Jejak Digital Ungkap Habitat Asli Tarsius Filipina, Lebih Luas dari Perkiraan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru memperluas peta sebaran tarsius Filipina hingga 29 provinsi, dua kali lipat dari catatan resmi IUCN.
- Data dari 1.000 unggahan Facebook menjadi kunci pemetaan, menunjukkan potensi media sosial untuk riset konservasi.
- Temuan ini membuka peluang pengelolaan habitat baru, sekaligus menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal.

Penelitian terbaru dari University of the Philippines Diliman mengungkap bahwa tarsius Filipina, primata mungil dengan mata besar yang selama ini identik dengan Pulau Bohol, ternyata menghuni wilayah yang jauh lebih luas dari catatan resmi. Dengan memanfaatkan unggahan Facebook sebagai sumber data, para peneliti berhasil memetakan keberadaan spesies ini di 29 provinsi, lebih dari dua kali lipat dari 14 provinsi yang sebelumnya diakui oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Studi yang dipublikasikan belum lama ini menelusuri lebih dari 1.000 unggahan Facebook sejak 2006, yang memuat foto dan laporan penampakan tarsius. Pendekatan ini dipilih karena lebih dari 80 persen populasi Filipina menggunakan platform tersebut, menjadikannya gudang data partisipatif yang masif. Simeon Bejar, mahasiswa pascasarjana yang memimpin riset, menilai metode ini sangat relevan dengan kebiasaan digital masyarakat setempat. "Banyak warga Filipina yang aktif di Facebook, jadi ini cara yang tepat untuk mengumpulkan informasi," ujarnya.
Temuan ini tidak hanya memperluas peta sebaran, tetapi juga mengindikasikan adanya populasi padat di hutan Leyte Utara, yang sebelumnya luput dari perhatian. Bejar dan rekannya, Maria Tabeta, menduga kepadatan tarsius di kawasan itu bisa setara dengan populasi di kawasan lindung Bohol. Jika benar, maka upaya konservasi selama ini terlalu terfokus pada satu pulau, sementara habitat kritis lain diabaikan.
Namun, di balik kabar baik tersebut, studi ini juga membuka sisi gelap: banyak unggahan memperlihatkan tarsius yang dikurung dalam sangkar, diikat, bahkan sudah mati. Perdagangan ilegal untuk dijadikan hewan peliharaan memang menjadi ancaman utama, dan praktik ini tampaknya marak di daerah yang jauh dari pengawasan otoritas. "Beberapa foto menunjukkan tarsius di dalam kandang, yang jelas ilegal. Ada juga yang diikat, bahkan ada yang mati," ungkap Bejar. Hal ini menegaskan bahwa perlindungan hukum yang ada belum berjalan efektif di lapangan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dengan upaya konservasi primata endemik seperti tarsius Sulawesi (Tarsius tarsier) yang juga menghadapi tekanan serupa. Metode partisipatif berbasis media sosial dapat diadopsi untuk memetakan sebaran spesies langka di Indonesia, mengingat penetrasi Facebook yang juga tinggi. Kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan platform digital bisa menjadi alat baru dalam konservasi, sebagaimana ditunjukkan oleh riset di Filipina.
Ke depan, tim peneliti berencana memperluas studi dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa dan mencari pendanaan khusus. Mereka juga telah membuat halaman Facebook khusus untuk mengumpulkan lebih banyak laporan dari masyarakat. Pertanyaannya, apakah metode ini akan diadopsi oleh lembaga konservasi lain di Asia Tenggara? Jika ya, bukan tidak mungkin peta sebaran satwa liar akan semakin akurat, sekaligus membuka peluang perlindungan yang lebih tepat sasaran.



