Asap Karhutla Kembali Selimuti Palembang, Jarak Pandang Menurun Drastis
Baca dalam 60 detik
- Kabut asap kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Palembang dan sejumlah wilayah Sumatera, menurunkan jarak pandang secara signifikan.
- Citra satelit Himawari-9 menunjukkan sebaran asap meluas hingga Kalimantan dan Papua Selatan, mengindikasikan karhutla yang belum terkendali.
- Fenomena ini berpotensi mengganggu aktivitas warga dan penerbangan, serta memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (5/9/2026), menurunkan jarak pandang hingga nyaris tak terlihat. Fenomena ini bukan sekadar gangguan visual; ia membawa ancaman serius bagi kesehatan warga dan aktivitas ekonomi di salah satu kota terbesar di Sumatera.
Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 10.00 WIB, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung. Tak berhenti di situ, asap juga menyelimuti sebagian Kalimantan dan bahkan Papua Selatan. Luasnya sebaran ini mengindikasikan bahwa titik api tidak hanya berkobar di Sumatera, tetapi juga di wilayah lain yang tengah memasuki puncak musim kemarau.
Di Palembang, kawasan Musi II menjadi salah satu area yang paling parah tertutup asap. Foto udara yang diabadikan ANTARA FOTO memperlihatkan permukiman, jalan raya, dan ruang terbuka hilang ditelan kabut pekat. Kondisi ini memaksa warga mengurangi aktivitas di luar rumah, sementara lalu lintas kendaraan berjalan lambat lantaran visibilitas yang minim. Sekolah-sekolah pun terpantau mulai meliburkan siswa, mengantisipasi dampak buruk polusi udara terhadap anak-anak.
Fenomena karhutla di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Setiap musim kemarau, sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan berulang kali dilanda kebakaran, baik yang dipicu faktor alam maupun ulah manusia. Namun, intensitas dan luas sebaran asap tahun ini kembali menyentuh level yang mengkhawatirkan. Data BMKG menunjukkan musim kemarau 2026 lebih kering dari biasanya akibat fenomena El Nino yang masih aktif, membuat lahan gambut yang kering mudah terbakar dan api sulit dipadamkan.
Bagi warga Palembang dan kota-kota terdampak lainnya, kabut asap bukan sekadar pemandangan suram. Partikel halus (PM2.5) yang terkandung dalam asap dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, dan memperparah penyakit kronis seperti asma dan bronkitis. Rumah sakit di sejumlah daerah mulai melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama anak-anak dan lansia. Pemerintah daerah pun diimbau untuk membagikan masker dan mengaktifkan kembali posko kesehatan darurat.
Dampak ekonomi juga tak bisa diabaikan. Kabut asap mengganggu operasional Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Sejumlah penerbangan dilaporkan tertunda atau dialihkan karena jarak pandang yang tidak memenuhi syarat keselamatan. Sektor pariwisata dan perikanan pun ikut terdampak; nelayan enggan melaut karena asap membatasi navigasi, sementara wisatawan menunda kunjungan ke destinasi ikonik seperti Jembatan Ampera.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengerahkan tim patroli darat dan udara untuk memadamkan titik api. Teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga disiagakan untuk menciptakan hujan buatan, meski efektivitasnya masih bergantung pada kondisi awan. Namun, upaya ini kerap terkendala oleh luasnya area terbakar dan sulitnya akses ke lokasi kebakaran di tengah gambut yang dalam.
"Penanganan karhutla harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, bukan hanya saat asap sudah pekat. Dibutuhkan komitmen semua pihak, termasuk perusahaan perkebunan yang kerap menjadi sumber api," ujar seorang analis lingkungan dari Universitas Sriwijaya yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah mampu memutus siklus tahunan karhutla ini. Perbaikan tata kelola lahan, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar lahan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi kunci. Tanpa langkah preventif yang serius, warga Palembang dan kota-kota lain di Sumatera akan terus menjadi sandera asap setiap musim kemarau tiba. Sudah saatnya Indonesia belajar dari pengalaman pahit tahun-tahun sebelumnya dan bertindak lebih cepat sebelum asap kembali menyesakkan dada.



