Cegah Karhutla Meluas, Kemenhut dan BMKG Terjunkan Operasi Modifikasi Cuaca di Tiga Provinsi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menggelar hujan buatan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Timur mulai awal September untuk memadamkan kebakaran hutan yang mengancam pemukiman dan kawasan konservasi.
- Operasi ini memanfaatkan pesawat CASA dan analisis cuaca BMKG untuk menargetkan wilayah rawan, termasuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang tengah dilanda kebakaran.
- Keberhasilan langkah ini akan menjadi uji efektivitas teknologi modifikasi cuaca dalam mitigasi bencana di Indonesia, sekaligus menentukan kesiapan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.

Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menjinakkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Jawa Timur, dengan serangkaian penerbangan yang dijadwalkan mulai pekan pertama September 2026.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya titik api yang mengancam kawasan pemukiman dan taman nasional. Dirjen Penegakan Hukum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, mengonfirmasi bahwa pendanaan operasi ini berasal dari anggaran internal direktoratnya, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi darurat asap yang kerap melanda wilayah tersebut.
Operasi di Jawa Timur diarahkan untuk mendukung pemadaman di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Gunung Arjuno, dua area yang rawan terbakar saat musim kemarau. Sementara itu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi prioritas karena luasnya lahan gambut yang sulit dipadamkan tanpa intervensi hujan buatan.
Menurut Dwi, yang dikutip dari pernyataan resminya, tujuan utama operasi ini bukan sekadar menyelamatkan ekosistem hutan, tetapi juga melindungi masyarakat yang menggantungkan hidup pada lingkungan sekitar. "Setiap langkah pengendalian diarahkan untuk mengurangi dampak terhadap kesehatan, aktivitas sosial, pendidikan, dan perekonomian masyarakat," ujarnya, menegaskan bahwa bencana asap memiliki efek berantai yang luas.
Pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara asal. BMKG berperan penting dalam menentukan wilayah sasaran berdasarkan analisis meteorologi, potensi pertumbuhan awan, dan pemantauan tinggi muka air tanah. Data ini menjadi acuan untuk memastikan penyemaian garam ke awan tepat sasaran, sehingga hujan yang dihasilkan benar-benar efektif memadamkan api atau membasahi lahan gambut yang kering.
Keputusan untuk menggelar OMC di tiga provinsi sekaligus ini merupakan kelanjutan dari komitmen Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BNPB Suharyanto yang sebelumnya memastikan pesawat tetap disiagakan hingga 13 September. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah tidak hanya bereaksi terhadap kebakaran yang sudah terjadi, tetapi juga berupaya mencegah munculnya titik api baru dengan memanfaatkan setiap peluang hujan.
Bagi Indonesia, operasi ini memiliki arti strategis. Selain melindungi kesehatan jutaan warga yang rentan terhadap ISPA, keberhasilan OMC dapat menjadi preseden penting dalam pengelolaan bencana berbasis teknologi. Di tengah ancaman perubahan iklim yang membuat musim kemarau semakin ekstrem, kemampuan untuk memodifikasi cuaca menjadi alat yang semakin relevan.
Namun, efektivitas OMC masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Beberapa pihak menilai teknologi ini hanya solusi jangka pendek dan tidak mengatasi akar masalah, seperti praktik pembukaan lahan dengan membakar. Yang lain menyoroti biaya operasional yang tinggi, yang memerlukan alokasi anggaran besar setiap tahunnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah akan mengintegrasikan OMC ke dalam strategi permanen penanggulangan karhutla, atau hanya menggunakannya sebagai respons darurat. Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut, semua mata akan tertuju pada seberapa cepat hujan buatan ini mampu memadamkan api dan meredakan asap yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat Kalimantan dan Jawa Timur.



