Ili Lewotolok Erupsi Beruntun, Kolom Abu Capai 600 Meter: Warga Diimbau Siaga
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Lembata, NTT, meningkat drastis dengan rentetan erupsi dalam dua hari terakhir.
- Letusan terkuat tercatat Minggu pagi dengan kolom abu setinggi 600 meter, mengarah ke tenggara dan terekam amplitudo seismik 40 mm.
- PVMBG merekomendasikan koordinasi ketat antara pemerintah daerah dan warga untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari erupsi yang masih berpotensi terjadi.

Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali memuntahkan material vulkanik dengan intensitas yang meningkat dalam 48 jam terakhir. Letusan terbesar terjadi Minggu (6/9/2026) pukul 06.41 WITA, menembakkan kolom abu setinggi 600 meter dari puncak—atau sekitar 2.023 meter di atas permukaan laut—menjadikannya erupsi paling signifikan dalam periode tersebut.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok, Khairul Imam Tarmizi, melaporkan bahwa abu vulkanik berwarna kelabu pekat bergerak ke arah tenggara dengan durasi 82 detik. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 40 milimeter, indikasi kekuatan erupsi yang tidak bisa dianggap enteng. Sebelumnya, pada pukul 06.11 WITA, letusan setinggi 400 meter sempat terjadi dengan abu yang tertiup ke barat selama 40 detik.
Rangkaian erupsi ini bukan kejadian tunggal. Sehari sebelumnya, Sabtu (5/9/2026), gunung yang berada di kawasan ring of fire ini meletus dua kali—masing-masing setinggi 500 meter dan 400 meter—dengan arah luncuran abu yang konsisten ke barat. Pola ini menunjukkan bahwa aktivitas magmatik di bawah permukaan sedang dalam fase aktif, yang menurut para ahli bisa berlangsung dalam siklus beberapa hari hingga pekan.
Bagi warga Lembata, terutama yang bermukim di lereng gunung, situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape. Langkah ini penting untuk memastikan setiap perubahan status gunung dapat direspons cepat, termasuk potensi hujan abu yang bisa mengganggu kesehatan dan aktivitas pertanian.
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan di sekitar kawah. Abu vulkanik yang terbawa angin berisiko mengganggu penerbangan di wilayah timur Indonesia, mengingat NTT menjadi jalur lalu lintas udara domestik yang cukup padat. Meski belum ada laporan penutupan bandara, otoritas penerbangan biasanya akan menyesuaikan rute jika sebaran abu meluas. Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke kawasan wisata alam di Lembata, disarankan untuk memantau informasi resmi dan menjauhi radius bahaya yang telah ditetapkan.
Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dan perikanan di pesisir perlu menyiapkan langkah antisipasi, seperti menyimpan air bersih dan masker untuk melindungi diri dari abu vulkanik. Pengalaman erupsi sebelumnya di gunung yang sama menunjukkan bahwa aktivitas semacam ini bisa mereda secara tiba-tiba, tetapi juga bisa meningkat tanpa peringatan panjang. Karena itu, kesiapsiagaan komunitas menjadi kunci utama.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah aktivitas ini akan berlanjut atau justru mereda dalam beberapa hari. PVMBG akan terus memantau perkembangan seismik dan visual, sementara warga diharapkan tidak mudah termakan isu yang tidak jelas sumbernya. Yang jelas, koordinasi yang baik antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat adalah tameng terbaik menghadapi ketidakpastian alam.



