Kebakaran Tengah Malam di George Town Hanguskan Lima Ruko, Chew Jetty Selamat
Baca dalam 60 detik
- Lima bangunan komersial di Pengkalan Weld ludes dilalap api, namun kawasan warisan Chew Jetty yang berjarak kurang dari 20 meter tidak tersentuh.
- Operasi pemadaman melibatkan 168 personel gabungan dari tiga stasiun pemadam dan 18 brigade sukarelawan, dengan api baru dapat dijinakkan sekitar pukul 02.03 waktu setempat.
- Pemerintah negara bagian Penang berjanji mendampingi pemilik usaha dalam proses rekonstruksi, sembari menunggu hasil investigasi resmi penyebab kebakaran.

Lima bangunan komersial di kawasan Pengkalan Weld, George Town, hangus dilalap api pada Sabtu dini hari (5/9/2026). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.00 waktu setempat itu nyaris merembet ke Chew Jetty, permukiman warisan dengan rumah panggung kayu yang berjarak kurang dari 20 meter dari lokasi kebakaran.
Kebakaran menghanguskan sebuah bengkel mobil dan mebel, percetakan, serta toko barang bekas. Empat kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi turut menjadi abu. Belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan tidak sedikit mengingat banyaknya material mudah terbakar di bengkel dan toko mebel.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Penang menerima laporan pada pukul 01.08 dan pasukan tiba di lokasi tiga menit kemudian. Api berhasil dikendalikan pada pukul 02.03, tetapi upaya pendinginan masih berlanjut hingga pukul 10.30. Tumpukan kayu tebal di bengkel mebel menyembunyikan titik api yang masih aktif di bawah puing, sehingga alat berat dikerahkan pada siang hari untuk membongkar reruntuhan.
Operasi pemadaman melibatkan 25 personel dari tiga stasiun pemadam resmi dan 143 petugas sukarelawan dari 18 brigade, termasuk yang datang dari Valdor di seberang daratan. Koordinasi lintas wilayah ini menunjukkan kesiapsiagaan darurat Penang dalam menghadapi insiden di kawasan padat penduduk dan bernilai sejarah tinggi.
Kunjungan Menteri Besar Penang Chow Kon Yeow ke lokasi pada pagi harinya memastikan bahwa Chew Jettyโsalah satu destinasi wisata warisan utama George Town yang dihuni komunitas Tionghoa perantauan sejak abad ke-19โtidak tersentuh api. โKami bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,โ ujarnya kepada wartawan. Chow juga mengapresiasi respons cepat petugas pemadam yang mencegah api meluas ke kawasan permukiman kayu yang sangat rentan terbakar.
Chow menambahkan bahwa pemerintah negara bagian akan memberikan bantuan kepada pemilik usaha yang terkena dampak selama proses pembangunan kembali. Namun, bantuan tersebut menunggu hasil investigasi resmi penyebab kebakaran. Ia juga mengungkapkan bahwa bangunan-bangunan yang terbakar tersebut diyakini beroperasi di bawah Temporary Occupation Licence (TOL) atau perjanjian sewa lahan dengan Chief Minister Incorporated (CMI), sebuah badan investasi milik negara bagian.
โPemerintah negara bagian akan menindaklanjuti setelah bertemu dengan perwakilan pemilik usaha, dan akan memberikan bantuan selama proses rekonstruksi,โ kata Chow. Ia meyakini para operator yang terdampak berencana untuk membangun kembali bangunan mereka. Kehadiran sejumlah pejabat, termasuk anggota dewan eksekutif negara bagian Lim Siew Khim, serta anggota parlemen dan dewan setempat, menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap kelangsungan kawasan tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan warisan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, banyak permukiman padat dengan bangunan kayu tua yang memiliki risiko kebakaran tinggi. Kurangnya penerapan standar keselamatan kebakaran yang ketat, ditambah dengan akses jalan yang sempit, sering kali menjadi kendala dalam upaya pemadaman. Pelajaran dari Penang menunjukkan pentingnya respons cepat dan koordinasi antara pemadam resmi dan sukarelawan, serta perlunya audit keselamatan berkala untuk melindungi kawasan bersejarah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pemerintah daerah di Indonesia dapat mengadopsi langkah-langkah serupa untuk melindungi kawasan cagar budaya mereka. Apakah insiden ini akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap protokol kebakaran di permukiman padat dan situs warisan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi urgensi untuk bertindak kini semakin nyata.



