Domino Kirke Akhirnya Bisa Berduka Setelah Keguguran Kedua: 'Saya Menangis di Kamar Mandi'
Baca dalam 60 detik
- Domino Kirke, istri Penn Badgley, mengaku baru bisa menangis berbulan-bulan setelah keguguran keduanya, saat mengajar pelatihan doula.
- Pengalaman ini menyoroti pentingnya dukungan emosional bagi tenaga kesehatan, terutama doula, yang sering mengabaikan kesedihan pribadi demi pekerjaan.
- Kisah ini membuka diskusi tentang kesehatan mental ibu dan kebutuhan akan ruang aman untuk berduka, relevan bagi perempuan Indonesia yang mengalami kehilangan serupa.

Domino Kirke, pendamping persalinan profesional sekaligus istri aktor Penn Badgley, mengungkapkan bahwa ia baru mampu menangis untuk pertama kalinya berbulan-bulan setelah menjalani prosedur pasca keguguran keduanya. Momen emosional itu justru terjadi saat ia sedang mengajar pelatihan doula, bukan di rumah sakit atau di rumahnya sendiri.
Dalam unggahan Instagram pada Jumat (4/9/2026), Kirke yang juga kakak dari aktris Jemima Kirke ini bercerita tentang pengalamannya yang kelam. Setelah menjalani prosedur dilatasi dan kuretase (D&C) yang menyakitkan, ia hanya beristirahat beberapa hari di rumah. Ia sempat bermain piano untuk menenangkan diri, lalu kembali mendampingi proses kelahiran klien hanya beberapa hari kemudian—masih dalam kondisi pendarahan.
Kirke, yang merupakan salah satu pendiri Carriage House Birth, sebuah organisasi yang mendukung ibu hamil, mengaku dulu menganggap meminta bantuan sebagai tanda kelemahan. "Saya pahlawan super yang merangkak di malam hari, mabuk oleh adrenalin kelahiran, menyelamatkan ibu dan bayi apa pun yang terjadi," tulisnya. Sikap itu, menurutnya, menelan biaya besar: ia mengalami penyakit autoimun, kehilangan pertemanan, dan merusak hubungan dengan suami serta anak-anaknya.
Pengakuan Kirke ini bukan sekadar curhat pribadi. Ia menyoroti budaya kerja di kalangan tenaga kesehatan, khususnya doula, yang sering menuntut pengabdian total tanpa ruang untuk berduka. "Saya tidak bisa bersama kesedihan saya," akunya. Baru ketika mengajar pelatihan doula berbulan-bulan kemudian, ia harus meminta diri ke kamar mandi untuk menangis tersedu-sedu—tangisan pertamanya sejak prosedur tersebut.
Kisah ini juga menguak dinamika rumah tangganya dengan Penn Badgley, bintang serial You. Sebelumnya, Badgley mengaku pasangan itu nyaris berpisah setelah keguguran kedua karena "gravitasi" kesedihan yang begitu berat. Dalam podcast Totally Booked with Zibby, ia menyebut momen itu sebagai titik balik terbesar dalam hidup mereka. "Kami hampir berpisah, tetapi tidak menyerah pada gravitasi itu," ujarnya. Kini mereka memiliki tiga anak kandung.
Konteks di Indonesia, kisah Kirke menyentuh isu yang jarang dibicarakan: kesehatan mental ibu yang mengalami keguguran. Di banyak budaya, termasuk Indonesia, keguguran sering dianggap tabu dan kesedihan ibu kerap tidak mendapatkan ruang yang layak. Padahal, dampak psikologisnya bisa berkepanjangan, terutama bagi mereka yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Para ahli kesehatan mental menilai bahwa pengakuan publik seperti yang dilakukan Kirke dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong perempuan untuk mencari dukungan. "Keguguran adalah kehilangan yang nyata, dan berduka adalah proses yang sah," kata seorang psikolog klinis yang menangani isu reproduksi. Ia menambahkan bahwa penting bagi tenaga kesehatan untuk memiliki sistem pendukung yang kuat agar tidak mengorbankan kesehatan mental mereka sendiri.
Ke depan, kisah Kirke mengundang pertanyaan: sudahkah institusi kesehatan di Indonesia menyediakan ruang aman bagi para pendamping persalinan dan ibu yang mengalami kehilangan? Ataukah kita masih membiarkan mereka menangis diam-diam di kamar mandi, seperti yang dialami Kirke? Ini saatnya untuk membuka percakapan yang lebih jujur tentang duka dan pemulihan.



