Tragedi Miras Oplosan di India: 11 Tewas, Ratusan Warga Didesak Periksa Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas dan 35 lainnya dirawat setelah mengonsumsi minuman keras ilegal di distrik Sagar, Madhya Pradesh, India.
- Otoritas setempat telah menutup enam toko minuman keras dan mengerahkan tim medis untuk melakukan skrining massal di desa-desa terdampak.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya peredaran miras ilegal yang kerap menimbulkan korban jiwa, termasuk di Indonesia.

Ledakan kasus keracunan akibat minuman keras ilegal kembali mengguncang India. Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas dan sedikitnya 35 lainnya dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengonsumsi minuman keras oplosan di Distrik Sagar, Madhya Pradesh, pada akhir pekan ini. Peristiwa ini memicu penyelidikan intensif dan operasi skrining massal di sejumlah desa yang menjadi lokasi kejadian.
Menurut keterangan resmi, para korban mulai menunjukkan gejala sakit sejak Minggu pagi. Sebagian dari mereka yang dirawat dilaporkan dalam kondisi kritis dan telah dirujuk ke Bundelkhand Medical College serta Rumah Sakit Distrik Sagar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Petugas medis yang menangani pasien menemukan gejala khas seperti sianosis, yaitu perubahan warna kulit menjadi kebiruan, serta kekakuan otot yang mengindikasikan adanya zat beracun dalam minuman tersebut.
Distrik Collector Pratibha Pal mengonfirmasi bahwa tim medis telah dikerahkan ke desa Naura dan Ghugru untuk melakukan pemeriksaan terhadap warga yang mungkin telah mengonsumsi minuman keras terlarang. Ia mengimbau siapa pun yang dalam 24 hingga 48 jam terakhir mengonsumsi minuman beralkohol jenis apa pun atau mengalami gejala serupa untuk segera menjalani pemeriksaan medis. "Tim dokter dan tim SDM juga hadir di daerah sekitar, termasuk dua desa yang teridentifikasi, untuk melakukan skrining," ujarnya seperti dikutip IANS.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah setempat telah menutup setidaknya enam toko minuman keras di wilayah tersebut dan mengumpulkan sampel minuman yang diduga menjadi penyebab. Pejabat senior, termasuk Komisaris Sagar, Inspektur Jenderal, dan Kepala Polisi, telah mengunjungi desa Naura dan Ghugru Khurd untuk bertemu keluarga korban serta meninjau fasilitas perawatan. Dugaan sementara mengarah pada metanol yang kerap digunakan sebagai campuran minuman ilegal karena harganya murah, namun beracun dan dapat menyebabkan kebutaan hingga kematian.
Kasus miras oplosan seperti ini bukanlah hal baru di India. Setiap tahun, ratusan nyawa melayang akibat konsumsi minuman keras ilegal yang sering kali dicampur dengan metanol. Pada 2020, insiden serupa di negara bagian Punjab menewaskan lebih dari 120 orang. Pemerintah India sebenarnya telah memberlakukan regulasi ketat, namun praktik ilegal masih marak di daerah-daerah terpencil yang sulit diawasi. Kejadian di Sagar ini kembali menyoroti lemahnya penegakan hukum dan kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya minuman keras ilegal.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin yang relevan. Meskipun regulasi minuman keras di Indonesia cukup ketat, peredaran miras oplosan masih sering terjadi, terutama di daerah-daerah dengan akses terbatas terhadap minuman beralkohol legal. Kasus kematian akibat miras oplosan pernah terjadi di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat dan Sulawesi, yang menewaskan puluhan orang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah serupa tidak hanya terjadi di India, tetapi juga menjadi tantangan di Indonesia. Diperlukan pengawasan yang lebih ketat, edukasi publik tentang bahaya miras ilegal, serta penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku peredaran miras oplosan.
Penyelidikan di Sagar masih terus berlanjut. Pihak berwenang berjanji akan menindak tegas para pelaku yang bertanggung jawab atas peredaran minuman keras ilegal ini. Sementara itu, para korban yang masih dirawat terus mendapatkan perawatan intensif. Pertanyaannya, apakah kejadian ini akan menjadi momentum bagi pemerintah India untuk memperketat pengawasan dan memberantas peredaran miras ilegal secara lebih serius? Atau akankah tragedi serupa kembali terulang di masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, nyawa yang melayang adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah kelalaian.



