Bruce Campbell Terima Prognosis Lima Tahun, Pilih Fokus pada Karya daripada Larut dalam Ketakutan
Baca dalam 60 detik
- Aktor Bruce Campbell mengungkapkan prognosis lima tahun akibat kanker yang dideritanya, namun memilih untuk tidak membiarkan penyakit itu menguasai hidupnya.
- Dalam wawancara terbaru, ia menegaskan akan terus berkarya dan mempromosikan film terbarunya sebagai bentuk perlawanan mental terhadap penyakit.
- Keputusan Campbell untuk menjalani hidup normal di tengah diagnosis memicu diskusi tentang pentingnya dukungan psikologis bagi pasien kanker di Indonesia.

Aktor Hollywood Bruce Campbell, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Ash Williams dalam serial horor Evil Dead, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia menerima prognosis lima tahun untuk hidup setelah didiagnosis mengidap kanker. Namun, di usianya yang ke-68, Campbell justru memilih sikap yang tidak biasa: ia bertekad untuk "hidup dengan penyakit itu, bukan mati karenanya." Pernyataan ini disampaikannya dalam podcast The Adam Carolla Show, dan langsung menjadi sorotan publik karena kejujurannya yang khas.
Campbell menjelaskan bahwa jenis kanker yang dideritanya saat ini dianggap "dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan." Meski demikian, ia enggan larut dalam detail medis yang justru bisa memicu kecemasan berlebih. "Lubang kelinci kanker itu sangat dalam," ujarnya. "Ada ribuan orang dengan kondisi yang sama, tapi saya tidak akan menyentuhnya." Sikap ini mencerminkan upayanya untuk menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian fisik.
Baginya, tantangan terbesar bukan hanya serangan fisik, melainkan juga beban psikologis yang menyertainya. "Kamu tidak mati karena kanker; kamu mati karena apa yang kanker lakukan padamu," katanya. Campbell mengakui bahwa diagnosis semacam ini kerap memicu badai emosi, terutama pada bulan-bulan awal. Namun, ia memilih untuk tidak berhenti berkarya. Saat ini, ia tengah fokus mempromosikan film terbarunya, Ernie and Emma, yang ia tulis, sutradarai, produksi, dan bintangi sendiri. "Saya punya film untuk dipromosikan. Saat itu, saya bebas dan jernih secara mental," tegasnya.
Keputusan Campbell untuk tetap produktif di tengah kondisi kesehatannya menawarkan pelajaran berharga, terutama di Indonesia, di mana stigma terhadap kanker dan penyakit kronis lainnya masih kerap menghambat pasien untuk menjalani hidup normal. Banyak pasien di Tanah Air yang justru menarik diri dari aktivitas sosial dan pekerjaan setelah diagnosis, karena takut dianggap lemah atau menjadi beban. Padahal, seperti yang dicontohkan Campbell, menjaga rutinitas dan tetap terlibat dalam aktivitas yang bermakna dapat menjadi bagian penting dari terapi mental.
Di Indonesia, isu kesehatan mental pasien kanker mulai mendapat perhatian serius. Menurut data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita kanker terus meningkat, namun dukungan psikososial masih terbatas. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Nurul Hartini, M.Psi., menilai bahwa sikap positif seperti yang ditunjukkan Campbell dapat membantu pasien menjalani pengobatan dengan lebih baik. "Pasien yang mampu menerima kondisinya dan tetap memiliki tujuan hidup cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki cara berbeda dalam menghadapi penyakit, dan dukungan keluarga serta tenaga medis tetap krusial.
Campbell sendiri mengaku bahwa diagnosis tersebut sempat mengejutkannya. Dalam unggahannya di X, ia menulis, "Halo semuanya, saat ini ketika seseorang memiliki masalah kesehatan, itu disebut 'kesempatan', jadi mari kita gunakan istilah itu—saya sedang mengalaminya." Ia juga meminta maaf jika kabar ini mengejutkan, karena memang demikian pula perasaannya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan penyakit ini menghentikan langkahnya. "Saya terus melangkah. Saya punya film untuk dipromosikan," katanya.
Pilihan Campbell untuk tetap berkarya di tengah prognosis yang berat memunculkan pertanyaan menarik: apakah ini bentuk penyangkalan atau justru strategi koping yang sehat? Para ahli berpendapat bahwa selama pasien tetap menjalani pengobatan medis yang direkomendasikan, menjaga produktivitas dapat menjadi mekanisme pertahanan yang positif. Namun, penting juga untuk tidak mengabaikan perawatan medis dan dukungan emosional yang dibutuhkan. Di Indonesia, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, kisah Campbell bisa menjadi pengingat bahwa diagnosis bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan yang bisa dijalani dengan bermartabat.



