Roma Bangkit Dramatis di Menit Akhir, Atalanta Gigit Jari di Olimpico
Baca dalam 60 detik
- AS Roma membalikkan keadaan menjadi 2-1 atas Atalanta lewat dua gol di masa injury time, menjaga rekor sempurna mereka di Serie A.
- Gol penyeimbang Mario Hermoso dan gol kemenangan Matias Soulé memanfaatkan kelengahan pertahanan La Dea yang sempat unggul via Ederson.
- Kemenangan ini memperpanjang tren positif Roma dan memberi sinyal kuat dalam perburuan gelar, sekaligus mengakhiri dominasi Atalanta dalam duel terakhir.

AS Roma mencuri kemenangan dramatis 2-1 atas Atalanta di Stadio Olimpico, Minggu (25/8) malam WIB, lewat dua gol yang tercipta di masa injury time. Sempat tertinggal sejak awal babak kedua, tim asuhan Daniele De Rossi bangkit dan memanfaatkan kelengahan lawan untuk mempertahankan rekor sempurna mereka di Serie A musim ini.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Roma menunjukkan mentalitas juara yang selama ini menjadi kritik utama mereka. Sebelumnya, The Giallorossi selalu kesulitan menghadapi Atalanta; kemenangan terakhir mereka atas La Dea terjadi pada Maret 2022. Dalam delapan pertemuan terakhir, Roma hanya mampu bermain imbang dua kali dan kalah enam kali. Namun, kali ini segalanya berbeda.
Atalanta sendiri datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah memenangi dua laga awal dengan skor telak 4-0, berkat ketajaman Donyell Malen. Gian Piero Gasperini, yang pernah menukangi Roma, tentu ingin membuktikan kualitas timnya. Namun, cedera yang menimpa beberapa pemain kunci seperti Kamaldeen Sulemana dan Isak Hien membuat mereka kehilangan kedalaman skuad.
Babak pertama didominasi Roma. Mereka menciptakan sejumlah peluang, tetapi kiper Atalanta, Marco Carnesecchi, tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan penting. Gianluca Mancini nyaris membuka skor dengan sundulannya yang digagalkan Carnesecchi, sementara Bryan Cristante juga mengancam. Namun, penyelesaian akhir yang kurang klinis membuat Roma gagal memanfaatkan dominasi mereka.
Petaka datang di awal babak kedua. Charles De Ketelaere berhasil melewati kawalan Mario Hermoso dan memberikan umpan yang tidak bisa dibersihkan lini belakang Roma. Bola liar langsung disambar Ederson dengan tembakan keras dari jarak 14 yard. Gol tersebut menjadi gol pertama yang bersarang di gawang Roma musim ini, sekaligus mengejutkan publik Olimpico.
Tertinggal satu gol, Roma meningkatkan intensitas serangan. Manu Koné melepaskan tembakan keras yang masih bisa ditepis Carnesecchi. Nikola Krstovic nyaris menggandakan keunggulan Atalanta, tetapi sepakannya melenceng tipis dari gawang. Santiago Castro, yang masuk sebagai pemain pengganti, juga dua kali membentur tiang gawang. Tekanan demi tekanan dilancarkan, tetapi penyelesaian akhir masih menjadi masalah.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-90. Dari situasi sepak pojok, Matias Soulé mengirim umpan yang disambut sundulan Hermoso. Bola memantul ke tiang jauh dan masuk ke gawang. Stadion Olimpico bergemuruh. Semangat Roma membara, dan tiga menit kemudian, giliran Soulé yang menjadi pahlawan. Ia melewati Davide Zappacosta dan melepaskan tembakan rendah yang menembus celah sempit antara Carnesecchi dan tiang dekat. Gol itu memicu selebrasi liar para pemain dan suporter Roma.
Atalanta protes keras setelah peluit akhir, dan Gianluca Gaetano harus menerima kartu merah. Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi tim asuhan Gasperini yang sebelumnya tampil meyakinkan. Sementara bagi Roma, kemenangan ini menjadi pernyataan ambisi mereka untuk bersaing di papan atas.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini memberikan pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan mentalitas. Roma, yang sering dianggap kurang greget di menit-menit krusial, justru menunjukkan kebangkitan yang spektakuler. Pertanyaan besarnya, mampukah mereka mempertahankan performa ini sepanjang musim? Atau akankah ini hanya kilatan sesaat yang akan meredup seiring berjalannya kompetisi?



