Erupsi Anak Krakatau: Mendagri Izinkan ASN Terdampak Kerja dari Rumah, Ini Skemanya
Baca dalam 60 detik
- Mendagri memberi kelonggaran bagi ASN di daerah terdampak abu vulkanik untuk bekerja dari rumah, dengan porsi hingga 80% bagi sektor non-esensial.
- Kebijakan ini menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu status darurat di sejumlah wilayah, dengan sektor layanan publik seperti kesehatan dan keamanan tetap beroperasi penuh.
- Pemerintah daerah diminta berkoordinasi dengan PVMBG, BMKG, dan BNPB untuk memantau perkembangan aktivitas gunung dan menyesuaikan kebijakan WFH secara dinamis.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan sinyal kuat bahwa aparatur sipil negara (ASN) di daerah yang dinyatakan darurat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat bekerja dari rumah (WFH). Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi melindungi kesehatan dan keselamatan pegawai pemerintahan di tengah ancaman abu vulkanik yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.
Dalam jumpa pers virtual yang disiarkan melalui kanal YouTube Bakom pada Minggu (6/9), Tito menegaskan bahwa pemberlakuan WFH bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Ia menyebut Kementerian Dalam Negeri terus berkomunikasi dengan pemerintah provinsi Banten, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Selatan untuk memastikan respons yang cepat dan tepat.
"Jika ada potensi yang membahayakan kesehatan dan keamanan, maka sektor layanan publik, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat dialihkan untuk mengurangi dampak," ujar Tito. Ia mencontohkan sektor transportasi dan sarana publik lainnya yang perlu diatur ulang demi keselamatan warga.
Kebijakan ini bukan tanpa batasan. Tito menegaskan bahwa sektor-sektor esensial seperti kesehatan, pemadam kebakaran, dan kelistrikan harus tetap berjalan normal. Sementara itu, untuk satuan kerja yang tidak terkait langsung dengan pelayanan publik, WFH dapat diterapkan hingga 75-80 persen. Skema 50 persen juga dimungkinkan bagi instansi yang masih membutuhkan kehadiran fisik sebagian pegawainya.
"Yang penting, layanan publik tetap berjalan, tetapi keselamatan ASN juga menjadi prioritas," kata Tito, menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara operasional pemerintahan dan mitigasi risiko.
Bagi masyarakat Indonesia, kebijakan ini memiliki dampak langsung pada kelancaran layanan administrasi publik. Di tengah kekhawatiran akan gangguan transportasi dan kesehatan, WFH menjadi solusi pragmatis yang pernah teruji saat pandemi Covid-19. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital di masing-masing daerah, yang masih timpang antara perkotaan dan pedesaan.
Tito juga mengingatkan para kepala daerah untuk terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui data resmi dari PVMBG, BMKG, dan BNPB. Ia menekankan bahwa komunikasi intensif diperlukan untuk menakar tingkat bahaya, baik dari sisi kesehatan masyarakat maupun kelancaran roda pemerintahan.
"Kita harus terus berkomunikasi untuk mengetahui seberapa rawan kondisi ini, sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan data," imbuhnya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa lama kebijakan WFH ini akan bertahan. Jika aktivitas vulkanik meningkat, bukan tidak mungkin status darurat diperpanjang, yang berimplikasi pada produktivitas birokrasi dan ekonomi lokal. Sebaliknya, jika kondisi membaik, pemda perlu segera menyusun rencana transisi kembali ke pola kerja normal tanpa mengabaikan protokol keselamatan.



