USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand: Kunjungan Singkat di Tengah Sorotan Kondisi Kru
Baca dalam 60 detik
- Kapal induk AS USS Abraham Lincoln mengakhiri kunjungan pelabuhan pertamanya di Thailand setelah sembilan bulan bertugas, disambut harapan pemulihan ekonomi Pattaya.
- Kunjungan ini terjadi di tengah laporan tentang kondisi hidup kru yang memburuk, termasuk kekurangan makanan dan masalah kesehatan mental, yang memicu penyelidikan Kongres.
- Pihak berwenang Thailand memperketat keamanan dan menindak pekerja seks, sementara belanja awak kapal diperkirakan mencapai US$3 juta, memberikan suntikan ekonomi bagi kota wisata tersebut.

Ribuan pelaut Amerika Serikat yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya meninggalkan Thailand pada Minggu (6/9), menutup kunjungan pelabuhan pertama yang sarat harapan ekonomi namun juga dihantui sorotan tajam atas kondisi kehidupan kru setelah sembilan bulan berlayar. Kepergian mereka dari Pelabuhan Laem Chabang, dekat Pattaya, menandai berakhirnya masa istirahat singkat yang dinanti-nantikan oleh para pelaku usaha lokal di tengah lesunya pariwisata Thailand.
Kapal dengan sekitar 5.000 awak itu merapat di kawasan utara Pattaya pada Rabu lalu untuk menjalani lima hari pemulihan setelah penugasan panjang di Timur Tengah. Bagi Pattaya, kota yang terkenal dengan pantai dan kehidupan malamnya—sekaligus reputasi kelam sebagai pusat wisata seks—kehadiran para pelaut ini dianggap sebagai berkah di tengah musim sepi turis. Namun, di balik euforia tersebut, kunjungan ini juga memunculkan pertanyaan tentang kesiapan logistik dan kesejahteraan personel militer AS yang tengah ditempa oleh operasi militer yang berkepanjangan.
Otoritas setempat mengerahkan pengamanan ekstra selama kunjungan, termasuk penertiban terhadap pekerja seks di Pattaya, meskipun Wali Kota Poramase Ngampiches membantah langkah tersebut terkait langsung dengan kedatangan kapal. Kepala Polisi Pattaya, Anek Srathongyoo, menyatakan bahwa secara keseluruhan kunjungan berlangsung lancar tanpa insiden besar. "Semuanya berjalan baik. Tidak ada penangkapan atau pertengkaran, kecuali pada hari pertama ketika para pelaut AS terlibat argumen di antara mereka sendiri," ujarnya. Satu insiden kecil melibatkan dua pelaut yang dipulangkan ke kapal setelah terlibat perkelahian dalam keadaan mabuk di dekat Walking Street, pusat hiburan malam Pattaya, pada Kamis dini hari. Anek menyebut insiden itu sepele dan warga hanya melapor agar tidak meluas.
Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya kritik di dalam negeri AS terhadap kondisi kehidupan di kapal Lincoln. Sebelumnya, sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat menyerukan penyelidikan atas laporan kekurangan makanan, kerusakan fasilitas sanitasi, dan krisis kesehatan mental di kalangan awak. Presiden Donald Trump menepis kekhawatiran tersebut, yang menurut para kritikus justru memperkuat kecaman terhadap perang yang berkepanjangan di Iran. Meski demikian, Lincoln telah digantikan oleh USS George Washington di Timur Tengah, menandakan adanya penyesuaian operasional di tengah tekanan politik.
Bagi perekonomian Pattaya, suntikan dana segar dari para pelaut menjadi angin segar. Wali Kota Poramase memperkirakan belanja langsung awak kapal mencapai 100 juta baht (sekitar US$3 juta), belum termasuk pembelian perlengkapan kapal seperti pasta gigi yang bernilai jutaan baht. "Banyak pelaut dan marinir menghabiskan waktu untuk berbelanja dan mengunjungi tempat wisata. Ini menunjukkan mereka merindukan keluarga dan ingin membawa oleh-oleh," katanya. Namun, di balik angka tersebut, terdapat ironi: laporan media menyebutkan bahwa para awak sempat kekurangan kebutuhan dasar seperti pasta gigi, deodoran, dan sabun selama penugasan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang manajemen logistik militer AS yang dinilai kurang memadai untuk operasi jangka panjang.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategisnya di kawasan Indo-Pasifik. Kehadiran kapal induk AS di perairan Asia Tenggara kerap menjadi sinyal bagi keseimbangan kekuatan regional, terutama di tengah meningkatnya aktivitas Tiongkok di Laut China Selatan. Meski kunjungan Lincoln bersifat non-kombatan, dampak ekonomi dan politiknya dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara yang menjadi tuan rumah kunjungan militer asing. Pattaya, yang mengandalkan sektor pariwisata, berhasil memanfaatkan momen ini, tetapi juga harus mengelola risiko sosial dan keamanan yang menyertainya.
Ke depannya, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Angkatan Laut AS akan memperbaiki kondisi kesejahteraan awaknya agar insiden seperti kekurangan logistik tidak terulang. Apakah kunjungan pelabuhan seperti ini akan terus menjadi andalan ekonomi bagi kota-kota wisata di Asia, atau justru menjadi ajang kritik terhadap kebijakan militer yang dianggap mengabaikan kemanusiaan? Pattaya mungkin telah menuai keuntungan jangka pendek, tetapi bagi Washington, biaya politik dari penugasan yang berkepanjangan bisa jauh lebih mahal daripada sekadar dolar yang dibelanjakan para pelaut di toko suvenir.



