emas, dan deposito sebagai instrumen aman, dengan kewaspadaan terhadap iming-iming bunga tinggi.
- Generasi muda diminta membangun rem finansial dan kebiasaan investasi sejak dini untuk mencapai kebebasan finansial di tengah godaan teknologi.

Bandar Lampung, 7 September 2026 โ Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar Lampung Financial Festival 2026 sebagai respons atas kesenjangan literasi keuangan nasional yang masih tertinggal 24 poin di bawah tingkat inklusi. Acara yang berlangsung di Novotel Bandar Lampung sejak Sabtu (5/9) ini menyasar pelajar dan mahasiswa, menyoroti urgensi pemahaman produk keuangan di tengah gejolak ekonomi global.
Berdasarkan survei terbaru OJK, LPS, dan BPS, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,6 persen, namun literasi keuangan baru berada di angka 69,6 persen. Angka ini mengindikasikan masyarakat luas telah memanfaatkan layanan keuangan, tetapi belum diimbangi pemahaman memadai tentang risiko dan mekanisme produk. Anggota Dewan Komisioner LPS Doddy Zulverdi menilai kolaborasi regulator dan industri menjadi prasyarat untuk menutup celah tersebut.
Dalam sesi edukasi, Doddy mengingatkan peserta tentang ciri bank sehat, salah satunya dari besaran suku bunga yang ditawarkan. Ia menegaskan bank yang menawarkan bunga jauh di atas tingkat penjaminan LPSโkini 3,75 persenโperlu diwaspadai karena berisiko. "Kalau ditawari bunga sangat tinggi, bandingkan dengan bunga penjaminan LPS. Bukan berarti tidak boleh menyimpan, tetapi dana tidak dijamin," ujarnya. Ia juga menyebut rasio likuiditas dan kredit bermasalah (NPL) sebagai indikator kesehatan bank.
Senada, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin merekomendasikan tiga instrumen aman bagi generasi muda: Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito. Menurutnya, SBN dijamin negara dan didukung peringkat investment grade Indonesia dari Standard & Poor's dengan outlook stabil. "Kalau ingin aman, bisa emas, SBN, atau deposito yang dijamin LPS," katanya. Sementara itu, Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia M. Rahmat menekankan fungsi emas sebagai aset safe haven yang melindungi nilai kekayaan dari inflasi, bukan sekadar alat investasi.
Para bankir yang hadir dalam panel "The Bankers: Young, Smart and Ready" menyoroti perilaku konsumtif generasi Z yang diperparah kemudahan transaksi digital. Direktur Finance and Strategy BRI Achmad Royadi menilai teknologi memudahkan pengeluaran, sehingga perlu diimbangi kebiasaan menabung dan investasi. "Seimbangkan kemudahan digital untuk membelanjakan uang dengan kemudahan untuk berinvestasi, menabung, bahkan asuransi," tegasnya. Ia mendorong anak muda menyisihkan penghasilan, sekecil apa pun, demi kebebasan finansial jangka panjang.
Senada, Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna mengibaratkan pengelolaan keuangan seperti kendaraan yang membutuhkan rem. "Kebiasaan finansial tanpa rem akan membahayakan," ujarnya. Anton juga mengingatkan agar generasi muda membangun kebiasaan investasi sejak dini dan mewaspadai tawaran keuntungan tidak wajar. "Tidak ada investasi yang menawarkan keuntungan setinggi langit," katanya. Sementara Regional CEO BNI Wilayah 03 Bagus Ardani Sutoyo menekankan pentingnya menyusun rencana keuangan dan menghindari belanja konsumtif yang tidak perlu.
Di sisi lain, Vice President Bank Mandiri Hari Mulyana mengingatkan tentang maraknya penipuan perbankan. Ia meminta nasabah tidak pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk pasangan sendiri, dan menjaga kerahasiaan tiga digit di belakang kartu kredit. "Kita yang mengelola risiko, kita yang mengendalikannya," paparnya.
Festival ini menjadi bagian dari upaya LPS menjangkau daerah di luar Jawa, mengingat literasi keuangan yang rendah berpotensi menghambat inklusi yang sudah tinggi. Pertanyaannya, akankah edukasi serupa digelar secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kelompok usia, atau hanya menjadi seremonial tahunan? Ke depan, efektivitas program ini akan terukur dari peningkatan indeks literasi yang saat ini masih jauh tertinggal.



