Cyborg: Kemenangan atas Carano Lebih Berarti dari Gelar, Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Petarung MMA asal Brasil, Cris Cyborg, menilai laga bersejarahnya melawan Gina Carano pada 2009 sebagai pencapaian terbesar kariernya, melampaui sederet gelar juara dunia.
- Pertarungan tersebut menjadi momen penting yang membuka pintu bagi perempuan untuk berkarier di MMA, dengan tayangan perdana di televisi nasional AS dan durasi ronde yang lebih panjang.
- Di usia 41 tahun, Cyborg bersiap menghadapi laga terakhirnya di PFL melawan Ketlen Vieira, sambil mempertimbangkan masa depan di luar arena, termasuk menjadi dokter hewan.

Dua dekade berlalu sejak Cris Cyborg menghentikan Gina Carano di ronde pertama, namun petarung asal Brasil itu tetap menobatkan kemenangan pada 2009 sebagai momen paling membanggakan dalam kariernya. Bagi Cyborg, laga tersebut bukan sekadar merebut sabuk juara Strikeforce, melainkan sebuah pukulan telak terhadap tembok yang selama ini membatasi perempuan di dunia MMA.
Saat itu, pertarungan antara Cyborg dan Carano menjadi pertama kalinya laga perempuan menjadi laga utama sebuah acara besar yang disiarkan langsung di televisi nasional Amerika Serikat pada jam tayang utama. Lebih dari itu, laga ini juga mencatat sejarah sebagai pertarungan perempuan pertama yang menggunakan format lima ronde masing-masing lima menit, menggantikan standar tiga ronde tiga menit yang biasa berlaku.
Bagi Cyborg, momen tersebut adalah buah dari kerja keras dan keyakinan bahwa suatu saat perempuan akan mendapat kesempatan yang sama di atas oktagon. “Saya percaya banyak orang di seluruh dunia menonton pertarungan itu dan itu membuka banyak pintu,” ujarnya kepada BBC Sport. “Kami berlatih keras sambil berkata, suatu hari kesempatan itu akan datang dan kami akan siap menunjukkan bahwa perempuan bisa bertarung. Dan saya mendapat kesempatan untuk menunjukkan itu—bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk memberi peluang bagi perempuan lain.”
Kini, melihat perkembangan MMA yang semakin besar, Cyborg merasa bahagia karena mimpinya tidak hanya menjadi kenyataan bagi dirinya sendiri. “Saya tahu perempuan-perempuan sebelum saya tidak memiliki ini,” tambahnya. Kemenangan atas Carano yang berakhir dramatis dengan wasit menghentikan laga satu detik sebelum ronde pertama usai, juga mengubah julukan Cyborg di mata publik. “Orang-orang tidak lagi memanggil saya Cris Cyborg, mereka memanggil saya ‘mesin pembunuh’,” kenangnya. “Saya pikir mereka menyadari bahwa wanita dari Brasil itu berbahaya. Banyak yang mengira Gina akan menang, mereka tidak tahu siapa saya, dan itu menunjukkan bahwa saya di sini dan akan bertahan lama.”
- Cyborg telah memenangkan 29 dari 32 pertarungan profesionalnya.
- Ia memegang rekor sebagai perempuan dengan jumlah KO terbanyak (21), unggul delapan angka dari Amanda Nunes.
- Laga melawan Vieira akan menjadi penampilan ke-14 Cyborg dalam pertarungan perebutan gelar dunia, rekor terbanyak untuk kategori perempuan.
Setelah laga bersejarah itu, Cyborg terus mengukir prestasi di berbagai promosi besar seperti UFC, Bellator, dan PFL. Dalam 17 tahun terakhir, ia memenangkan 21 dari 22 pertarungan dan mengoleksi gelar juara dunia di berbagai kelas. Namun, di balik semua kesuksesan itu, Cyborg mengaku kunci umur panjangnya di MMA adalah kerendahan hati. “Saat Anda menjadi juara dalam waktu lama, Anda harus rendah hati karena kadang Anda berpikir Anda adalah juara dunia yang tahu segalanya,” katanya. “Saya selalu masuk ke dalam kandang dan gym dengan pikiran terbuka untuk belajar. Saya petarung yang lebih baik hari ini di usia 41 tahun dibandingkan saat usia 21.”
Sabtu ini di Tampa, Florida, Cyborg akan mempertahankan gelar PFL kelas bulu melawan rekan senegaranya, Ketlen Vieira. Laga ini menjadi pertarungan terakhir dalam kontraknya dengan PFL dan bagian dari rangkaian yang ia sebut “tur warisan”. Meski belum mengonfirmasi pensiun, Cyborg memberi isyarat bahwa ini bisa menjadi laga MMA terakhirnya. Ia juga mengungkapkan minat untuk fokus pada tinju profesional, di mana ia telah mengoleksi enam kemenangan.
Namun, ada kemungkinan Cyborg meninggalkan dunia tarung sepenuhnya. Ia mengaku bercita-cita menjadi dokter hewan, profesi yang sudah diimpikannya sejak kecil. “Ini adalah salah satu mimpi saya sejak kecil, dan saya mencintai binatang,” ujarnya. “Saya tidak melakukan ini hanya karena ingin terkenal atau uang. Menjadi dokter hewan adalah salah satu hal yang saya sukai karena saya mencintai binatang, saya punya passion.” Cyborg bahkan memelihara banyak hewan, mulai dari sapi, kuda, babi, hingga anjing, kucing, ikan, dan burung.
Keputusan Cyborg untuk pensiun atau beralih profesi tentu akan menjadi akhir dari sebuah era bagi MMA perempuan. Namun, warisannya sebagai pelopor yang membuka jalan bagi banyak petarung perempuan akan terus dikenang. Pertanyaannya, apakah generasi penerus bisa melanjutkan apa yang telah ia mulai?



