Jangan Menyapu Kering Abu Vulkanik: Ini Risiko Kesehatan dan Cara Aman Membersihkan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Menyapu kering abu vulkanik justru meningkatkan risiko partikel halus terhirup, memicu gangguan pernapasan hingga iritasi mata dan kulit.
- Pemprov DKI Jakarta dan BPBD mengimbau warga membasahi permukaan atau menggunakan kain lembap sebelum membersihkan, guna menekan debu beterbangan.
- Teknik pembersihan yang salah, seperti menyiram air berlebihan di atap, dapat membuat abu mengeras dan membebani struktur bangunan hingga berisiko ambruk.

Membersihkan rumah setelah hujan abu vulkanik bukan sekadar soal estetika, melainkan langkah krusial menjaga kesehatan. Menyapu permukaan yang tertutup abu secara langsung justru bisa menjadi bumerang: partikel halus yang beterbangan akan mudah terhirup dan berpotensi memicu gangguan saluran pernapasan. Karena itu, aparat penanggulangan bencana mengingatkan agar warga tidak terburu-buru menggunakan sapu kering.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat membasahi area yang terkena abu atau menggunakan kain lembap saat membersihkan. Imbauan ini disampaikan menyusul erupsi Gunung Krakatau yang kembali terjadi dan sempat membuat langit sejumlah wilayah di Banten serta Jakarta berubah kelabu. Dalam unggahan resminya, Pemprov DKI menegaskan bahwa metode penyapuan kering sebaiknya dihindari dan diganti dengan pembersihan perlahan menggunakan air secukupnya atau lap basah.
Anjuran tersebut bukan tanpa dasar ilmiah. Lembaga geologi Amerika Serikat (USGS) merekomendasikan pembasahan abu vulkanik dengan sedikit air, terutama untuk lapisan yang tipis. Cara ini efektif mencegah partikel abu terangkat ke udara. Jika dibiarkan beterbangan, abu vulkanik yang mengandung silika dan mineral tajam dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan berulang berisiko menimbulkan iritasi akut, memperburuk kondisi penderita asma, hingga gangguan pernapasan jangka panjang. Tak hanya itu, partikel yang mengenai mata bisa menyebabkan peradangan, sementara kontak langsung dengan kulit memicu iritasi dan alergi.
Meski membasahi abu dianjurkan, kewaspadaan tetap diperlukan agar tidak berlebihan. Menyiram abu dengan air dalam jumlah banyak justru akan membuatnya mengeras, mirip adonan semen yang sulit dibersihkan. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya ketika membersihkan atap rumah. Air yang terserap abu akan menambah bobot material di atas struktur bangunan. Jika akumulasi terlalu berat, bukan tidak mungkin atap mengalami tekanan berlebih dan akhirnya runtuh.
Oleh karena itu, metode yang lebih aman adalah membersihkan dengan air bercampur detergen atau menggunakan penyedot debu yang memiliki filter HEPA. Kain pel yang telah digunakan sebaiknya dibilas di bawah air mengalir sebelum dicuci kembali. Selain itu, warga diminta berhati-hati saat berjalan di permukaan yang telah dibasahi, karena lapisan abu basah membuat lantai menjadi sangat licin dan berisiko menyebabkan cedera.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026), menggarisbawahi tiga ancaman utama dari paparan abu vulkanik: gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kulit. Ia mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada dan mematuhi protokol kebersihan yang disarankan. "Tiga hal yang harus kita jaga bersama: pernapasan, mata, dan kulit," ujarnya.
Bagi warga di sekitar zona erupsi, langkah mitigasi sederhana ini menjadi penentu utama dalam mengurangi risiko kesehatan. Ke depan, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan Kementerian Kesehatan perlu diperkuat untuk menyosialisasikan teknik pembersihan yang benar hingga ke tingkat RW. Pertanyaannya, apakah imbauan ini akan diikuti dengan penyediaan alat pelindung diri yang memadai bagi warga yang rumahnya paling terdampak?



