MPR Perluas LKBB-PB ke 38 Provinsi pada 2027, Nilai Kebangsaan Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Kompetisi baris-berbaris MPR tahun ini diikuti 30 provinsi, dengan rencana perluasan ke seluruh 38 provinsi pada edisi berikutnya.
- Penyelenggara menilai ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan wahana pembentukan karakter dan jejaring antarpelajar lintas daerah.
- Evaluasi teknis, termasuk durasi perlombaan yang padat, menjadi sorotan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tahun depan.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI berkomitmen memperluas jangkauan Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) hingga mencakup seluruh provinsi di Indonesia pada penyelenggaraan tahun depan, seiring dengan upaya menanamkan nilai kebangsaan di kalangan pelajar. Kompetisi yang baru saja menuntaskan edisi 2026 ini diikuti perwakilan dari 30 provinsi dan dinilai sebagai momentum strategis untuk membentuk karakter generasi muda.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, menegaskan bahwa ajang ini dirancang bukan semata untuk memperebutkan gelar juara. Menurut dia, partisipasi pelajar dari berbagai penjuru tanah air menjadi sarana untuk menginternalisasi Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—melalui aktivitas yang kreatif dan kompetitif. “Harapan saya, mereka datang ke Jakarta bukan hanya untuk menang, tetapi untuk menghayati nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (6/9).
Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela penutupan LKBB-PB tingkat nasional yang berlangsung di halaman Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (5/9). Siti mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis baris-berbaris, tetapi juga kreativitas dalam menyusun formasi yang kompleks tanpa meninggalkan kaidah tata upacara. Ia menilai kemampuan ini membuktikan bahwa LKBB-PB dapat menjadi media pembelajaran yang memadukan disiplin, kerja sama, dan inovasi.
Lebih jauh, Siti menyoroti aspek sosial dari kompetisi ini. Ia menyebut perjumpaan antarpelajar dari latar belakang daerah dan budaya yang berbeda dapat membangun jejaring pertemanan yang bermanfaat untuk masa depan. “Kedisiplinan dan interaksi dengan rekan dari 29 provinsi lain bisa menjadi modal kolaborasi lintas daerah,” kata dia. Ia berharap relasi yang terjalin tidak berhenti setelah acara usai, melainkan tumbuh menjadi persaudaraan yang memperkuat kohesi bangsa.
Namun, di balik keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, terdapat catatan evaluasi yang mengemuka. Siti mengakui durasi perlombaan yang dipadatkan dalam satu hari membuat para peserta menghadapi tantangan fisik yang berat. “Tahun ini sudah maksimal, tetapi ke depan mungkin waktunya bisa dibuat dua hari karena ini maraton sekali,” ungkapnya. Ia menilai perpanjangan durasi akan memberi ruang bagi peserta untuk menampilkan kemampuan terbaiknya serta memperoleh pengalaman yang lebih bermakna.
Komitmen untuk melanjutkan dan memperluas ajang ini datang langsung dari Ketua MPR RI, Ahmad Muzani. Siti menyambut baik rencana tersebut, seraya menekankan pentingnya peningkatan kualitas teknis agar pesan kebangsaan dapat tersampaikan secara lebih efektif. Ia juga mengingatkan bahwa para finalis adalah generasi muda terpilih dari daerahnya masing-masing, sehingga pengalaman mengikuti LKBB-PB diharapkan menjadi bekal kepemimpinan dan kecintaan terhadap tanah air.
Bagi masyarakat Indonesia, LKBB-PB bukan sekadar tontonan kompetisi pelajar. Di tengah diskursus tentang menurunnya rasa nasionalisme generasi Z, ajang ini menjadi salah satu instrumen konkret yang digunakan negara untuk mendekatkan simbol-simbol kebangsaan kepada kaum muda. Keberadaannya yang melibatkan sekolah-sekolah dari berbagai daerah juga berpotensi menjadi barometer partisipasi pemuda dalam kegiatan berbau kenegaraan—sebuah indikator yang kerap menjadi perhatian para pengamat pendidikan dan politik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah perluasan cakupan ke 38 provinsi akan diiringi dengan pemerataan kualitas pembinaan di daerah, atau justru hanya memperlebar kesenjangan antara sekolah yang memiliki fasilitas memadai dan yang tidak. Evaluasi terhadap durasi lomba juga membuka ruang diskusi tentang keseimbangan antara ambisi kompetisi dan kesejahteraan peserta. Semua itu akan menjadi pekerjaan rumah bagi MPR dan para pemangku kepentingan sebelum LKBB-PB 2027 digelar.



