Dolly Parton Dimakamkan Secara Tertutup: Permintaan Terakhir Sang Legenda Country
Baca dalam 60 detik
- Dolly Parton dimakamkan di Tennessee dalam upacara pribadi yang hanya dihadiri keluarga dekat, sesuai keinginannya.
- Sepupu Parton, Richie Owens, menegaskan bahwa prosesi tersebut bukanlah pemakaman formal, melainkan perpisahan singkat dan tenang.
- Parton ingin para penggemar mengalihkan dana karangan bunga untuk mendukung Imagination Library, program literasi anak yang ia dirikan.

Dolly Parton, ikon musik country yang namanya melegenda, kini telah beristirahat dengan tenang di Tennessee. Namun, prosesi penghormatan terakhir untuk perempuan 80 tahun itu berlangsung sangat berbeda dari gemerlap kariernya: hanya segelintir keluarga yang hadir, tanpa publikasi besar, dan berjalan singkat. Keputusan ini bukan tanpa alasan—ia memang menginginkannya demikian.
Richie Owens, sepupu Parton yang juga musisi, mengungkapkan bahwa apa yang terjadi bukanlah pemakaman dalam arti konvensional. "Kata 'pemakaman' terus disebut-sebut, tapi saya rasa itu bukan gambaran yang tepat," ujarnya dalam wawancara dengan NBC's Today. Owens menjelaskan bahwa Parton dimakamkan di samping suaminya, Carl Dean, di Woodlawn Memorial Park and Mausoleum, Nashville. Dean, yang mendampingi Parton selama hampir enam dekade, wafat pada Maret 2025.
Keinginan Parton untuk menjaga kerahasiaan prosesi ini sejalan dengan gaya hidupnya yang tertutup, terutama terkait masalah kesehatan. Ia diketahui dirawat di rumah sakit Nashville sebelum mengembuskan napas terakhir pada 25 Agustus akibat kanker. Kabar duka ini memicu gelombang belasungkawa global, bahkan Presiden Donald Trump memerintahkan bendera setengah tiang di gedung federal. Di London, pengawal kerajaan memainkan lagu klasiknya, "9 to 5", saat pergantian penjaga di Istana Buckingham—sebuah penghormatan yang jarang diberikan pada seniman non-Inggris.
Di balik kemegahan penghormatan global, Parton meninggalkan pesan yang sangat personal. Owens menuturkan bahwa Parton berulang kali menyampaikan keinginannya agar para pelayat tidak membuang uang untuk bunga. "Ia lebih senang jika Anda mengambil 50 dolar yang seharusnya untuk bunga, lalu memberikannya ke Imagination Library," kata Owens. Program yang didirikan Parton pada 1995 ini bertujuan menumbuhkan kecintaan membaca dengan membagikan buku gratis kepada anak-anak usia 0-5 tahun di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Irlandia.
Keputusan Parton untuk memilih kesederhanaan dalam kematiannya mencerminkan nilai-nilai yang ia junjung semasa hidup: fokus pada dampak sosial, bukan pada kemewahan. Di Indonesia, di mana industri hiburan sering kali identik dengan kemegahan, sikap Parton bisa menjadi refleksi. Apalagi, program literasi seperti Imagination Library sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia meningkatkan minat baca anak. Mungkin, para publik figur Tanah Air bisa meniru jejak Parton: meninggalkan warisan yang lebih bermakna daripada sekadar kenangan panggung.
Ke depan, publik mungkin bertanya: bagaimana warisan Parton akan terus hidup? Imagination Library yang ia banggakan tampaknya akan menjadi monumen abadi yang lebih kuat daripada batu nisan. Namun, di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang serba cepat, apakah para penggemar dan seniman lain akan benar-benar menangkap pesan bahwa kemewahan bukanlah satu-satunya cara untuk dikenang? Hanya waktu yang bisa membuktikan, tetapi satu hal pasti: Dolly Parton telah menulis babak akhir hidupnya dengan cara yang paling otentik—tenang, sederhana, dan penuh makna.



