Pogacar Absen Hingga Akhir Musim: Cedera Leher dan Bahu Mengancam Dominasi Grand Tour
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar mengalami patah tulang selangka, gegar otak, dan retak leher saat memimpin Vuelta a Espana, memaksanya mundur dari sisa musim.
- Kecelakaan di etape kedelapan itu menggagalkan ambisinya menyapu bersih tiga Grand Tour dan mempertahankan gelar juara dunia.
- Kontrak barunya bersama UAE Team Emirates-XRG hingga 2032 menandakan komitmen jangka panjang, namun pemulihan tanpa target waktu menjadi prioritas.

Tadej Pogacar, lima kali juara Tour de France, harus mengakhiri musim lebih awal setelah mengalami patah tulang selangka, gegar otak, dan retak pada tulang leher dalam kecelakaan di Vuelta a Espana. Insiden yang terjadi pada etape kedelapan bulan lalu itu memaksanya melewatkan Kejuaraan Dunia di Montreal yang akan digelar akhir bulan ini, sekaligus mengubur mimpinya meraih tiga gelar Grand Tour dalam satu musim.
Pembalap Slovenia berusia 27 tahun itu terjatuh saat memimpin klasemen umum Vuelta, posisi yang sebelumnya ia kuasai dengan dominasi luar biasa. Timnya, UAE Team Emirates-XRG, mengonfirmasi bahwa Pogacar menjalani operasi untuk memperbaiki tulang selangka yang patah, sementara cedera lehernya disebut sebagai retak "stabil" yang tidak mengancam jiwa namun membutuhkan waktu pemulihan panjang. Selain itu, ia juga menderita gegar otak dan luka lecet di beberapa bagian tubuh.
Bagi penggemar balap sepeda, kehilangan Pogacar di panggung dunia adalah pukulan telak. Ia sebelumnya berhasil memenangkan Giro d'Italia dan Tour de France pada musim ini, dan Vuelta menjadi target terakhirnya untuk menyamai rekor langka yang hanya dicapai segelintir pembalap dalam sejarah. Kegagalannya di Vuelta tidak hanya menghentikan lajunya, tetapi juga membatalkan rencananya untuk membela gelar juara dunia di Montreal dan tampil di Kejuaraan Eropa di Ljubljana, kampung halamannya, serta Il Lombardia—balapan satu hari terakhir dalam kalender Monument.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis timnya, Pogacar mengakui kekecewaannya: "Tentu saja, ini bukan cara yang saya inginkan untuk mengakhiri musim. Saat ini, yang terpenting adalah pulih dengan baik dan memberi tubuh saya waktu yang dibutuhkan." Ia menambahkan bahwa musim ini penuh momen spesial dan ia bangga dengan pencapaian tim. Fokusnya kini adalah kembali sehat, mendukung rekan-rekan dari rumah, dan siap menghadapi tantangan tahun depan.
Keputusan untuk tidak balapan lagi hingga 2027—bukan 2026 seperti yang mungkin diperkirakan—menunjukkan pendekatan hati-hati tim terhadap pemulihan. Manajemen UAE Team Emirates-XRG menegaskan bahwa tidak ada batas waktu yang dipaksakan untuk kembali berkompetisi, sebuah sinyal bahwa kesehatan jangka panjang Pogacar lebih diutamakan daripada ambisi jangka pendek. Langkah ini juga diiringi kabar perpanjangan kontrak Pogacar hingga 2032, yang mengunci masa depannya di tim asal Uni Emirat Arab tersebut.
Bagi industri balap sepeda internasional, absennya Pogacar membuka peluang bagi pembalap lain untuk bersinar di ajang-ajang besar yang tersisa. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi atlet elite. Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI) sendiri tengah menguji coba pelacak GPS pada pembalap untuk meningkatkan keselamatan, sebuah langkah yang mendapat sorotan setelah serangkaian kecelakaan serius dalam beberapa tahun terakhir.
Di Indonesia, kabar ini mungkin tidak langsung berdampak pada kompetisi domestik, tetapi bagi penggemar yang mengikuti perkembangan balap Eropa, kehilangan Pogacar berarti kehilangan salah satu rival terkuat bagi pebalap Asia seperti mereka yang berkiprah di kancah internasional. Momentum ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen risiko dan pemulihan yang tepat, terutama bagi atlet muda yang bercita-cita menembus level tertinggi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Pogacar kembali dengan performa yang sama setelah menjalani masa pemulihan panjang? Sejarah menunjukkan banyak juara mampu bangkit dari cedera serius, tetapi tidak sedikit pula yang kehilangan keunggulan kompetitifnya. Dengan kontrak hingga 2032, UAE Team Emirates-XRG jelas berinvestasi pada masa depannya, namun hanya waktu yang bisa menjawab apakah ia akan kembali mendominasi seperti sebelumnya.



