Anak Krakatau Muntahkan Lava Air Mancur: Dentuman Terdengar hingga Pos Pantau Pasauran
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas erupsi Anak Krakatau berlanjut dengan status Siaga Level III, disertai dentuman yang terdengar dari Pos Pantau Pasauran.
- Fenomena 'lava fountain' terpantau pada Minggu dini hari, menandakan suplai magma dari kedalaman masih kuat.
- Radius aman 3 kilometer dari kawah aktif berlaku; warga dan wisatawan diimbau tidak mendekat.

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan kegarangannya. Dentuman dan gemuruh terdengar hingga Pos Pantau Pasauran, menandakan erupsi tipe 'lava fountain' atau lava air mancur masih berlangsung hingga Minggu (6/9/2026) dini hari. Status gunung yang terletak di Selat Sunda ini masih berada di level III atau siaga, mengindikasikan potensi bahaya yang tidak bisa dianggap remeh.
Berdasarkan laporan terbaru dari situs Magma Kementerian ESDM, erupsi menerus ini telah berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Pada periode pengamatan pukul 18.00 hingga 24.00 WIB, petugas mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 70 milimeter. Suara dentuman yang terdengar dari pos pengamatan bukan sekadar gemuruh biasaโini adalah indikasi visual dan audio dari kolom lava yang menyembur ke permukaan, sebuah fenomena yang oleh para ahli disebut sebagai lava fountain.
Fenomena lava fountain pada Anak Krakatau bukanlah hal yang asing. Gunung yang lahir dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883 ini memang dikenal memiliki siklus erupsi yang aktif. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah intensitas dan durasi erupsi kali ini. Erupsi yang berlangsung selama lebih dari dua hari menunjukkan adanya suplai magma yang stabil dari perut bumi. Hal ini bisa menjadi pertanda bahwa aktivitas vulkanik akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, meski belum tentu berujung pada letusan eksplosif besar.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung, kabar ini tentu memicu kekhawatiran. Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan. Kondisi cuaca yang berawan hingga mendung dengan angin lemah ke arah utara dan barat laut membuat visual gunung tertutup kabut, namun aktivitas seismik masih terekam jelas. Suhu udara di sekitar lokasi berkisar 27,2 hingga 27,8 derajat Celsius dengan kelembapan 69 hingga 73 persenโkondisi yang relatif normal untuk kawasan tersebut.
Yang menjadi perhatian utama adalah potensi dampak dari erupsi ini terhadap aktivitas masyarakat. Imbauan resmi dari Kementerian ESDM jelas: masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Radius ini bukan tanpa alasan. Pada erupsi 2018 lalu, gelombang tsunami yang dipicu oleh longsoran material gunung ini menelan korban jiwa di sekitar Selat Sunda. Meski erupsi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda ke arah tersebut, kewaspadaan tetap harus dijaga.
Para ahli vulkanologi menilai bahwa erupsi tipe lava fountain biasanya tidak menghasilkan awan panas yang berbahaya seperti erupsi eksplosif. Namun, potensi bahaya lain seperti hujan abu dan lontaran material pijar tetap mengancam area di sekitar kawah. Oleh karena itu, koordinasi antara PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah setempat menjadi krusial untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat.
Melihat pola erupsi Anak Krakatau dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas semacam ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Pertanyaannya, apakah masyarakat pesisir sudah memiliki rencana evakuasi yang matang jika status dinaikkan ke level awas? Inilah yang perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya saat gunung sedang aktif, tetapi juga sebagai bagian dari mitigasi jangka panjang di kawasan rawan bencana.



