Natalie Imbruglia Hampir Tinggalkan Musik Akibat Perimenopause: 'Saya Tak Bisa Toleransi Kondisi Ini'
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Torn' itu mengaku nyaris berhenti dari industri musik karena gejala perimenopause yang memperparah ADHD dan OCD-nya.
- Terapi penggantian hormon dan konseling kognitif disebut menjadi penyelamat karier serta kesehatan mentalnya.
- Album terbarunya, 'Algorithm', mengangkat pengalaman pahit tersebut sebagai bentuk terapi dan edukasi publik.

Natalie Imbruglia, penyanyi pop berusia 51 tahun yang melejit lewat hit 'Torn', mengaku hampir mengakhiri karier musiknya setelah berjuang melawan gejala perimenopause yang memperburuk kondisi kesehatan mentalnya. Dalam wawancara dengan The Telegraph, ia mengungkapkan bahwa pada 2021, tepat sebelum naik panggung, ia sempat menyatakan ingin berhenti karena merasa tidak sanggup lagi menjalani profesi yang menuntut fokus dan energi ekstra.
Perimenopause, masa transisi menuju menopause yang biasanya terjadi pada usia 40-an akhir, membawa perubahan hormonal yang signifikan. Bagi Imbruglia, kondisi ini bukan sekadar gangguan fisik seperti hot flush atau siklus menstruasi tidak teratur, melainkan pemicu memburuknya attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan obsessive compulsive disorder (OCD) yang selama ini ia kelola. "Saya tidak bisa memproses informasi. Saya benar-benar tidak tahan berada dalam kondisi seperti ini," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya beban mental yang ia alami.
Keputusan untuk bertahan datang setelah ia menjalani terapi penggantian hormon (HRT) dan terapi perilaku kognitif (CBT). Kombinasi perawatan ini membantunya mengelola gejala dan kembali menemukan keseimbangan. Pengalaman kelam itu kemudian ia abadikan dalam album terbarunya bertajuk Algorithm, yang dirilis sebagai bentuk katarsis sekaligus upaya membuka dialog tentang isu yang kerap dianggap tabu, terutama di kalangan industri musik yang didominasi pria.
Menariknya, Imbruglia memilih untuk berbagi kisahnya secara terbuka dengan para kolaborator pria dalam proses penulisan lagu. Ia menceritakan bagaimana awalnya mereka terdiam, lalu ia justru mencairkan suasana dengan bertanya, "Kalian kan sudah menikah?" Momen tersebut menjadi pintu untuk membahas pengalaman emosional yang jarang diungkap wanita di depan pasangan atau rekan kerja. "Bahkan ada wanita lain yang menyuruhku diam saat aku membicarakan menopause di depan suami mereka saat jamuan makan malam. Tapi aku memang tipe orang yang selalu melakukan hal sebaliknya," kata Imbruglia.
Dalam wawancara sebelumnya dengan The Sunday Times, ia menyamakan perimenopause dengan proses berduka. "Saya sangat marah. Rasanya seperti jatuh dari tebing. Seolah-olah ada yang mengambil sebagian dari kepribadian saya," kenangnya. Perasaan kehilangan identitas ini diperparah oleh stigma yang masih melekat, meski ia mengakui bahwa percakapan tentang menopause kini mulai terbuka. Ia juga mengapresiasi kampanye yang digalakkan Davina McCall, yang membantunya memahami bahwa apa yang ia rasakan—kemarahan dan kecemasan—adalah bagian dari perubahan hormonal yang nyata.
Kisah Imbruglia menyoroti tantangan kesehatan reproduksi wanita yang sering terabaikan, terutama di industri hiburan yang menuntut performa prima. Di Indonesia, kesadaran tentang menopause dan perimenopause masih rendah. Banyak perempuan di usia 40-an mengalami gejala tanpa memahami penyebabnya, dan stigma untuk membicarakannya masih kuat, baik di lingkungan keluarga maupun profesional. Padahal, edukasi dan dukungan medis yang tepat dapat membantu perempuan tetap produktif dan sehat secara mental.
Langkah Imbruglia untuk berbicara terbuka diharapkan menginspirasi banyak perempuan, termasuk di Indonesia, untuk tidak ragu mencari bantuan medis dan dukungan psikologis. Pertanyaannya, akankah industri musik dan media di tanah air mulai memberi ruang lebih besar bagi perempuan untuk berbagi pengalaman serupa tanpa takut dihakimi? Atau justru kisah ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental perempuan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas?



