Infantino Pastikan Maju Lagi: Siapa Penantang Kursi Presiden FIFA 2027?
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino secara resmi mengonfirmasi pencalonan kembali untuk periode kepemimpinan berikutnya pada Maret mendatang.
- Langkah ini muncul setelah rencana kontroversial menjual saham kompetisi FIFA menuai protes global, termasuk ancaman boikot dari UEFA.
- Keputusan akhir akan ditentukan dalam Kongres FIFA 2027, dengan potensi dampak besar bagi regulasi sepak bola dunia, termasuk Indonesia.

Gianni Infantino memastikan dirinya akan kembali bertarung dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Konfirmasi ini sekaligus meredam spekulasi bahwa ia mungkin mundur setelah serangkaian tekanan internal dan eksternal yang menerpa organisasi sepak bola dunia tersebut.
Kepastian itu disampaikan langsung melalui pernyataan resmi FIFA, yang menegaskan bahwa niat Infantino untuk mencalonkan diri sebenarnya sudah diumumkan sejak April lalu. โTentu saja, tidak ada yang berubah. Tuan Infantino akan mencalonkan diri kembali,โ demikian bunyi pernyataan yang dirilis pekan ini. Dengan demikian, pria asal Swiss itu akan memasuki periode kampanye di tengah dinamika politik sepak bola global yang tengah memanas.
Langkah Infantino untuk maju kembali tidak lepas dari bayang-bayang rencana besarnya yang sempat memicu gelombang penolakan luas. Beberapa waktu lalu, ia mengusulkan penjualan sebagian hak komersial kompetisi FIFA kepada investor swasta. Rencana yang dinilai sangat menguntungkan secara finansial itu langsung menuai kecaman, terutama dari UEFA, yang bahkan mengancam akan memboikot seluruh turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia. Ancaman tersebut sempat membuat posisi Infantino goyah, namun akhirnya rencana itu dibatalkan.
Keputusan pembatalan tersebut dinilai banyak pengamat sebagai langkah taktis untuk meredam oposisi, sekaligus membuka jalan bagi pencalonan kembali yang lebih mulus. Namun, pertanyaan besar kini muncul: akankah ada penantang serius yang berani melawan dominasi Infantino? Hingga saat ini, belum ada figur kuat yang secara terbuka menyatakan diri sebagai calon lawan. Beberapa nama seperti mantan presiden UEFA, Aleksander Ceferin, sempat disebut-sebut, namun belum ada konfirmasi resmi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, konteks Indonesia menjadi relevan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap arah kebijakan FIFA. Di bawah kepemimpinan Infantino, FIFA memang telah meningkatkan investasi di kawasan Asia Tenggara, termasuk melalui program pengembangan infrastruktur dan pembinaan usia muda. Namun, kritik terhadap transparansi dan tata kelola FIFA tetap menjadi catatan, terutama setelah berbagai skandal korupsi yang melanda organisasi tersebut di masa lalu.
Para analis memperkirakan bahwa Infantino akan tetap menjadi kandidat terkuat, mengingat dukungan luas dari asosiasi sepak bola di Afrika, Asia, dan Oseania yang kerap diuntungkan oleh program solidaritas FIFA. Namun, tekanan dari Eropa dan Amerika Latin bisa menjadi batu sandungan. Pertanyaannya, apakah Infantino mampu merangkul kembali UEFA yang sempat berseteru, atau justru akan menghadapi kampanye hitam yang melemahkan posisinya?
Selain itu, isu transparansi keuangan dan reformasi tata kelola akan menjadi sorotan utama dalam masa kampanye. Publik dan media internasional akan mengawasi setiap langkah Infantino, terutama terkait komitmennya terhadap integritas sepak bola. Bagi Indonesia, hasil pemilihan ini akan menentukan arah kerja sama FIFA dengan PSSI, termasuk potensi pendanaan untuk pembinaan sepak bola nasional dan peluang menjadi tuan rumah turnamen internasional.
Dengan hanya beberapa bulan menuju Kongres FIFA, dinamika politik sepak bola global dipastikan semakin menarik untuk diikuti. Apakah Infantino akan kembali memimpin tanpa perlawanan berarti, atau justru muncul kejutan dari kandidat yang selama ini tidak terduga? Semua akan terjawab pada Maret 2027.



