Duplantis Mundur dari Final Diamond League, Persiapan Kejuaraan Dunia di Budapest Diragukan
Baca dalam 60 detik
- Atlet lompat galah Swedia, Mondo Duplantis, mundur dari Final Diamond League di Brussels karena cedera otot kaki.
- Kekhawatiran muncul menjelang World Athletics Ultimate Championships di Budapest yang menawarkan hadiah rekor $10 juta.
- Cedera yang sama memaksanya mundur di London pada Juli lalu, memicu pertanyaan tentang kesiapannya untuk ajang bergengsi tersebut.

Atlet lompat galah Swedia, Armand 'Mondo' Duplantis, memutuskan mundur dari Final Diamond League di Brussels pada Jumat (4/9) setelah mengalami ketegangan otot kaki. Langkah ini langsung memicu spekulasi mengenai kesiapannya menghadapi World Athletics Ultimate Championships yang akan digelar di Budapest pada 11-13 September mendatang.
Duplantis, yang memegang rekor dunia dan dua kali peraih emas Olimpiade, mengaku belum bisa memastikan partisipasinya di ajang tersebut. "Kita lihat saja apakah saya bisa tampil di Ultimate Championships. Saya belum punya jawabannya sekarang," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ini bukan kali pertama Duplantis mengalami masalah serupa. Pada Juli lalu, ia juga terpaksa mundur dari London Diamond League karena cedera yang sama. "Masalah di kaki ini dimulai di London. Sempat terasa baik dan saya banyak berlatih, tapi rasa sakitnya muncul lagi di Zurich pekan lalu," jelasnya.
Atlet berusia 25 tahun itu mengaku sempat memaksakan diri, namun akhirnya memilih mendengarkan tubuhnya. "Saya memaksakan diri, mungkin terlalu berlebihan. Saya sudah berkata, jika ada iritasi saat pemanasan, saya tidak akan melompat. Jadi, saya membuat keputusan sulit untuk tidak memulai," tambahnya.
Keputusan ini tentu menjadi pukulan berat bagi Duplantis yang tengah bersiap menghadapi kejuaraan perdana dengan total hadiah fantastis. World Athletics Ultimate Championships menawarkan dana hadiah mencapai US$10 juta, dengan juara individu berhak membawa pulang US$150.000โangka terbesar dalam sejarah atletik trek dan lapangan.
Bagi penggemar atletik Indonesia, kabar ini tentu mengecewakan. Duplantis adalah salah satu bintang global yang dinantikan aksinya, terutama setelah memecahkan rekor dunia beberapa kali. Kehadirannya di Budapest akan sangat menentukan daya tarik kejuaraan yang baru pertama kali digelar ini.
Duplantis sendiri mengakui situasi ini sangat sulit. "Hal terburuk adalah harus mundur dari kompetisi. Pikiran saya kemana-mana sekarang. Ini sangat sulit, tapi begitulah hidup atlet. Saya mencoba tetap tenang dan positif," tuturnya.
Para pengamat menilai keputusan ini menunjukkan kedewasaan Duplantis dalam mengelola kariernya. Daripada memaksakan diri dan berisiko cedera lebih parah, ia memilih beristirahat. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah ia pulih tepat waktu untuk tampil di Budapest?
Dengan waktu kurang dari seminggu menuju kejuaraan, tim medis Duplantis pasti bekerja ekstra keras untuk memulihkan kondisinya. Jika gagal tampil, ia akan kehilangan kesempatan meraih hadiah bersejarah tersebut. Namun, jika memaksakan diri, risikonya bisa lebih fatal bagi karier jangka panjangnya.
Keputusan Duplantis juga menjadi sorotan bagi para atlet Indonesia yang kerap menghadapi dilema serupa antara mengejar prestasi dan menjaga kondisi fisik. Ini menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah aset utama seorang atlet, dan keputusan untuk mundur bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi jangka panjang.
Kejuaraan Ultimate Championships sendiri dirancang sebagai ajang baru yang lebih eksklusif dengan format berbeda dari kejuaraan dunia biasa. Dengan hadiah yang menggiurkan, ajang ini diharapkan mampu menarik minat lebih banyak atlet dan penonton. Namun, tanpa partisipasi Duplantis, daya tariknya bisa berkurang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia mengenai status Duplantis. Yang jelas, dunia atletik menunggu dengan napas tertahan: mampukah Duplantis bangkit dan tampil di Budapest, atau akankah cedera ini menjadi penghalang terbesarnya?



