Pembeli China Banjiri Properti Malaysia: Pelarian Modal atau Gaya Hidup?
Baca dalam 60 detik
- Minat pembeli China terhadap properti Malaysia mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade pada semester pertama 2026, menempatkan Malaysia di peringkat keempat destinasi global favorit.
- Pergeseran fundamental terjadi: dari spekulan offshore ke pembeli akhir yang kaya, didorong oleh krisis properti China dan pencarian gaya hidup serta pendidikan.
- Investasi China diperkirakan terus mengalir hingga akhir 2026, didukung program residensi MM2H yang kembali populer, dengan implikasi bagi pasar properti regional Asia Tenggara.

Lonjakan minat pembeli properti asal China terhadap pasar real estat Malaysia pada paruh pertama 2026 telah membawa negara tersebut ke peringkat keempat destinasi global paling diminati, sebuah pergeseran yang tidak hanya mengubah peta investasi regional tetapi juga mencerminkan perubahan strategi kalangan kaya China di tengah ketidakpastian domestik.
Berdasarkan data Juwai IQI, kelompok properti berbasis teknologi, pangsa Malaysia dalam total pertanyaan pembelian properti oleh warga China secara global melonjak dari 2,8 persen pada 2024 menjadi 4,5 persen pada 2025, dan mencapai 7,3 persen pada semester pertama 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang dekade terakhir. Posisi Malaysia kini hanya berada di bawah Thailand, Australia, dan Inggris, sekaligus melampaui Amerika Serikat yang turun ke peringkat kelima serta Yunani yang selama ini populer sebagai tujuan golden visa.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Di baliknya terdapat tekanan struktural yang melanda pasar properti China sejak 2021, ketika krisis likuiditas menghantam pengembang raksasa seperti Evergrande dan Country Garden. Harga properti di kota-kota besar China jatuh 8,57 persen secara tahunan pada 2024, sementara volume transaksi bangunan baru menyusut 14,1 persen. Bahkan, pada awal 2025, inventaris properti yang belum terjual mencapai 4.537,85 juta kaki persegi, tertinggi sejak 2018. Dengan pemulihan pasar domestik yang diperkirakan baru terjadi pada akhir 2026, para investor kaya China, termasuk high-net-worth individuals (HNWI) dan ultra-HNWI, aktif mencari alternatif investasi yang stabil di luar negeri.
Yang menarik, motivasi pembelian pun berubah drastis. Jika sebelumnya emigrasi menjadi tujuan utama 11 persen pembeli pada 2019, kini hanya 3 persen. Sebaliknya, pembelian yang didorong gaya hidup dan kebutuhan keluarga melonjak menjadi 94 persen. Para pembeli baru ini bukan lagi kelas menengah yang membeli unit off-plan, melainkan keluarga kaya yang mencari hunian pribadi di lingkungan dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan mumpuni. Mereka cenderung memilih kawasan seperti Mont Kiara dan Desa Park City di Kuala Lumpur, atau pengembangan premium di Pulau Pinang, yang dekat dengan sekolah internasional, pusat medis, dan pusat perbelanjaan.
Data National Property Information Centre (Napic) mengonfirmasi tren ini. Pada kuartal pertama 2026, segmen properti premium senilai RM1 juta ke atas menjadi satu-satunya kategori yang mencatat pertumbuhan transaksi positif, naik 1,8 persen secara tahunan. Pangsa properti premium pun meningkat menjadi 9,2 persen dari total transaksi residensial, dibandingkan 8,3 persen pada 2025 dan 7,9 persen pada 2024. Warga China daratan tercatat sebagai investor asing terbesar, dengan investasi RM835 juta dalam enam bulan pertama 2026, atau sekitar 51 persen dari total modal asing yang masuk ke perumahan Malaysia. Jika tahunan, aliran dana ini mencapai lebih dari RM1,6 miliar.
Kembalinya popularitas program Malaysia My Second Home (MM2H) turut memperkuat tren ini. Meski sempat dianggap meredup, penyesuaian skema dan penyederhanaan proses telah mendorong lonjakan persetujuan. Warga China kini mencakup lebih dari 50 persen aplikasi visa baru MM2H. Tahun lalu, program ini menyetujui 9.038 partisipan, menghasilkan nilai ekonomi sekitar RM3,875 miliar, termasuk RM1,512 miliar dari pembelian properti langsung. Dibandingkan periode 2021-2023, jumlah persetujuan tahunan kini meningkat 67 persen, menjadikan MM2H sebagai jalur residensi yang stabil bagi keluarga China.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran berharga. Pasar properti domestik yang masih bergantung pada pembeli lokal dan minim insentif bagi investor asing, seperti kebijakan kepemilikan yang ketat, justru berpotensi kehilangan minat kalangan HNWI China yang tengah mencari stabilitas. Di sisi lain, daya saing Indonesia dalam menarik investasi properti asing masih kalah dibanding Malaysia yang menawarkan program residensi jelas dan lingkungan ramah keluarga. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan serupa, seperti penyederhanaan perizinan atau skema visa jangka panjang, untuk memanfaatkan gelombang diversifikasi aset ini.
Ke depan, Juwai IQI memperkirakan momentum pembeli China akan berlanjut hingga paruh kedua 2026. Seperti diungkapkan CEO Juwai IQI Kashif Ansari, Malaysia menawarkan sekolah berkualitas, gaya hidup menarik, budaya yang ramah, serta jalur residensi yang dapat diprediksi melalui MM2H. Namun, pertanyaannya adalah apakah negara-negara tetangga seperti Indonesia akan mampu merespons tren ini dengan kebijakan yang adaptif, atau justru membiarkan peluang investasi besar berlalu begitu saja.



