AS Hancurkan Tiga Kapal Tanker Iran, Garda Revolusi Balas Serang Drone di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- CENTCOM melumpuhkan tiga kapal pengangkut minyak milik IRGC di Teluk Oman dan sekitar Pulau Kharg sebagai balasan atas percobaan serangan rudal ke kapal perang AS.
- Iran mengklaim berhasil menyerang kapal induk, kapal perusak, dan drone laut AS di Selat Hormuz, sementara Washington membantah adanya kerusakan berarti.
- Eskalasi ini berpotensi mengganggu jalur pengiriman minyak dunia melalui Selat Hormuz, yang dapat memicu gejolak harga energi global dan berdampak pada Indonesia.

Washington menegaskan kembali dominasi militernya di Timur Tengah dengan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak yang diduga menjadi sumber pendanaan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Langkah ini merupakan respons langsung atas upaya Iran menembaki kapal-kapal perang Amerika di perairan Teluk, sebuah aksi yang oleh para analis dinilai sebagai babak baru dalam perang bayangan yang kian memanas di jalur energi paling vital dunia.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan resminya, Minggu (6/9/2026), mengungkapkan bahwa operasi penghancuran dilakukan pada Sabtu dini hari. Kapal-kapal yang menjadi sasaran adalah M/T Downy di lepas pantai Pulau Kharg, M/T Stark 1 di dekat Jask, serta M/T Kylo yang tengah kosong di Teluk Oman. Dua kapal pertama dilumpuhkan secara permanen, sementara kapal ketiga dihantam di beberapa titik vital hingga tak bisa beroperasi setelah awaknya diperintahkan meninggalkan kapal.
Video yang dirilis CENTCOM memperlihatkan ledakan besar dan kobaran api yang membubung tinggi, menegaskan betapa seriusnya operasi ini. Jaringan kapal yang dihancurkan tersebut, menurut CENTCOM, merupakan bagian dari "jaringan bayangan" senilai miliaran dolar yang selama ini mendanai operasi IRGC dan kelompok proksinya di kawasan. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, dengan tegas menyatakan bahwa setiap serangan terhadap kapal AS akan dibalas dengan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar.
Iran, melalui kantor berita IRNA, langsung membalas dengan klaim bahwa angkatan udaranya berhasil menyerang sebuah kapal induk dan kapal perusak Amerika menggunakan rudal balistik. Teheran juga mengaku telah menargetkan sebuah drone laut AS yang mencoba memasuki Selat Hormuz, beberapa jam setelah serangan balasan terhadap kapal-kapal tanker. Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh CENTCOM yang menyatakan kapal-kapal perangnya berhasil menghindari serangan dan tetap dalam kondisi aman.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita geopolitik dari belahan dunia lain. Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling sensitif bagi keamanan energi global. Ketegangan yang berlanjut di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok minyak mentah, yang pada akhirnya dapat menekan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia akan merasakan dampaknya melalui peningkatan beban subsidi energi dan potensi gejolak harga di pasar domestik.
Para pengamat militer menilai bahwa serangan balasan Iran yang menyasar drone laut AS merupakan sinyal bahwa Teheran berusaha menunjukkan kapabilitasnya tanpa harus terlibat dalam konfrontasi langsung yang lebih luas. Namun, langkah Washington yang secara terbuka menghancurkan aset ekonomi Iran menunjukkan bahwa kebijakan "tekanan maksimum" masih menjadi pegangan utama pemerintahan AS di bawah kepemimpinan saat ini.
"Jika kalian menembaki dua kapal kami, kami akan membebankan biaya ekonomi yang jauh lebih besarโdengan melumpuhkan tiga kapal kalian," ujar Laksamana Brad Cooper, menegaskan sikap AS yang tidak akan tinggal diam.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana Iran akan meningkatkan responsnya. Apakah Teheran akan beralih ke serangan siber atau memanfaatkan kelompok proksinya di Yaman dan Suriah untuk membalas? Atau justru memilih untuk meredakan ketegangan demi menghindari kerugian ekonomi yang lebih besar? Sementara itu, pasar minyak global akan terus memantau setiap perkembangan di Selat Hormuz, mengingat dampaknya yang langsung terasa di negara-negara konsumen seperti Indonesia.



