Bandara Husein Sastranegara Tutup Empat Jam: 1.344 Penumpang Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Baca dalam 60 detik
- Bandara Bandung berhenti beroperasi sementara selama hampir empat jam pada Minggu siang menyusul penyebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
- Sebanyak delapan jadwal penerbangan, termasuk rute menuju Bali dan Balikpapan, dibatalkan akibat penutupan yang dipicu NOTAM terbaru.
- InJourney Airports mengaktifkan prosedur pemulihan layanan untuk menangani ribuan calon penumpang yang terdampak pembatalan mendadak.

Bandara Husein Sastranegara, Bandung, menghentikan seluruh operasi penerbangan selama nyaris empat jam pada Minggu (6/9/2026) setelah terdeteksi sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Penutupan yang berlaku sejak pukul 12.07 WIB hingga 16.00 WIB ini memicu pembatalan delapan jadwal dan mengguncang rencana perjalanan 1.344 penumpang yang hendak terbang dari dan menuju ibu kota Jawa Barat.
PT Angkasa Pura Indonesia, yang beroperasi dengan merek InJourney Airports, menyatakan langkah ini diambil berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) terbaru yang diterbitkan AirNav Indonesia. Status aerodrome closed diberlakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap bahaya abu vulkanik yang dapat mengganggu kinerja mesin pesawat serta visibilitas pilot. Keputusan ini, meskipun mengganggu mobilitas ribuan orang, dinilai sebagai protokol keselamatan yang tidak bisa ditawar.
Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan demi melindungi keselamatan penerbangan. "Sesuai NOTAM terbaru, Bandara Husein Sastranegara ditutup sementara demi keselamatan penerbangan. Kami mengimbau calon penumpang pesawat untuk memantau informasi mengenai penerbangan dan opsi lainnya dari maskapai," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (6/9/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa maskapai dan otoritas bandara menempatkan aspek keamanan sebagai prioritas utama di tengah dinamika aktivitas vulkanik yang sulit diprediksi.
Dampak paling terasa dialami rute-rute yang menghubungkan Bandung dengan destinasi wisata dan pusat ekonomi. Dari sisi kedatangan, dua penerbangan dari Bali batal mendarat, sementara satu penerbangan dari Balikpapan dan satu dari Surabaya juga ikut terdampak. Adapun untuk keberangkatan, dua jadwal menuju Surabaya dibatalkan, serta satu penerbangan masing-masing ke Bali dan Balikpapan terpaksa dihentikan. Pola ini memperlihatkan bahwa gangguan tidak hanya melumpuhkan lalu lintas udara domestik, tetapi juga berpotensi mengganggu arus logistik dan konektivitas bisnis antarpulau.
Menghadapi situasi ini, InJourney Airports langsung mengaktifkan prosedur Service Recovery Action (SRA) di Bandara Husein Sastranegara. Langkah tersebut mencakup penyediaan makanan dan minuman ringan bagi penumpang yang menunggu, serta pengerahan staf khusus untuk memberikan asistensi. "Pelayanan kepada penumpang terdampak menjadi prioritas InJourney Airports, untuk memastikan penumpang mendapat asistensi yang diperlukan dari bandara," kata Arie. Inisiatif ini menjadi ujian bagi manajemen bandara dalam menjaga reputasi layanan di tengah krisis yang tidak terduga.
Bagi calon penumpang yang sudah merencanakan perjalanan, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan transportasi udara di Indonesia terhadap fenomena alam. Wilayah yang berada di sekitar gunung berapi aktif, seperti Bandung yang berjarak relatif dekat dengan Anak Krakatau di Selat Sunda, harus selalu siap menghadapi kemungkinan penutupan mendadak. Maskapai penerbangan pun dituntut untuk responsif dalam memberikan opsi pengubahan jadwal atau pengembalian dana kepada penumpang yang haknya harus dilindungi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat aktivitas Anak Krakatau akan mereda dan apakah penutupan serupa akan kembali terjadi. Pengalaman hari ini menunjukkan bahwa koordinasi antara AirNav, InJourney Airports, dan maskapai berjalan sesuai protokol, tetapi ketidakpastian masih menyelimuti operasional bandara di kawasan rawan vulkanik. Apakah otoritas penerbangan akan menyusun rencana kontingensi yang lebih matang, termasuk jalur alternatif dan komunikasi yang lebih transparan kepada publik? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana industri penerbangan nasional mampu beradaptasi dengan ancaman alam yang datang tanpa peringatan.



