Duel Cyborg vs Vieira Batal Perebutkan Gelar: Lawan Gagal Timbang Berat Badan
Baca dalam 60 detik
- Lawan Cris Cyborg, Ketlen Vieira, gagal memenuhi batas berat badan kelas bulu, membuat laga utama PFL kehilangan status perebutan gelar.
- Vieira mengaku mengalami sakit ginjal dan perut yang parah, memaksanya berhenti menurunkan berat badan demi kesehatan.
- Pertarungan tetap berlangsung dengan kesepakatan catchweight, namun gelar juara dunia PFL tidak lagi dipertaruhkan.

Laga yang sempat diprediksi menjadi pertarungan perpisahan Cris Cyborg nyaris batal total. Penyebabnya, lawan sekaligus rekan senegaranya, Ketlen Vieira, gagal memenuhi batas berat badan dengan selisih hingga tujuh pon. Alhasil, duel yang dijadwalkan di Tampa, Florida, akhirnya tetap digelar dengan status catchweight, tetapi sabuk juara dunia kelas bulu PFL tidak lagi menjadi rebutan.
Vieira, petarung berusia 34 tahun yang sebelumnya berlaga di kelas bantam, mencatatkan berat 152 pon, jauh melampaui batas maksimal 145 pon. Situasi ini memaksa promotor dan tim kedua petarung berunding hingga larut malam untuk mencari solusi. Cyborg, yang sukses memenuhi limit, mengaku sempat berpikir pertarungan akan dibatalkan setelah mendengar kabar tersebut pada Jumat pagi.
Legenda MMA Brasil berusia 41 tahun itu menanggapi santai lewat media sosial dengan menuliskan "We don't care. Porrada" โ sebuah ungkapan khas Brasil yang bermakna semangat bertarung. Sikap ini menunjukkan bahwa baginya, melangkah ke oktagon lebih penting daripada sekadar memperebutkan gelar. Apalagi, laga ini disebut-sebut bisa menjadi penampilan terakhirnya setelah 21 tahun berkarier profesional dengan koleksi gelar di berbagai organisasi besar seperti Strikeforce, Bellator, UFC, dan PFL.
Di balik kegagalan timbang badan, Vieira buka suara soal kondisi kesehatannya. Kepada MMA Fighting, ia mengaku mengalami sakit parah di ginjal dan perut sejak malam sebelumnya. Pelatihnya, Andre Pederneiras, bahkan memilih untuk mendampinginya sepanjang malam sambil memijat punggungnya agar bisa tidur. Meski merasa sudah dalam jalur penurunan berat badan yang baik, episode sakit yang kambuh membuat timnya memutuskan untuk mengutamakan keselamatan.
Keputusan ini tentu mengecewakan banyak penggemar yang menantikan duel sengit dua petarung Brasil. Namun, dari sisi sportivitas, langkah Vieira patut dihargai. Ia rela kehilangan sebagian jatah honor demi memastikan laga tetap berjalan. Sementara itu, Cyborg menyatakan rasa syukurnya karena pertarungan tidak batal. "Saya senang bisa memenuhi berat badan. Saya sangat bahagia pertarungan ini tetap terjadi," ujarnya kepada ESPN Brasil.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, insiden ini kembali mengingatkan bahwa manajemen berat badan adalah salah satu aspek paling krusial dan rawan dalam olahraga tarung. Di kompetisi dalam negeri seperti One Pride, kasus serupa juga kerap terjadi dan berujung pada perubahan kelas atau batalnya laga. Regulasi yang ketat dan pengawasan medis yang lebih baik menjadi pelajaran penting agar kejadian serupa tidak merusak kredibilitas pertandingan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ini benar-benar laga pamungkas Cyborg. Jika ia menang dan memutuskan gantung sarung tangan, maka warisannya sebagai pelopor MMA wanita akan tetap dikenang. Namun, jika ia kalah atau laga berjalan anti-klimaks, publik mungkin akan mempertanyakan keputusan untuk tetap bertarung dalam kondisi yang tidak ideal. Satu hal yang pasti: duel ini akan menjadi catatan sejarah, baik sebagai akhir yang manis maupun sebagai pengingat akan kompleksitas olahraga yang penuh risiko ini.



