Lintasan RTS Johor-Singapura Rampung: Stasiun Woodlands North Selesai, Operasi 2027 Makin Dekat
Baca dalam 60 detik
- Stasiun bawah tanah Woodlands North yang menghubungkan Singapura dan Johor Baru telah resmi selesai dibangun, menandai tonggak penting proyek kereta cepat lintas batas tersebut.
- Dengan kapasitas hingga 10.000 penumpang per jam per arah, RTS Link diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas harian 40.000 orang, memangkas waktu tempuh menjadi sekitar lima menit.
- Keberhasilan integrasi teknis di sisi Singapura dan Malaysia membuka jalan bagi uji coba menyeluruh dan pengumuman tarif, yang akan menjadi penentu kelancaran operasional pada 2027.

Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) mengumumkan bahwa Stasiun Woodlands North, titik akhir jalur Rapid Transit System (RTS) Link yang menghubungkan Singapura dengan Johor Baru, telah rampung dibangun. Penyelesaian ini menjadi sinyal kuat bahwa proyek kereta lintas batas sepanjang empat kilometer itu akan beroperasi sesuai jadwal pada 2027.
RTS Link bukan sekadar proyek transportasi biasa. Ia adalah jembatan darat pertama yang menyatukan dua negara dalam satu sistem kereta komuter. Dengan waktu tempuh hanya sekitar lima menit dari Bukit Chagar di Johor Baru ke Woodlands North yang terintegrasi dengan jaringan MRT Singapura, koneksi ini bakal mengubah pola perjalanan puluhan ribu orang setiap hari. LTA memperkirakan jumlah penumpang harian mencapai 40.000 orang, dengan kapasitas puncak hingga 10.000 penumpang per jam di setiap arah.
Pembangunan stasiun bawah tanah sedalam 28 meter ini bukan tanpa tantangan. LTA mengungkapkan bahwa fondasi stasiun harus dibangun di tengah kondisi batuan keras yang ekstrem. Untuk meminimalkan getaran yang mengganggu penumpang di jalur MRT Thomson-East Coast (TEL) yang berada di atasnya, kontraktor menggunakan mesin bor berkapasitas tinggi dan melakukan lebih dari 600 kali peledakan batuan dalam jumlah kecil dan terkontrol, hanya dilakukan saat kereta meninggalkan stasiun.
Desain stasiun pun tidak luput dari perhatian. Area naik-turun penumpang mengusung tema alam khas Woodlands, dengan warna dan pola yang terinspirasi dari pepohonan. Di lantai dasar, terdapat karya seni yang melambangkan alam, sains, persahabatan, dan warisan budaya. Stasiun yang memiliki tiga lantai dengan dua tingkat basement ini juga dilengkapi jalur bawah tanah yang menghubungkan langsung ke gedung bea cukai, imigrasi, dan karantina, sehingga pemeriksaan keamanan dapat dilakukan sebelum penumpang menuju peron.
Di sisi Malaysia, Menteri Transportasi Anthony Loke pada Agustus lalu memastikan seluruh infrastruktur stasiun dan rel telah selesai. Kini, proyek tersebut tengah berada dalam tahap akhir uji integrasi antara kedua negara. Loke juga menyebutkan bahwa detail tarif dan tanggal peluncuran akan diumumkan bersama oleh kementerian transportasi Malaysia dan Singapura.
Bagi Indonesia, proyek RTS Link ini menjadi cermin bagaimana dua negara bertetangga dapat mengelola konektivitas lintas batas secara efisien. Keberhasilan integrasi teknis dan operasional antara Singapura dan Malaysia dapat menjadi referensi bagi upaya serupa di kawasan, termasuk rencana kereta cepat atau sistem transit lintas batas lainnya di Asia Tenggara. Selain itu, proyek ini juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Johor Baru dan Singapura, yang pada gilirannya dapat memberikan efek positif bagi dinamika perdagangan dan pariwisata regional yang melibatkan Indonesia.
Dengan selesainya stasiun di kedua sisi, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana tarif yang ditetapkan akan memengaruhi minat penumpang, dan apakah target 40.000 penumpang per hari akan tercapai segera setelah operasi dimulai. Uji coba integrasi yang sedang berlangsung akan menjadi penentu utama kelancaran layanan, dan publik tentu berharap tidak ada penundaan berarti yang menggeser jadwal operasional yang telah dinanti sejak lama.



