Pasar Global Terbelah: Data Tenaga Kerja AS yang Solid Mendorong Imbal Hasil Obligasi, tapi Wall Street Justru Lesu
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan penambahan tenaga kerja AS di Agustus memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan dolar AS, namun indeks S&P 500 justru melemah.
- Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September naik menjadi 65%, dengan data inflasi CPI pekan depan menjadi penentu utama.
- Konflik AS-Iran yang memanas kembali menekan harga minyak, menambah kekhawatiran inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis Jumat lalu (4 September) menunjukkan arah yang bertolak belakang di pasar keuangan global: imbal hasil obligasi pemerintah dan nilai tukar dolar menguat, sementara indeks S&P 500 justru terpeleset tipis. Angka penambahan lapangan kerja di luar sektor pertanian yang melampaui ekspektasi analis ini kembali menghidupkan spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan 15โ16 September mendatang.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 162.000 pekerjaan baru pada Agustus, jauh di atas perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters yang hanya memproyeksikan 56.000. Angka Juli juga direvisi naik menjadi 21.000 dari sebelumnya yang dilaporkan turun 23.000. Dengan tingkat pengangguran yang tetap stabil, pasar membaca sinyal bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh untuk menyerap tenaga kerja, namun justru memperkuat argumen bahwa inflasi masih menjadi momok yang belum terkendali.
Reaksi pasar pun terlihat jelas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 1,21 basis poin ke level 4,774 persen, sementara imbal hasil tenor 2 tahun menyentuh titik tertinggi sejak Januari 2025. Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,19 persen ke level 53.587,65, dan S&P 500 turun tipis 0,08 persen ke 7.741,65. Nasdaq Composite justru mencatat kenaikan tipis 0,06 persen ke 26.601,08. Pasar saham Eropa yang diwakili STOXX 600 hanya naik 0,04 persen, sementara indeks global MSCI menguat 0,09 persen.
Analis investasi eToro untuk AS, Bret Kenwell, menilai bahwa di mata The Fed, pasar tenaga kerja masih kuat sehingga inflasi menjadi masalah yang lebih besar. Ia menekankan bahwa laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) pekan depan akan menjadi sorotan utama menjelang keputusan suku bunga di pertengahan September. Saat ini, kontrak berjangka suku bunga jangka pendek mengimplikasikan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 65 persen, meningkat dari 55 persen sebelum rilis data.
Sementara itu, harga minyak mentah justru tergelincir dari level tertingginya setelah sempat melonjak akibat serangan baru dalam perang AS-Iran pekan ini. Minyak mentah AS (WTI) turun 1,6 persen ke US$89,87 per barel, sementara Brent melemah 1,3 persen ke US$94,26 per barel. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa konflik geopolitik akan semakin menekan biaya energi dan memperumit upaya pengendalian inflasi.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat 0,2 persen terhadap sekeranjang mata uang utama. Yen Jepang sempat melemah 0,41 persen ke level 156,45 per dolar sebelum akhirnya mendatar. Emas sebagai aset safe haven ikut tertekan, turun 1,2 persen ke US$4.418,09 per ons, mencerminkan pergeseran preferensi investor ke aset berbunga di tengah ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi yang patut dicermati. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Bank Indonesia pun dihadapkan pada dilema: menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga, atau mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal. Keputusan The Fed pada pertemuan September nanti akan menjadi penentu arah kebijakan moneter di kawasan, termasuk Indonesia.
Dengan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, pasar akan kembali diuji. Apakah The Fed akan benar-benar menaikkan suku bunga atau memilih bertahan dengan nada dovish? Jawabannya tidak hanya akan menentukan arah pasar keuangan global, tetapi juga menjadi sinyal bagi bank sentral di negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam merespons gejolak eksternal yang masih belum mereda.



