Setelah 'Game of Thrones' Usai, Maisie Williams Akui Hidupnya Hancur: 'Paruh Pertama Usia 20-an adalah Neraka'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Maisie Williams mengungkapkan masa sulit setelah Game of Thrones berakhir, yang membuatnya kehilangan arah dan mengalami 'neraka' di usia 20-an.
- Ia mengaitkan fase kelam itu dengan tekanan industri, dampak pandemi, dan pergulatan pribadi yang tertunda sejak masa remaja.
- Kini, Williams mengaku menemukan kebahagiaan dengan memprioritaskan diri sendiri, menjalani hidup tenang, dan menjalin hubungan asmara yang baru.

Setelah hampir satu dekade memerankan Arya Stark dalam serial epik Game of Thrones, Maisie Williams mengakui bahwa dirinya sempat terpuruk dan merasakan apa yang ia sebut sebagai "neraka" selama paruh pertama usia 20-an. Kini di usia 29 tahun, aktris asal Inggris itu menceritakan bagaimana ia berhasil bangkit dan menemukan kembali kebahagiaan dalam hidupnya.
Williams pertama kali menginjakkan kaki di dunia akting saat usianya baru 13 tahun. Popularitas yang ia raih melalui Game of Thrones memang melambungkan namanya, tetapi di balik layar, ia harus berjuang menghadapi kecemasan akan masa depan setelah serial tersebut berakhir pada 2019. Dalam wawancara terbaru dengan The Guardian, ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak tahu harus berbuat apa setelah proyek besar itu usai, dan ia merasa sangat membutuhkan jeda.
Lebih jauh, Williams juga menyebut bahwa masa sulitnya diperparah oleh berbagai faktor, termasuk efek pandemi COVID-19, aksi mogok industri hiburan, serta pergulatan batin yang menurutnya merupakan "masa remaja yang tertunda". Ia merasa banyak hal yang seharusnya ia selesaikan lebih awal, tetapi baru bisa dihadapinya di usia 20-an. Kondisi ini diperumit oleh latar belakang keluarganya yang tidak mudahโorang tuanya bercerai saat ia masih bayi dan sang ayah tidak hadir dalam kehidupannya.
Namun, titik balik terjadi setelah tahun 2023. Williams, yang sebelumnya putus dari desainer mode Reuben Selby pada Februari 2023, mengaku mulai merasakan perubahan positif setiap harinya. Ia memutuskan untuk pindah dari London, tinggal sendirian, dan kembali dekat dengan anjing kesayangannya. "Saat itu, waktunya untuk... memilih diriku sendiri," ujarnya. Ia juga mengutip kata-kata aktris Kim Cattrall yang selalu ia ingat: "Aku tidak ingin berada di mana pun, bahkan selama satu jam, jika aku tidak menikmati diriku sendiri." Filosofi inilah yang kemudian menjadi pegangan hidupnya selama tiga tahun terakhir.
Keputusan untuk berhenti memaksakan diri membawa perubahan besar dalam rutinitas harian Williams. Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang menenangkan seperti membaca, menulis, berlatih yoga, berlari, berenang, dan berjalan-jalan bersama anjingnya. "Berjalan-jalan dengan anjing selama berjam-jam setiap hari," katanya. Baginya, kegiatan sederhana ini membantunya memahami apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup, baik itu berpesta bersama teman-teman sepanjang akhir pekan, menikmati makan malam di London hingga ketinggalan kereta terakhir, atau sekadar menonton film sendirian di bioskop.
Dalam hal percintaan, Williams mengaku sedang jatuh cinta dan merasa sangat bahagia, tetapi ia memilih untuk merahasiakan siapa kekasihnya. Saat ditanya apakah ia sedang bermain-main dengan banyak orang, ia menjawab tegas, "Tidak! Aku sedang jatuh cinta. Itu saja yang akan kukatakan." Ia juga menambahkan bahwa hubungannya kali ini terasa berbeda dari sebelumnya, dengan banyak tawa dan kebahagiaan.
Kisah Maisie Williams ini menjadi pengingat bahwa bahkan selebritas paling sukses pun bisa mengalami masa-masa kelam. Di Indonesia, fenomena serupa kerap dialami oleh para publik figur yang harus beradaptasi dengan perubahan karier yang drastis. Tekanan untuk terus tampil sempurna di depan publik sering kali berbenturan dengan kebutuhan pribadi untuk beristirahat dan menemukan jati diri. Para pengamat kesehatan mental menilai bahwa penting bagi siapa pun, termasuk selebritas, untuk berani mengambil jeda dan memprioritaskan kebahagiaan diri sendiri, sebagaimana yang dilakukan Williams.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren "quiet quitting" di kalangan selebritas akan semakin umum? Atau justru semakin banyak artis yang akan berbicara terbuka tentang perjuangan mental mereka, seperti yang dilakukan Williams? Yang jelas, keberaniannya untuk berbagi kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang berjuang menemukan cahaya di tengah kegelapan.



