Mary Earps Kembali ke WSL: Debut Kontra Manchester United Jadi Momen Emosional
Baca dalam 60 detik
- Kiper timnas Inggris, Mary Earps, siap memulai babak baru bersama London City Lionesses, dengan laga pembuka melawan mantan klubnya, Manchester United.
- Setelah dua musim di Paris Saint-Germain, Earps kembali ke Inggris dengan ambisi meraih gelar dan menikmati atmosfer kompetisi domestik yang ia rindukan.
- Kepindahan ini menandai perubahan besar di WSL, di mana London City Lionesses berusaha menjadi kekuatan baru dengan mendatangkan sejumlah nama besar.

Mary Earps, kiper andalan timnas Inggris, siap mengawali musim baru Women's Super League (WSL) dengan laga yang sarat emosi. Ia akan membela London City Lionesses melawan Manchester United, klub yang membesarkan namanya, pada Jumat (19:00 BST) dalam pertandingan pembuka musim. Bagi Earps, ini bukan sekadar laga biasa; ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa dirinya masih memiliki kualitas terbaik di usia 33 tahun.
Karier Earps di Manchester United selama lima musim (2019-2024) adalah periode emas. Ia mencatatkan lebih dari 100 penampilan, mempersembahkan trofi FA Cup perdana bagi klub pada 2024, dan menjadi pilar penting di balik kesuksesan Inggris menjuarai Euro 2022 serta melaju ke final Piala Dunia 2023. Pengakuan individu pun datang bertubi-tubi, termasuk gelar Kiper Terbaik FIFA dua kali dan BBC Sports Personality of the Year 2023. Namun, di balik gemerlap prestasi, Earps memilih hengkang ke Paris Saint-Germain (PSG) pada musim panas 2024 untuk mengejar mimpi bermain di Liga Champions dan mencari tantangan baru di luar Inggris.
Dua musim di PSG memberikan Earps pengalaman berharga, baik secara profesional maupun personal. Ia mengaku menikmati kehidupan di Paris, mulai dari atmosfer Parc des Princes hingga kuliner dan bahasa Prancis. Lebih dari itu, periode di Prancis memberinya ruang untuk refleksi, menjauh dari sorotan media Inggris yang kerap menekan. "Saya orang yang intens, terutama di lapangan. Jadi, berada jauh dari hiruk-pikuk Inggris memberi saya waktu untuk berpikir," ujarnya. Meski begitu, kerinduan pada atmosfer sepak bola Inggris tidak pernah padam. "Saya merindukan budaya sepak bola Inggris, sensasi saat memasuki stadion, dan energi penonton. Jarak memang membuat hati semakin dekat," tambah Earps.
Kepulangan Earps ke Inggris tidak hanya menjadi kabar baik bagi London City Lionesses, tetapi juga sinyal perubahan peta kekuatan di WSL. Klub yang berbasis di London ini sedang gencar membangun skuad impian dengan mendatangkan pemain-pemain bintang, termasuk pemenang Ballon d'Or dua kali, Alexia Putellas, dan bek timnas Spanyol, Mapi Leon. Kehadiran Earps di bawah mistar gawang melengkapi proyek ambisius klub yang menargetkan posisi papan atas. Namun, Earps sadar dirinya tidak akan langsung menjadi kiper utama. Ia harus bersaing dengan Elene Lete yang tampil impresif musim lalu. "Saya di sini untuk bekerja keras setiap hari dan berkontribusi pada kesuksesan tim," tegas Earps.
Keputusan Earps untuk bergabung dengan London City Lionesses juga menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski sepak bola wanita di Indonesia masih berkembang, kisah perjuangan dan profesionalisme Earps dapat menjadi inspirasi bagi atlet putri Tanah Air. Fenomena pemain top yang berani pindah liga demi tantangan baru, seperti yang dilakukan Earps dari United ke PSG lalu ke London City, menunjukkan bahwa kompetisi internal yang ketat adalah kunci kemajuan. Hal ini relevan dengan upaya PSSI dan klub-klub Indonesia untuk meningkatkan kualitas Liga 1 Putri, yang masih mencari format ideal dan dukungan finansial yang memadai.
Earps mengumumkan pensiun dari tim nasional Inggris pada 2025, namun ia menegaskan belum akan gantung sarung tangan di level klub. Dengan kontrak dua tahun di London City, ia optimistis masih bisa berkembang dan memberikan kontribusi signifikan. "Saya ingin terus bermain di level tertinggi dan memenangkan gelar selama mungkin. Saya percaya London City akan menjadi klub besar," ujarnya. Pertanyaannya, akankah Earps mampu mengulang kesuksesan seperti di United dan membawa London City bersaing dengan klub-klub papan atas WSL seperti Chelsea, Arsenal, dan Manchester City? Atau justru kehadirannya akan menjadi katalis bagi kebangkitan klub yang selama ini dianggap sebagai tim medioker?



